Ciuman Batu dan Dosa

·

Published 8/20/2026
7views
cover image

Aku tidak pernah percaya pada takdir. Takdir adalah alasan yang dipakai orang untuk membenarkan keputusan bodoh yang mereka ambil. Tapi malam ini, berdiri di tengah gemerlap Gangnam dengan gaun sutra yang basah kuyup oleh hujan, aku mulai berpikir mungkin selama ini aku hanya berbohong pada diriku sendiri.

Atau mungkin aku hanya mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang baru saja kulakukan.

Dua jam sebelumnya, aku masih duduk di bar hotel Shilla, menyesap wine merah yang terlalu mahal untuk seleraku yang terlalu biasa. Gaun hitam tanpa tali ini kubeli kemarin, keputusan impulsif yang tidak seperti diriku. Tapi malam itu aku butuh sesuatu yang membuatku merasa berbeda. Bukan Nyonya Jiwoo Park yang selalu sempurna di mata publik. Bukan boneka porselen yang dipamerkan di pesta-pesta amal dan peluncuran produk.

Aku hanya Yuha. Perempuan yang lelah.

Aku melihatnya pertama kali dari bayangan kaca. Dia berdiri di pintu masuk bar, jas hujan basah meneteskan air ke lantai marmer. Rambutnya acak-acakan, kemeja putihnya basah di bagian bahu. Dia tidak cocok di tempat ini. Tidak seperti pria-pria berdasi sutra yang duduk di meja sebelah dengan whiskey scotch mereka. Dia terlihat seperti baru keluar dari hujan badai dan tersesat masuk ke dunia yang salah.

Lalu dia menoleh.

Mata kami bertemu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa jantungku benar-benar berdetak.

Dia berjalan ke arahku. Bukan dengan gaya sombong playboy murahan. Tapi dengan langkah mantap seseorang yang sudah memutuskan sesuatu. Dia duduk di kursi di depanku tanpa bertanya, tanpa basa-basi.

"Aku Carmen," katanya. Suaranya dalam, sedikit serak seperti habis berteriak di tengah badai. "Kau Yuha, istri Jiwoo Park."

Aku hampir tersedak wineku. "Kau tahu siapa aku?"

"Dia memajang fotomu di kantornya. Seperti piala." Carmen tersenyum, tapi senyumnya pahit. "Aku partner bisnisnya. Sudah tiga tahun."

Aku meletakkan gelas wine dengan hati-hati. Tanganku gemetar. "Kalau kau tahu siapa aku, kenapa kau duduk di sini?"

"Karena aku sudah mengincarmu sejak pertama kali melihat foto itu."

Jujur, aku seharusnya berdiri dan pergi. Aku seharusnya memanggil satpam, atau setidaknya menusuk matanya dengan garpu appetizer. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam kulitku seperti racun yang manis.

"Kau gila," bisikku.

"Mungkin." Dia mencondongkan tubuh, dan aku bisa mencium aroma kayu cedar dan hujan. "Tapi kau masih duduk di sini, Yuha. Kau tidak pergi."

Dia benar. Aku tidak pergi.

Kami minum bersama. Satu botol, dua botol. Aku tidak ingat berapa banyak. Yang kuingat adalah caranya menatapku, seolah aku satu-satunya perempuan di dunia ini. Bukan karena aku cantik atau kaya. Tapi karena aku nyata. Karena aku hidup. Jiwoo selalu melihatku seperti properti berharga yang harus dijaga. Carmen melihatku seperti perempuan yang ingin dia hancurkan dan perbaiki pada saat bersamaan.

"Kenapa kau menikah dengannya?" tanyanya di tengah botol kedua.

"Kau tahu kenapa. Bisnis. Keluarga. Semua alasan klise yang kau dengar di drama murahan."

"Tapi kau tidak mencintainya."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Aku tertawa, dan suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Cinta? Itu kemewahan yang tidak bisa kubeli."

