Share
Go Live
Candu Si Gila
·
Published 9/15/2026Aku ingat betul debu terminal Terboyo yang menempel di kulit. Panas Semarang menyambut seperti tamparan basah, lengket di setiap pori. Koper kecilku berat, berisi baju dan beberapa buku yang mungkin tak akan kubaca lagi. Aku baru delapan belas tahun, baru lepas dari seragam SMA, dan seluruh dunia terbentang di depan. Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Keramaian terminal memuakkan. Orang berlalu lalang, supir angkot berteriak menawarkan tumpangan, bau asap dan gorengan bercampur jadi satu. Aku berdiri di pinggir trotoar, mencoba mengingat nomor telepon kos yang akan kutempati. Ponselku mati, baterai habis di perjalanan. Sial.
Lalu aku melihatnya.
Dia duduk di dekat tiang beton yang retak. Pakaiannya, atau apa yang tersisa dari pakaiannya, adalah compang-camping yang pernah berwarna entah apa. Kemeja lusuh tanpa kancing, celana yang sobek di lutut dan pangkal paha. Kulitnya hitam legam oleh kotoran dan terik matahari. Rambutnya gimbal, kusut, menutupi setengah wajah. Dia tidak bergerak, hanya duduk dengan kaki terbuka lebar, dagu menempel di dada.
Orang gila. Itu kata pertama yang melintas di kepalaku. Mungkin juga pemabuk atau pecandu. Aku mendekat, bukan karena berani, tapi karena satu-satunya bangku kosong di terminal itu ada di sampingnya. Kakiku pegal, koper terasa seperti batu bata.
Aku duduk di ujung bangku, menjaga jarak seaman mungkin. Aroma yang keluar dari tubuhnya membuat hidungku perih. Bau keringat berhari-hari, bau kencing, bau tanah basah yang difermentasi panas. Aku menoleh, setengah mengharap dia tak akan peduli.
Dia mendongak.
Matanya. Itu yang pertama kulihat. Matanya tidak kosong seperti yang kukira. Ada sesuatu di sana, bukan kegilaan, tapi semacam kelaparan yang tenang. Dia menatapku, lalu matanya jatuh ke dadaku. Ke kemeja tipis yang kubeli di pasar, yang menempel di keringat. Aku ingin berdiri, pergi, mencari tempat lain. Tapi tubuhku tidak bergerak.
“Mau ke mana, Neng?” suaranya parau, seperti suara orang yang sudah lama tidak bicara.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, merasakan sesuatu yang aneh merayap di perutku. Bukan takut. Bukan jijik. Sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap.
Dia tersenyum. Giginya kuning, beberapa ompong. Tapi senyum itu tidak mengancam. Anehnya, itu hampir hangat.
“Baru sampai ya? Dari mana?”
“Dari Purwokerto,” jawabku akhirnya. Suaraku bergetar.
Dia mengangguk, lalu tangannya bergerak. Bukan ke arahku, tapi ke selangkangannya. Dia membuka celananya yang sobek itu, tanpa malu, tanpa ragu. Dan aku melihatnya.
Kontolnya. Besar, gelap, berdiri tegak di antara paha kotornya. Kulitnya hitam, urat-urat menonjol seperti akar pohon tua. Kepalanya merah gelap, mengkilat oleh sesuatu. Aku terpaku. Napasku terhenti. Aku seharusnya berteriak, lari, memanggil polisi. Tapi aku hanya duduk di sana, menatap.
Tangannya mulai bergerak. Perlahan, naik turun. Dia tidak menatapku lagi, hanya menunduk, melihat tangannya sendiri bekerja. Napasnya mulai berat.
“Neng mau lihat?” tanyanya, masih tanpa menatapku.
Aku tidak bisa menjawab. Mulutku kering. Jantungku berdebar di tenggorokan. Tapi aku tidak berpaling. Aku terus menatap, terhipnotis oleh gerakan itu, oleh kenyataan bahwa benda itu ada di depanku, nyata, kotor, dan entah kenapa, menggairahkan.
Aku merasakan sesuatu di antara kakiku. Basah. Hangat. Aku menyempitkan paha, mencoba menahan, tapi tubuhku sudah berbicara lebih dulu. Seluruh logika, seluruh moralitas yang diajarkan ibu dan guru ngajiku, semuanya lenyap dalam sekejap.
Dia mendesah, suara rendah dari dadanya. “Dekat sini, Neng. Coba pegang.”
