Share
Go Live
Betrayal's Sweetest Lie
·
Published 10/4/2026
Aku suka cara William menggenggam tanganku. Pelan, hati-hati, seolah tulang-tulang kecil di jemariku terbuat dari kaca. Dia selalu begitu. Selalu lembut, selalu penuh perhitungan, selalu memastikan aku nyaman dulu sebelum dia bergerak.
"Makan dulu, Sayang," katanya sambil menyodorkan sendok ke mulutku. Kami sedang di kafe dekat kampus, tempat biasa kami menghabiskan waktu senggang. Dia memesan nasi goreng, aku memesan mie ayam. Sudah tiga kali dia menyuapiku, dan belum sekali pun aku menyuapinya balik.
"Aku bisa makan sendiri, Will."
"Tapi aku mau nyuapin kamu."
Matanya bulat, cokelat hangat, seperti anak anjing yang baru belajar duduk. Aku tertawa kecil dan membuka mulut. Nasi goreng itu pedas, tapi tidak sepedas yang dia kira. Dia selalu lupa kalau aku tahan pedas.
William ini pacarku. Umur sembilan belas, setahun lebih muda dari aku. Kuliah di jurusan desain komunikasi visual, jago gambar, jago bikin poster, jago bikin aku lupa waktu kalau kami sedang berdua. Kami sudah pacaran sebelas bulan. Sebelas bulan yang isinya penuh "Sayang" dan "Cinta" dan "Kamu nggak apa-apa?" dan "Aku di sini kok."
Dia tipe laki-laki yang mengirim pesan selamat pagi jam enam tepat. Tipe yang mengingat tanggal jadian sampai ke hari. Tipe yang menangis kalau aku bilang aku capek dan ingin sendiri. Bukan karena dia cengeng. Dia cuma terlalu takut kehilangan.
"Sayang," katanya lagi, "nanti malam jadi nonton?"
"Jadi."
"Di rumah kamu atau rumah aku?"
"Rumah aku. Mama lagi ke luar kota."
Dia tersenyum. Senyum yang membuat lesung pipinya muncul, yang membuat aku ingin menciumnya di tempat umum dan tidak peduli siapa yang melihat. Tapi aku tahan. Aku selalu bisa menahan diri di depan orang banyak.
Ponselku bergetar di meja. Nama Zidan muncul di layar. Aku menelungkupkan ponsel itu sebelum William sempat melihat.
"Siapa?" tanya William.
"Grup tugas. Nanti aja."
Dia mengangguk, percaya sepenuhnya. Itu salah satu hal yang paling aku suka dari William. Dia tidak pernah curiga. Tidak pernah bertanya dua kali. Tidak pernah memeriksa ponselku diam-diam. Dia percaya aku sepenuhnya, dan aku memanfaatkan kepercayaan itu lebih dari yang seharusnya.
Zidan mengirim tiga pesan sekaligus.
"Zu, nanti jadi?"
"Jangan bilang batal lagi bjir"
"Aku udah di tempat biasa"
Aku mengetik balasan di bawah meja. "Jadi. Jam 3."
"Jangan telat ya anjir"
"Aman bapak"
Zidan kupanggil Abang atau Jidan. Kami kenal sejak SMA, tapi baru dekat setahun terakhir. Dia dua tahun di atasku, sudah kerja di sebuah agensi event organizer. Badannya tinggi, tegap, dan dia punya cara bicara yang membuat orang merasa harus menurut. Bukan karena dia galak. Justru karena dia tenang. Terlalu tenang.
Avel berbeda. Avel kupanggil Bapak, kadang cuma Avel. Kami sekelas di beberapa mata kuliah pilihan. Umurnya sama denganku, dua puluh. Dia tipe yang bicara seperlunya, tapi matanya selalu bilang banyak hal. Dia yang pertama kali menyadari aku tidak bahagia. Dia yang pertama kali bertanya, "Lu yakin sama William?"
Waktu itu aku ketawa. "Yakin lah bjir, dia baik banget."
Avel cuma mengangguk. Tidak memaksa. Tidak menghakimi. Dia cuma bilang, "Kalau lu butuh apa-apa, bilang aja."
Dan aku butuh. Aku butuh banyak hal yang tidak bisa William berikan.
William selesai makan dan mengelap tanganku dengan tisu. Satu per satu jari. Pelan. Dia tersenyum lagi. "Sayang, kamu cantik banget hari ini."
"Aku cantik tiap hari."
"Iya. Tapi hari ini beda."
