Share
Go Live
Sawit Terlarang
·
Published 10/19/2026Panas di kebun sawit itu bukan main-main. Keringat ngalir dari pelipis sampai ke dagu, nyempil di sela-sela leher, bikin kerah kemeja lusuhku makin lengket di kulit. Aku berdiri di bawah pohon kelapa sawit yang daunnya lebar, nyari keteduhan yang cuma buat formalitas doang, karena hawa di bawahnya sama aja kaya di neraka.
Namanya juga kerja di kebun. Nggak ada AC, nggak ada kipas angin. Yang ada cuma angin sesekali, itupun bawa bau pupuk kandang dan getah sawit yang bikin pusing.
Aku ngelap kening pakai lengan baju, mata nggak lepas dari deretan pohon yang harus aku periksa hari ini. Tiga ratus dua puluh batang. Itu baru blok A. Masih ada blok B dan C yang nunggu. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga aku mau kerja di tempat beginian? Oh iya, karena bapakku dulu kerja di sini. Dan pesannya sebelum mati cuma satu: jangan pernah tinggalin kebun ini.
Aku nggak tau apa maksudnya. Sampai sekarang.
"Bang! Bang Juna!"
Suara itu nyamperin dari arah belakang. Aku nggak perlu nengok buat tau siapa. Cuma satu orang di kebun ini yang punya suara cempreng kaya kaset rusak.
"Diki," aku jawab tanpa nengok. "Kalau mau ngajak bolos, jangan. Aku lagi banyak kerjaan."
Dia nyamperin, napasnya ngos-ngosan kaya abis dikejar banteng. Padahal cuma lari dari pos jaga ke sini. Badannya kecil, rambutnya kribo kena keringat, dan senyumnya lebar banget buat ukuran orang yang baru aja lari lima ratus meter.
"Bukan bolos, Bang. Ada orang nyariin."
Aku nengok. "Siapa?"
"Orang kota. Bawa mobil bagus. Kata Pak Tarno, mau ketemu sama yang punya kebun ini."
Nah. Itu dia.
Aku ngelap tangan yang berminyak getah ke celana. "Suruh nunggu di kantor."
"Udah, Bang. Dari tadi."
Aku nghela napas. Kantor kebun itu cuma bangunan kayu setengah permanen, catnya udah ngelupas di mana-mana, dan atap sengnya bocor di tiga titik. Nggak ada yang namanya ruang tamu. Cuma ada meja, dua kursi plastik, dan lemari arsip yang pintunya rusak sejak dua tahun lalu.
Tapi orang kota itu duduk di salah satu kursi plastik, kaki jenjangnya nyilang, dan dia nggak keliatan risih sama sekali. Malah kaya orang yang lagi duduk di kafe mahal.
Dia pake kemeja putih yang bersih banget. Kayaknya baru setrika. Rambutnya rapi, disisir ke belakang, dan wangi parfumnya nyampe ke hidungku bahkan sebelum aku masuk ruangan. Wangi kayu cendana. Atau mungkin kayu manis. Aku nggak tau, yang jelas wanginya bikin hidungku yang penuh debu sawit ini kerasa bersalah.
Dia nengok pas aku masuk. Matanya coklat terang, dan senyumnya... ya Tuhan, senyumnya itu kaya orang yang tau dia punya kuasa.
"Juna?" tanyanya. Suaranya berat, tapi lembut. Kaya orang yang biasa ngomong di ruang rapat.
"Aku Juna," jawabku. Aku duduk di kursi seberangnya, nggak nyalamin tangan. Tanganku masih kotor. "Ada perlu apa?"
Dia ketawa kecil. "Langsung ke intinya ya. Aku suka."
Dia ngeluarin map dari tas kulitnya. Ditaruh di meja, dibuka, dan aku liat tumpukan kertas dengan kop surat yang nggak aku kenal. Ada logo perusahaan. PT. Sawit Makmur Abadi. Nggak pernah denger.
"Aku Rendra," katanya. "Dari Jakarta. Aku mau beli kebun ini."
Aku nggak langsung jawab. Aku liat kertas-kertas itu, liat angka-angka yang tertera di bawahnya, dan liat senyum Rendra yang masih terpasang rapi di wajahnya.