Aku berdiri. Bukan untuk pergi. Aku berjalan mendekat, langkahku gemetar. Aku berjongkok di depannya, lututku menyentuh lantai terminal yang kotor. Bau tubuhnya semakin kuat, tapi kini tidak lagi membuatku mual. Anehnya, itu mulai terasa akrab.
Tanganku terulur. Ujung jariku menyentuh batangnya. Panas. Sangat panas. Kulitnya kasar, berpasir oleh kotoran. Tapi di bawah kotoran itu, ada denyut. Hidup. Aku menggenggamnya, dan dia mendesah lagi, lebih dalam.
Dia meletakkan tangannya di atas tanganku, membimbingku. Gerakan naik turun. Aku mengikuti, canggung pada awalnya, lalu semakin percaya diri. Aku bisa merasakan setiap urat, setiap tonjolan. Ukurannya membuat tanganku terasa kecil.
“Lebih cepat,” bisiknya.
Aku menurut. Tanganku bergerak lebih cepat, lebih keras. Aku melihat cairan bening keluar dari ujungnya, melumasi gerakanku. Aku menjilat bibirku, napasku pendek-pendek.
Dia meraih kepalaku. Tangannya yang kotor menarik rambutku, memaksaku menunduk lebih rendah. Aku tidak melawan. Aku membuka mulut, dan dia mendorong kepalaku ke bawah.
Bau itu. Bau kencing, bau keringat, bau tanah. Tapi di balik semua itu, ada bau lain. Bau pria. Bau liar. Aku membuka bibirku, lidahku menyentuh ujungnya. Asin. Sedikit pahit. Tapi aku tidak berhenti.
Aku memasukkan sebanyak yang bisa kutampung. Terasa sesak, hampir muntah, tapi aku bertahan. Tangannya di kepalaku menekan, mendorong lebih dalam. Aku merasakan tenggorokanku terbuka, menerima. Air mataku mengalir, bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Sesuatu yang hancur di dalam diriku, dan sesuatu yang lahir.
Dia mendorongku mundur, menarik rambutku lagi. “Jangan terlalu cepat. Aku mau tahan lama.”
Aku terengah-engah. Ludah dan cairannya membasahi daguku. Aku menatapnya, dan dia tersenyum lagi. Senyum orang gila yang tahu persis apa yang dia lakukan.
Dia membaringkanku di lantai terminal. Kotoran, debu, dan puntung rokok menempel di punggungku. Aku tidak peduli. Aku membiarkan dia membuka kancing kemejaku, membiarkan jari-jarinya yang kotor meremas payudaraku. Kencang, katanya. Montok. Dia menunduk, mengisap putingku dengan mulut yang bau.
Aku menggeliat. Tanganku meraih pinggangnya, merasakan tulang rusuknya yang menonjol. Tubuhnya kurus, tapi otot-otot di lengannya keras. Kekuatan yang tersembunyi di balik compang-camping itu.
Dia naik ke atasku. Lututnya mendorong pahaku terbuka. Aku merasakan ujung kontolnya menyentuh celana dalamku yang sudah basah kuyup. Dia menekan, sekali, dua kali, lalu menyobek kain tipis itu dengan tangannya.
“Kamu mau?” tanyanya, dengan suara yang tiba-tiba lembut.
Aku mengangguk. Tidak ada kata-kata yang tersisa. Hanya kebutuhan.
Dia masuk dalam satu dorongan. Aku menjerit, bukan keras, lebih seperti desahan panjang yang pecah di udara. Penuh. Aku merasa penuh seperti tidak pernah sebelumnya. Dia berhenti, menungguku menyesuaikan diri. Matanya menatap mataku, dan di situ, untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang manusiawi.
Lalu dia bergerak. Irama yang lambat, dalam. Setiap dorongan membuat bangku terminal berderit. Aku merasakan dinding-dinding di dalam diriku terbuka, menerima. Tanganku meraih punggungnya, merasakan kotoran di bawah kukuku.
Dia menunduk, berbisik di telingaku. “Kamu cantik. Kamu terlalu cantik untuk tempat seperti ini.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau kutukan. Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin berhenti. Bahwa aku ingin tenggelam dalam bau dan kotoran dan kehangatan pria gila ini.
Di kejauhan, sebuah bus masuk terminal. Orang-orang mulai berdatangan. Tapi kami terus bergerak, tersembunyi di balik tiang beton yang retak, di antara debu dan asap dan segala sesuatu yang kotor.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, aku merasa hidup.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]