Share
Go Live
Sacred Threshold
·
Published 10/18/2026Aku mencium bau tanah basah sebelum melihatnya. Hujan turun sejak subuh, gerimis halus yang menempel di kaca jendela seperti keringat di kulit. Dari dapur, aku dengar suara azan Subuh dari masjid sebelah, sayup-sayup, bercampur dengan bunyi air menetes dari atap seng. Aku sedang menyeduh teh. Tangan kananku memegang ceret, tangan kiriku menahan tutup teko supaya uapnya tidak keluar terlalu banyak. Aku suka teh yang masih pekat. Suamiku tidak. Dia selalu minta airnya ditambah.
"Ras, sudah?" Suaranya dari kamar mandi. Air keran mati. Dia sedang menggosok gigi, mungkin.
"Sebentar," jawabku. Aku menuang air panas ke cangkir kedua. Dua sendok gula untuk dia. Aku tidak pakai gula. Sudah lima tahun menikah, dan aku masih menghitung sendoknya. Kadang aku bertanya-tanya apakah dia pernah memperhatikan hal sekecil itu. Mungkin tidak. Laki-laki jarang memperhatikan hal-hal yang sudah berjalan lancar.
Namaku Rasiyah. Orang memanggilku Ras. Umurku dua puluh tujuh. Aku menikah dengan Fahri ketika aku berumur dua puluh dua, tepat setelah aku lulus dari pesantren dan kuliah semester akhir. Fahri waktu itu sudah bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Dia datang ke rumah orang tuaku dengan membawa dua kotak kue dan selembar foto dirinya memakai jas. Ibuku langsung suka. Ayahku bertanya soal pekerjaan dan gaji, lalu mengangguk. Aku duduk di kamar, mendengar suara mereka dari balik dinding, dan aku merasa seperti sedang menonton film tentang orang lain.
Tapi aku menerimanya. Bukan karena aku tidak punya pilihan. Aku menerima karena aku percaya pada jalan yang sudah ditentukan. Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Itu yang aku hafal sejak kecil. Kalimat itu terasa seperti jangkar. Setiap kali ada yang goyah dalam hidupku, aku pegang kalimat itu.
Fahri keluar dari kamar mandi dengan handuk di leher. Rambutnya masih basah. Dia duduk di kursi makan, mengambil cangkir teh, dan menyesapnya tanpa melihatku.
"Terlalu manis," katanya.
"Aku taruh dua sendok."
"Seharusnya satu setengah."
Aku tidak menjawab. Aku duduk di seberangnya, memegang cangkirku sendiri. Dari jendela, aku lihat Pak RT sedang menaikkan payung di depan rumahnya. Ada anak kecil berlarian di genangan air. Suaranya riang. Aku tersenyum sendiri.
"Ada rapat di kantor hari ini?" tanyaku.
Fahri menggeleng. "Bukan rapat. Ada tamu dari Jakarta. Klien baru."
"Oh."
Dia tidak bercerita lebih. Sudah lama dia tidak bercerita lebih. Aku ingat dulu, di tahun pertama pernikahan, dia selalu bercerita tentang apa saja. Tentang teman kantornya yang suka makan mi instan tiga bungkus sekaligus. Tentang bosnya yang punya koleksi jam tangan. Tentang proyek jembatan yang molor karena hujan. Aku mendengarkan semuanya sambil menyetrika atau menyiapkan makan malam. Kadang aku tertawa. Kadang aku hanya mengangguk. Tapi aku selalu mendengarkan.
Sekarang, meja makan kami lebih sering sunyi. Bukan sunyi yang nyaman. Sunyi yang seperti ada sesuatu yang belum diucapkan, yang menunggu waktu yang tepat, yang mungkin tidak akan pernah datang.
Aku beranjak ke kamar untuk salat Subuh. Sajadahku sudah tergelar sejak malam. Aku suka salat di waktu paling sunyi, ketika dunia belum benar-benar bangun. Sujud terasa lebih lama. Doaku sederhana. Aku minta suamiku diberi kesehatan. Aku minta rezeki kami lancar. Aku minta hatiku dijaga dari rasa iri dan marah. Kadang aku minta sesuatu yang lebih spesifik, seperti keinginan agar Fahri mau salat berjamaah lagi seperti dulu. Tapi itu permintaan yang sudah lama tidak aku sampaikan. Rasanya seperti mengeluh.