Aku tersenyum balik, dan di dalam kepalaku, aku menghitung jam. Sekarang jam satu. Dua jam lagi. Aku harus pulang dulu, ganti baju, bilang ke William aku ada kelas tambahan atau rapat organisasi. Dia akan percaya. Dia selalu percaya.
Kami keluar dari kafe. William menggandeng tanganku sepanjang trotoar. Matahari siang menyengat, tapi tangannya hangat dengan cara yang berbeda. Dia mencium keningku di depan gerbang kampus, di depan semua orang, tanpa malu.
"Hati-hati ya, Sayang."
"Iya, kamu juga."
Aku menunggu sampai dia benar-benar hilang di balik gedung fakultas. Lalu aku berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan.
Tempat biasa itu adalah kafe kecil di lantai dua ruko, tempat yang tidak pernah dikunjungi mahasiswa desain komunikasi visual. Tempat yang tidak akan pernah William temukan. Zidan sudah duduk di sudut, dua gelas kopi di meja, satu untukku.
"Telat," katanya tanpa menoleh.
"Lima menit doang bjir."
"Lima menit itu lama kalau gue udah nunggu."
Aku duduk di seberangnya. Dia menatapku lama, seperti biasanya. Zidan punya cara menatap yang membuat aku merasa sedang dihakimi dan diinginkan pada saat yang sama. Matanya hitam, tajam, dan dia tidak pernah tersenyum dulu sebelum aku yang tersenyum.
"Ketemu William tadi?" tanyanya.
"Ketemu. Dia nyuapin gue."
Zidan tertawa. Pendek, sinis. "Dia nyuapin lu, terus lu ke sini buat ketemu gue."
"Jangan mulai."
"Gue nggak mulai apa-apa, Zu. Gue cuma ngomong fakta."
Aku menyeruput kopiku. Pahit. Tanpa gula, seperti yang dia tahu aku suka. Dia ingat hal-hal kecil tentangku dengan cara yang tidak pernah dilakukan William. William ingat tanggal jadian. Zidan ingat cara aku minum kopi.
"Jadi," kata Zidan, mencondongkan tubuh ke depan, "hari ini lu mau ngapain?"
Aku menatapnya. Aku tahu pertanyaan itu bukan pertanyaan. Dia cuma memberi aku ruang untuk memutuskan, dan dia tahu aku sudah memutuskan sebelum aku datang ke sini.
"Terserah Abang."
Zidan tersenyum. Seringai yang membuat perutku mengejang. Dia meraih tanganku di atas meja, dan genggamannya tidak lembut. Kuat. Menekan. Seperti orang yang tahu dia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau.
Ponselku bergetar lagi. William.
"Sayang, kamu udah di kelas?"
Aku menatap layar itu selama tiga detik. Lalu aku membalikkan ponselku, menghadap ke bawah, dan membiarkannya bergetar sampai berhenti.
Zidan melihat semuanya. Dia tidak berkomentar. Dia cuma mengangkat alis, dan aku tahu apa artinya. Dia tahu aku sudah memilih. Dia tahu aku memilihnya, hari ini, sekarang, meskipun nanti aku akan pulang ke William dan bilang aku mencintainya.
"Jidan," kataku pelan.
"Iya?"
"Jangan bikin gue nyesel."
Dia tertawa lagi, dan kali ini dia menarik tanganku sampai aku setengah berdiri dari kursi. Wajah kami dekat. Kopi di napasnya, dan sesuatu yang lebih gelap di matanya.
"Lu nggak akan nyesel, Zu," bisiknya. "Lu cuma akan bingung kenapa lu nggak ngelakuin ini dari dulu."
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar terlalu cepat. Di luar, matahari masih tinggi, dan William mungkin sedang menggambar sesuatu di kelasnya, sesuatu yang indah, sesuatu yang dia akan tunjukkan padaku nanti malam dengan mata berbinar.
Aku tidak tahu bahwa malam ini aku akan berbohong lagi. Aku tidak tahu bahwa kebohongan ini akan jadi yang pertama dari banyak kebohongan lain. Yang aku tahu cuma ini: tangan Zidan di tanganku, dan rasa bersalah yang anehnya terasa seperti kebebasan.
"Yuk," katanya, berdiri, menarikku.
"Ke mana?"
"Ke tempat yang lu tahu."
Aku mengikutinya. Seperti biasa. Dan di belakangku, ponselku bergetar lagi. William, lagi. Mungkin dia mengirim stiker lucu. Mungkin dia mengirim "Aku kangen." Mungkin dia mengirim "Semangat ya Sayang."
Aku tidak membalikkan badan.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]