"Dia tidak pernah menyentuhmu, kan? Secara emosional."

Aku menatapnya. Hujan masih deras di luar, suara gemericik air menjadi latar belakang yang aneh untuk percakapan yang terlalu jujur ini. "Dia tidak pernah menyentuhku dengan cara apapun. Tidak secara emosional. Tidak secara fisik. Aku hanya hiasan di rumahnya. Patung yang dipamerkan saat ada tamu penting."

"Dan sisanya?"

"Sisanya aku sendirian." Aku menyesap wine terakhir di gelasku. "Aku punya kamar sendiri. Tempat tidur sendiri. Hidupku sendiri selama tidak mengganggu citranya."

Carmen tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa telanjang. Bukan secara fisik. Tapi secara jiwa. Seperti dia bisa melihat semua celah di benteng yang kubangun selama bertahun-tahun.

"Aku bisa memberimu lebih dari itu," katanya akhirnya.

"Aku tidak butuh apa-apa darimu."

"Kau butuh disentuh, Yuha." Dia mengucapkannya dengan tenang, tanpa nada menggoda. Hanya fakta. "Kau butuh merasa hidup. Dan aku bisa memberimu itu."

Aku tidak tahu apa yang lebih gila. Ucapannya, atau kenyataan bahwa aku tidak bisa menyangkalnya.

Kami meninggalkan bar sekitar pukul sebelas. Hujan belum reda. Aku tidak ingat siapa yang pertama kali menyentuh. Yang kuingat adalah tangannya di punggungku, hangat meskipun kulitnya basah. Kami naik taksi bersama, dan sepanjang perjalanan dia tidak melepaskan tanganku. Jari-jarinya menganyam di antara jemariku, dan rasanya seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kuketahui.

Aku tidak bertanya ke mana kami pergi. Aku tidak peduli.

Apartemennya di Hannam-dong. Modern, minimalis, dengan jendela besar yang menghadap ke Sungai Han. Hujan membuat pemandangan di luar menjadi abstrak, coretan warna yang kabur. Dia melepas jas hujannya, dan aku melihat tubuhnya untuk pertama kalinya. Bahu lebar, lengan kekar, kemeja putih yang basah menempel di dadanya.

Dia menuangkan whiskey untuk kami berdua.

"Kau masih bisa pergi," katanya, menyerahkan gelas padaku. "Pintu tidak terkunci."

Aku meminum whiskey itu dalam satu tegukan. Rasanya terbakar di tenggorokanku, tapi aku tidak peduli. "Aku tidak mau pergi."

Dia tersenyum. Bukan senyum kemenangan. Tapi senyum lega, seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama.

Dia mendekat. Satu langkah, lalu langkah lainnya. Aku tidak mundur. Aku tidak bisa. Kakiku terpaku di lantai, dan seluruh tubuhku bergetar antisipasi. Tangannya meraih pinggangku, menarikku ke dalam pelukannya. Aroma kayu cedar dan hujan memenuhi indraku.

"Aku akan menyentuhmu sekarang," bisiknya di telingaku. "Katakan berhenti jika kau tidak mau."

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Tangannya bergerak ke belakang leherku, jari-jarinya mengusap kulit sensitif di bawah telingaku. Aku menggigil. Napasku tersengal. Dia menatap mataku, mencari keraguan. Tidak menemukannya.

Ciuman pertama itu lembut. Hanya bibir bersentuhan, hangat dan basah karena whiskey. Tapi tangannya sudah bergerak ke resleting gaunku, menariknya turun perlahan. Kain sutra meluncur jatuh ke lantai, dan aku berdiri di depannya hanya dengan celana dalam hitam tipis.

Dia mundur setengah langkah, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya gelap, penuh hasrat yang tidak disembunyikan.

"Cantik," gumamnya. "Lebih cantik dari foto mana pun."