Setelah salat, aku duduk sebentar di tepi tempat tidur. Di dinding, ada kaligrafi Asmaul Husna yang aku beli sendiri dari pasar. Fahri tidak pernah bilang suka atau tidak. Dia hanya memasangnya karena aku minta. Ada juga foto pernikahan kami. Aku memakai gaun putih, dia memakai jas hitam. Senyum kami lebar. Aku ingat hari itu hujan juga. Bukan gerimis. Hujan deras. Tenda resepsi hampir roboh. Tapi aku tidak peduli. Aku merasa sedang memulai sesuatu yang besar.
Fahri masuk ke kamar. Dia mengganti kemejanya. Aku melihat punggungnya. Ada bekas luka kecil di bawah tulang belikat kanan, bekas operasi usus buntu waktu dia SMA. Aku hafal tubuhnya. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa seperti melihat orang asing yang kebetulan tidur di ranjang yang sama.
"Aku berangkat," katanya.
"Jam berapa pulang?"
"Belum tahu. Mungkin malam."
Aku mengangguk. Dia mencium keningku. Cepat. Seperti menyentuh sesuatu yang panas. Lalu dia keluar. Aku dengar suara mobilnya menyala, lalu menjauh.
Aku duduk di ruang tamu, menyalakan TV. Ada berita pagi. Tentang banjir di mana, tentang harga cabai yang naik, tentang politikus yang tersenyum palsu. Aku mematikan TV setelah lima menit. Aku lebih suka membaca. Ada buku di rak, kumpulan hadis yang aku baca berulang-ulang. Ada juga novel-novel yang aku sembunyikan di belakang, karena Fahri pernah bilang novel itu tidak berguna. Aku tidak pernah membantah. Aku hanya memindahkannya ke rak paling bawah.
Hari itu, aku memutuskan untuk membersihkan dapur. Sudah lama aku tidak menyentuh bagian belakang lemari. Ada tumpukan koran lama, botol saus yang sudah kedaluwarsa, dan sebuah kotak kecil berwarna biru. Aku buka. Isinya foto-foto lama. Foto Fahri waktu masih kuliah, kurus, rambut panjang, memakai kaos oblong. Ada foto dia bersama teman-temannya. Ada satu foto dia memegang piala. Aku tersenyum. Dia pernah bercerita tentang piala itu. Juara dua lomba debat. Dia bilang dia gugup sampai lupa teksnya.
Aku tidak pernah tahu dia menyimpan foto-foto ini. Dia tidak pernah menunjukkan.
Aku letakkan kotak itu kembali. Aku tidak mau mengorek sesuatu yang mungkin tidak ingin dia bagikan. Tapi ada rasa aneh di perutku. Seperti melihat pintu yang selama ini tertutup, dan aku baru sadar pintu itu punya kunci yang tidak pernah aku pegang.
Sore itu, aku pergi ke pasar. Aku beli ikan kembung, sayur bayam, dan tempe. Aku juga beli jeruk untuk Fahri. Dia suka jeruk. Di jalan pulang, aku bertemu Bu Yanti, tetangga sebelah. Dia bertanya soal Fahri. Aku bilang baik. Dia bilang suamiku sibuk ya, jarang kelihatan. Aku bilang iya, banyak proyek. Dia mengangguk, tapi matanya bilang sesuatu yang lain. Aku tidak suka mata seperti itu. Aku cepat pamit.
Malamnya, Fahri pulang jam sembilan. Dia terlihat lelah. Aku sudah menyiapkan makan malam. Dia makan tanpa banyak bicara. Aku duduk di sampingnya, sesekali menyendok sambal ke piringnya. Dia tidak menolak. Itu tanda dia masih menghargai aku.
Setelah makan, dia duduk di sofa, membuka ponselnya. Aku mencuci piring. Dari dapur, aku bisa melihat punggungnya. Dia sedang mengetik sesuatu. Cepat. Lalu berhenti. Lalu mengetik lagi. Aku tidak bertanya. Aku sudah belajar bahwa bertanya hanya membuat dia menjauh.
Tapi malam itu, dia yang mulai bicara.
"Ras."
"Iya?"
"Duduk sini sebentar."
Aku mengeringkan tanganku. Aku duduk di kursi sebelah sofa, bukan di sofa. Aku tidak tahu kenapa aku memilih kursi. Mungkin karena aku merasa perlu jarak.
Dia meletakkan ponselnya di meja. Dia menatapku. Tatapan yang aku kenal. Tatapan yang dia pakai waktu dia mau bilang sesuatu yang penting. Waktu dia bilang dia mau melamar aku. Waktu dia bilang dia mau pindah kerja. Waktu dia bilang dia mau kita punya anak.