"Kebun ini nggak dijual," kataku.
"Belum," dia nyandar di kursinya. "Tapi aku yakin bisa berubah pikiran."
Sial. Orang ini pake jurus psikologi. Aku benci orang kaya yang sok tau.
"Ini kebun warisan," kataku. "Dari bapakku. Nggak buat dijual."
Rendra manggut-manggut. Tangannya ngerapiin kertas-kertas itu, dan aku liat jari-jarinya. Panjang, bersih, kukunya rapi. Nggak kaya jariku yang penuh luka, kapalan, dan getah yang susah ilang.
"Aku ngerti," katanya. "Tapi denger dulu tawaranku. Serius. Setelah itu terserah kamu."
Aku nyandar di kursi, nyilang tangan. "Oke. Lima menit."
Dia senyum lagi. Kali ini lebih lebar. Dan ada sesuatu di matanya yang bikin perutku aneh. Nggak nyaman, tapi juga nggak mau aku akui.
"Kebun ini punya potensi besar," dia mulai. "Tapi kamu tau sendiri, hasilnya nggak maksimal. Pohonnya udah tua, sistem irigasi nggak jalan, dan tenaga kerjanya cuma lima orang. Aku bisa bawa teknologi baru. Bawa bibit unggul. Bawa manajemen yang bener."
"Dan aku?"
"Kamu bisa jadi manajer. Atau nggak usah kerja sama sekali. Duitnya cukup buat kamu hidup tenang."
Aku diem. Lima menit pertama, dan dia udah ngejual mimpi. Klasik.
"Berapa?" tanyaku.
Dia nyebut angka. Dan angka itu... gila. Angka yang bisa bikin aku beli rumah di kota, beli mobil, dan nggak perlu lagi berpanas-panasan di kebun.
Aku nelen ludah. "Itu... banyak."
"Itu tawaran pertama," katanya. "Masih bisa naik."
Aku nengok ke luar jendela. Kebun sawit yang membentang sampe batas cakrawala. Pohon-pohon yang aku kenal satu-satu. Yang aku tanam sendiri pas umur lima belas. Yang aku siram pas musim kemarau panjang. Yang aku jagain dari babi hutan dan maling.
Bapak pasti nggak mau ini dijual.
"Maaf," kataku. "Tapi aku nggak bisa."
Rendra diem. Senyumnya luntur dikit, tapi nggak ilang. Dia nutup mapnya, masukin lagi ke tas, dan berdiri.
"Oke," katanya. "Aku ngerti."
Dia ngulurin tangan. Kali ini aku nggak bisa nolak. Aku jabat tangannya, dan tangan itu hangat. Lembut. Nggak kaya tanganku yang kasar.
"Tapi aku masih di kota ini seminggu," katanya. "Kalau berubah pikiran, telepon aku."
Dia naruh kartu nama di meja. Lalu dia jalan ke pintu, dan aku liat punggungnya yang lebar, bahunya yang tegap, dan cara jalannya yang percaya diri. Orang ini nggak pernah gagal dapetin apa yang dia mau. Aku bisa liat itu dari caranya ngomong.
Tapi aku juga nggak pernah gagal jaga apa yang jadi milikku.
Pintu ketutup. Aku duduk lagi di kursi, ngeliatin kartu nama itu. Nama Rendra Wijaya, dengan nomor telepon dan alamat email. Di bawahnya ada jabatan: Direktur Utama.
Aku masukan kartu itu ke saku. Bukan karena aku mau nelpon. Tapi karena aku pengen tau siapa sebenarnya orang ini.
Dari luar, Diki nongol. "Gimana, Bang?"
"Apa?"
"Dijual?"
"Apa-apaan," aku ngeloyor keluar. "Ayo kerja. Masih banyak pohon yang harus diperiksa."
Tapi sepanjang hari itu, aku nggak bisa berhenti mikirin tangan Rendra. Cara dia ngomong. Cara dia liat aku. Dan yang paling bikin aku kesel, aku nggak bisa berhenti mikirin kenapa jantungku deg-degan pas dia senyum.
Sialan.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]