Aku seharusnya malu. Tapi aku tidak merasa malu. Aku merasa bebas. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa diriku sendiri. Bukan Nyonya Park. Bukan properti. Hanya Yuha.

Dia melepas kemejanya dengan gerakan cepat. Dadanya bidang, perutnya keras dengan otot yang terdefinisi. Ada tato di bahu kirinya, garis hitam yang membentuk kata-kata dalam hangul. Aku tidak sempat membaca karena dia sudah mendekat lagi, menekan tubuhnya ke tubuhku.

Kulitnya hangat. Sangat hangat.

Kami jatuh ke sofa, tubuh saling melilit. Tangannya menjelajahi punggungku, pinggangku, pahaku. Setiap sentuhan terasa seperti api. Dia tahu persis di mana harus menyentuh, bagaimana menekan, kapan harus lembut dan kapan harus kasar.

"Kau begitu kaku," bisiknya di leherku, sambil mencium kulitku yang sensitif. "Kapan terakhir kali kau disentuh seperti ini?"

Aku tidak menjawab. Karena jawabannya terlalu memalukan. Tidak pernah. Tidak pernah disentuh seperti ini. Tidak pernah disentuh dengan hasrat, dengan keinginan, dengan kebutuhan.

Dia sepertinya mengerti. Tangannya menjadi lebih lembut, lebih sabar. Dia mencium setiap inci tubuhku, dari leher hingga bahu, dari dada hingga perut. Setiap ciuman adalah janji. Setiap sentuhan adalah pengakuan.

"Aku akan membuatmu merasa," katanya di antara ciuman. "Aku akan membuatmu ingat apa artinya hidup."

Aku percaya padanya. Aku percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Dia melepas celana dalamku dengan gerakan lambat, sengaja membuatku menunggu. Udara dingin menyentuh kulitku yang terbuka, tapi tangannya segera menggantikannya dengan kehangatan. Dia menyentuhku di sana, tepat di tempat yang paling sensitif, dan aku mendesis, tubuhku melengkung tanpa kendali.

"Ya," bisiknya. "Seperti itu. Jangan tahan."

Aku tidak menahan. Aku membiarkan diriku terlepas, membiarkan setiap sensasi mengalir melalui tubuhku. Tangannya bergerak dengan ritme yang tepat, kadang lambat, kadang cepat, selalu tahu apa yang kubutuhkan sebelum aku sendiri mengetahuinya.

"Carmen..." Aku menggenggam rambutnya, menariknya ke atas untuk menatap mataku. "Aku..."

"Aku tahu," katanya. "Aku juga."

Dia masuk ke dalam diriku dengan gerakan yang halus, penuh perhitungan. Aku mendekapnya erat, merasakan setiap sentimeter yang mengisi kekosongan yang selama ini kurasa. Tidak ada rasa sakit. Hanya kehangatan, kepenuhan, dan perasaan bahwa akhirnya, setelah sekian lama, aku utuh.

Gerakan kami perlahan menjadi ritme yang liar. Sofa berderit di bawah kami. Napasku bercampur dengan desahannya. Aku tidak tahu apakah aku menangis atau tertawa. Yang kutahu adalah bahwa untuk pertama kalinya, aku merasa nyata.

Dia membawaku ke puncak sekali, dua kali. Setiap kali aku mencapai klimaks, aku merasakan sesuatu yang pecah di dalam diriku. Dinding yang kubangun runtuh satu per satu. Aku menangis di pundaknya, dan dia hanya memelukku erat, tidak mengatakan apa-apa karena tidak perlu.

Setelah semuanya reda, kami berbaring di lantai. Karpet bulu di bawahku terasa lembut. Tubuhnya di sampingku terasa hangat. Hujan masih turun di luar, suaranya menenangkan.

"Jangan menyesal," katanya tiba-tiba.

Aku menoleh. Dia menatap langit-langit, rahangnya mengeras.