"Ada yang mau aku bicarakan," katanya.
Aku menunggu.
"Kamu tahu proyek di Jakarta? Yang aku cerita tadi pagi?"
Aku mengangguk.
"Kliennya orang asing. Namanya Daniel. Dari Australia. Dia... dia akan tinggal di sini sementara. Beberapa bulan."
Aku masih menunggu. Ada rasa dingin di tengkukku.
"Dia butuh tempat tinggal. Dan aku sudah bilang dia bisa tinggal di sini."
Aku menatapnya. Aku tidak mengerti. "Di sini? Di rumah kita?"
"Iya."
"Kenapa?"
Fahri menghela napas. Dia menggosok wajahnya dengan kedua tangan. "Ini rumit, Ras. Proyek ini besar. Kalau berhasil, aku bisa dapat promosi. Kita bisa beli rumah yang lebih besar. Kamu bisa berhenti kerja, fokus di rumah. Kita bisa... kita bisa mulai program bayi tabung itu."
Kata bayi tabung membuat perutku mulas. Kami sudah dua tahun mencoba. Tidak ada hasil. Dokter bilang tidak ada masalah, tapi kadang tidak ada masalah juga berarti tidak ada jawaban.
"Tapi kenapa dia harus tinggal di sini?" tanyaku. Suaraku lebih pelan dari yang aku duga.
"Karena dia tidak mau di hotel. Dia bilang dia butuh suasana keluarga. Dia... dia sedang dalam masa sulit. Perceraian. Dia butuh tempat yang tenang."
"Aku tidak mengerti. Kenapa kita?"
Fahri menatapku lama. Ada sesuatu di matanya yang tidak aku suka. Seperti dia sedang menyembunyikan sesuatu di balik kata-kata.
"Dia bukan orang sembarangan, Ras. Dia punya koneksi. Kalau aku bisa membuat dia nyaman, proyek ini aman. Aku sudah janji ke bos. Aku sudah bilang ke Daniel."
"Kamu sudah bilang ke dia sebelum bertanya ke aku?"
Fahri tidak menjawab. Itu jawabannya.
Aku bangkit. Aku berjalan ke dapur. Aku memegang wastafel. Air keran masih menetes. Aku menutupnya. Tanganku gemetar.
"Ras."
"Aku tidak bisa, Fahri."
"Dia bukan orang yang akan mengganggu. Dia akan tidur di kamar tamu. Dia akan makan sendiri. Dia tidak akan ikut campur."
"Dia bukan Muslim."
Fahri diam.
"Itu masalahnya, kan? Bukan soal dia orang asing. Bukan soal dia butuh tempat tinggal. Tapi dia bukan Muslim. Dan kamu mau dia tinggal di rumah ini. Rumah yang aku jaga. Rumah yang aku salat di dalamnya. Rumah yang aku ajarkan Al-Qur'an ke anak-anak tetangga setiap Minggu."
"Ras, ini bukan soal agama. Ini soal kerjaan."
"Bagiku ini soal agama."
Fahri bangkit. Dia mendekatiku. Dia memegang bahuku. "Aku tahu ini sulit. Tapi aku butuh kamu. Aku butuh kamu percaya sama aku."
Aku menatapnya. "Aku sudah percaya sama kamu selama lima tahun. Aku sudah ikut kamu ke mana pun. Aku sudah tinggalkan keluarga aku untuk ikut kamu ke kota ini. Aku sudah lakukan semua yang kamu minta. Tapi ini... ini bukan soal kepercayaan. Ini soal siapa aku."
Dia melepaskan tangannya. Dia mundur. "Jadi kamu tidak mau?"
"Aku tidak bilang tidak mau. Aku bilang aku tidak bisa."
"Itu sama saja."
"Tidak. Tidak sama."
Dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat. Bukan marah. Bukan sedih. Kecewa. Seperti aku sudah gagal dalam ujian yang dia buat sendiri.
Dia berbalik. Dia masuk ke kamar. Pintu ditutup. Tidak dibanting. Hanya ditutup. Tapi suaranya seperti guntur di telingaku.
Aku berdiri di dapur. Aku menatap piring-piring kotor. Aku menatap sisa makan malam. Aku menatap foto kami yang tergantung di dinding ruang makan. Aku dan Fahri, tersenyum, di hari yang cerah. Aku ingat hari itu. Kami baru saja membeli rumah ini. Kami berdiri di depan pintu, memegang kunci, dan dia bilang, "Ini rumah kita, Ras. Selamanya."
Selamanya. Kata yang sekarang terasa seperti janji kosong.
Aku duduk di lantai dapur. Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Aku menempelkan punggungku ke lemari es. Dingin. Aku menutup mata. Aku mencoba mengingat doa yang biasa aku baca waktu aku takut. Tapi doa itu tidak datang. Yang datang hanya suara Fahri, "Aku sudah bilang ke Daniel."
Dia sudah memutuskan. Tanpa aku.
Aku bangkit. Aku mencuci piring. Satu per satu. Aku mengeringkannya. Aku meletakkannya di rak. Aku menyapu lantai. Aku mematikan lampu dapur. Aku berjalan ke kamar. Fahri sudah tidur. Atau pura-pura tidur. Aku tidak tahu.
Aku mengambil sajadah. Aku salat Isya. Aku salat Tahajud. Aku duduk di sajadah setelah salam. Aku menengadahkan tangan. Aku ingin berdoa. Tapi yang keluar dari mulutku hanya satu kalimat.
"Ya Allah, aku tidak tahu harus bagaimana."
Aku menunggu jawaban. Tidak ada suara. Hanya hujan yang mulai turun lagi. Gerimis. Seperti tadi subuh. Seperti hari pernikahanku.
Aku menangis. Akhirnya. Air mata yang aku tahan sejak tadi. Aku menangis tanpa suara. Aku tidak mau Fahri dengar. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku hancur. Karena kalau dia tahu, dia akan menganggap aku lemah. Dan aku tidak lemah. Aku hanya... aku hanya tidak siap.
Aku tidak siap kehilangan rumahku. Aku tidak siap kehilangan suamiku. Aku tidak siap kehilangan diriku.
Pagi berikutnya, aku bangun sebelum azan. Aku salat Subuh lebih awal. Aku menyeduh teh. Dua sendok gula untuk Fahri. Satu sendok untuk aku. Aku tidak tahu kenapa aku mengubahnya. Mungkin karena aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena aku ingin dia bertanya. Tapi dia tidak bertanya. Dia minum tehnya, memakai sepatunya, dan pergi tanpa mencium keningku.
Aku duduk di ruang tamu. Aku menatap pintu yang baru saja dia tutup. Aku menatap kursi yang dia duduki. Aku menatap cangkir yang dia tinggalkan. Masih ada sisa teh di dasar cangkir. Aku mengambil cangkir itu. Aku mencuci. Aku mengeringkan. Aku meletakkannya kembali di rak.
Lalu aku duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu dia pulang dan bilang dia salah. Mungkin aku menunggu dia pulang dan bilang dia sudah menelepon Daniel untuk membatalkan. Mungkin aku menunggu keajaiban.
Tapi keajaiban tidak datang. Yang datang adalah telepon. Dari Fahri. Jam sebelas.
"Ras, Daniel datang hari Kamis. Aku sudah siapkan kamar tamu. Kamu tidak perlu repot-repot. Aku yang akan urus semuanya."
Aku menutup telepon. Aku tidak bilang iya. Aku tidak bilang tidak. Aku hanya menutup telepon.
Aku berdiri. Aku berjalan ke kamar tamu. Kamar itu kosong. Ada tempat tidur, lemari, meja kecil. Aku membuka jendela. Udara masuk. Segar. Aku menatap langit-langit. Ada sarang laba-laba di sudut. Aku tidak membersihkannya. Aku membiarkannya.
Aku duduk di tempat tidur. Kasur baru. Fahri pasti baru membelinya. Aku mencium bau plastik. Aku menatap dinding. Kosong. Tidak ada kaligrafi. Tidak ada foto. Tidak ada apa-apa.
Aku berpikir tentang Daniel. Orang asing. Non-Muslim. Dari Australia. Perceraian. Butuh suasana keluarga. Aku tidak tahu wajahnya. Aku tidak tahu suaranya. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang aku. Tentang rumah ini. Tentang Allah yang aku sembah.
Aku berpikir tentang Fahri. Suamiku. Laki-laki yang aku cintai. Laki-laki yang aku percaya. Laki-laki yang sekarang terasa seperti orang yang baru aku kenal.
Aku berpikir tentang diriku. Rasiyah. Dua puluh tujuh tahun. Istri. Muslim. Perempuan yang selalu taat. Perempuan yang selalu mengikuti. Perempuan yang sekarang harus memilih antara suami dan keyakinan.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku menutup jendela. Aku keluar dari kamar itu. Aku menutup pintunya. Aku berdiri di lorong. Aku menatap pintu kamar kami. Fahri tidak ada di sana. Dia di kantor. Dia sedang mengurus proyeknya. Dia sedang mengurus Daniel.