"Aku tidak menyesal," jawabku jujur. "Tapi aku takut."

Dia menoleh, menatapku. "Takut apa?"

"Takut ini akan berakhir. Takut kau akan pergi. Takut aku akan kembali ke sangkar emas itu dan berpura-pura tidak pernah merasakan ini."

Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya meraih tanganku, menggenggamnya erat. Kami berbaring seperti itu untuk waktu yang lama, dua orang asing yang saling menemukan di tengah badai.

Tapi badai tidak pernah berlangsung selamanya.

Sekarang, berdiri di balkon apartemennya dengan gaun yang kusut dan hati yang hancur, aku menyadari bahwa malam itu hanyalah awal. Bukan akhir. Karena Carmen tidak akan pernah melepaskanku. Dan aku, bodohnya, tidak ingin dilepaskan.

Tangannya merengkuh pinggangku dari belakang. Aroma kayu cedar yang familier. Aku menutup mata, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatannya.

"Jangan melamun terus. Udara malam ini dingin," bisiknya.

Aku menghela napas. "Harusnya kamu sudah pulang, Carmen. Ini sudah terlalu jauh."

"Pulang ke mana?" Dia tertawa, tapi nadanya pahit. "Rumahku ada di sini, Yuha."

Ciumannya di leherku membuatku menggigil. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini akan menghancurkan banyak orang. Tapi saat dia menciumku, saat tangannya memegangku, semua logika lenyap.

"Stop..." bisikku, meskipun tanganku justru meraihnya, bukan mendorongnya pergi.

Dia memutarku, memaksaku menatap matanya. "Katakan kalau kamu menyesali apa yang baru saja terjadi di antara kita."

Aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah bisa. Karena meskipun ini dosa, meskipun ini penghianatan, ini adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup dalam lima tahun terakhir.

"Aku takut," kataku, karena itu lebih jujur daripada penyesalan.

"Takut pada apa? Jiwoo?" Rahangnya mengeras. "Pria yang memajangmu seperti piala itu?"

"Dia suamiku, Carmen!" Aku hampir berteriak. "Pernikahan itu memang transaksi bisnis, sangkar emas yang membunuh jiwaku... tapi seluruh media tahu statusku! Jiwoo memang tidak pernah menyentuh jiwaku seperti yang kamu lakukan, tapi kita tetap salah!"

"Peduli setan dengan status dan pesta ratusan juta itu!" Dia memotong. Lalu dia menciumku.

Ciuman ini berbeda. Bukan ciuman lembut seperti pertama kali. Ini ciuman putus asa, ciuman seseorang yang tahu bahwa waktu mereka terbatas. Bibirnya menuntut, lidahnya mencari, tangannya mencengkeram rambutku seolah aku akan lenyap jika dia melepaskan.

Aku membalas dengan intensitas yang sama. Karena aku juga putus asa. Aku juga takut kehilangan.

Saat bibir kami terpisah, napas kami memburu di udara dingin. Dia merapatkan dahi kami, menatap mataku.

"Biarkan seluruh dunia membenci kita."

"Carmen, tolong..." Aku terisak. Air mata mengalir tanpa bisa kubendung.

Dia menyapu air matanya dengan jempolnya. Lalu dia berbisik, tepat di depan bibirku.

"Aku tidak akan pernah melepasmu, Yuha. Apapun yang terjadi... tidak akan pernah."

Aku terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara, menjadi stempel tak kasat mata yang mengikat kami dalam lumpur pengkhianatan.

Dan aku, yang seharusnya melawan, yang seharusnya pergi, hanya bisa berdiri diam.

Karena di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin dilepaskan.

Aku ingin dia terus memegangku, terus mencintaiku, terus membuatku merasa hidup meskipun seluruh dunia runtuh di sekeliling kami.

Dan itu, mungkin, adalah dosa yang paling besar dari semuanya.



7views

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]