Aku berjalan ke dapur. Aku menyeduh teh lagi. Satu sendok gula. Aku duduk. Aku minum. Tehnya pahit. Aku suka.
Aku menatap halaman belakang. Ada pohon mangga yang berbuah. Ada burung yang hinggap. Ada angin yang bertiup. Dunia berjalan seperti biasa. Tapi di dalam rumah ini, ada sesuatu yang retak. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaikinya.
Aku menghabiskan tehku. Aku mencuci cangkirnya. Aku meletakkannya di rak. Aku menyapu lantai. Aku menyeka meja. Aku melakukan semua yang biasa aku lakukan. Tapi tanganku terasa asing. Seperti tanganku bukan tanganku.
Aku duduk di ruang tamu. Aku menyalakan TV. Ada sinetron. Tentang perempuan yang suaminya selingkuh. Aku mematikan TV. Aku tidak suka sinetron. Terlalu dekat dengan kenyataan.
Aku mengambil Al-Qur'an. Aku membukanya. Aku membaca. Surah Al-Baqarah. Tentang sabar. Tentang ujian. Tentang Allah yang tidak memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Aku membaca ayat itu berulang-ulang. Aku mencoba meyakinkan diriku. Tapi ada suara lain di kepalaku. Suara yang bilang, "Kamu tidak mampu. Kamu tidak akan mampu."
Aku menutup Al-Qur'an. Aku meletakkannya di rak. Aku menatap kaligrafi di dinding. Asmaul Husna. Nama-nama Allah yang indah. Aku membaca satu per satu. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik. Al-Quddus. Aku berhenti di Al-Mu'min. Yang Memberi Keamanan. Aku menatap nama itu lama.
"Ya Allah," bisikku. "Aku butuh keamanan. Aku butuh ketenangan. Aku butuh Engkau."
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu jawaban. Mungkin aku menunggu kekuatan. Mungkin aku menunggu keberanian.
Sorenya, aku pergi ke rumah Bu Yanti. Aku tidak biasanya pergi ke rumah orang tanpa alasan. Tapi hari itu, aku butuh bicara. Aku butuh dengar suara orang lain. Aku butuh tahu bahwa aku tidak gila.
Bu Yanti sedang menyiram bunga. Dia tersenyum waktu melihatku. "Ras, tumben."
"Aku cuma mau mampir."
Dia mempersilakanku masuk. Kami duduk di teras. Dia menyuguhkan teh. Aku minum. Tehnya manis. Terlalu manis. Tapi aku tidak bilang.
"Ada masalah?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Cuma capek."
Dia menatapku. Dia perempuan yang sudah lima puluh tahun. Dia sudah melihat banyak. Dia tahu kapan orang bilang "cuma capek" padahal bukan cuma capek.
"Fahri sibuk ya?"
"Iya."
"Proyek besar?"
"Iya."
Dia mengangguk. Dia tidak bertanya lagi. Kami duduk diam. Kadang diam lebih baik dari kata-kata. Aku menatap bunga-bunga di halaman. Ada mawar merah. Ada melati. Ada sesuatu yang aku tidak tahu namanya. Aku suka melati. Wanginya lembut. Tidak seperti mawar yang terlalu kuat.
"Bu," kataku akhirnya. "Kalau suami kita minta sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kita, kita harus bagaimana?"
Bu Yanti menatapku. Matanya dalam. "Tergantung prinsipnya apa."
"Prinsip agama."
Dia diam sebentar. "Agama itu bukan cuma soal ritual, Ras. Agama itu soal hati. Kalau hati kita tenang, berarti itu benar. Kalau hati kita gelisah, berarti ada yang salah."
"Aku gelisah."
"Berarti ada yang salah."
Aku menatapnya. "Tapi kalau suami bilang itu benar?"
"Suami bukan Tuhan, Ras. Suami bisa salah. Kamu bisa salah. Aku bisa salah. Yang tidak pernah salah cuma Allah."
Aku menunduk. Aku menatap tehku. Ada ampas di dasar cangkir. Aku tidak suka ampas. Aku selalu menyaring tehku. Tapi kali ini, aku biarkan.
"Aku takut," kataku.
"Takut apa?"
"Takut kehilangan dia."
Bu Yanti menghela napas. Dia meraih tanganku. Tangannya kasar. Tangan perempuan yang sudah banyak bekerja. "Ras, kalau kamu kehilangan dia karena kamu mempertahankan prinsipmu, berarti kamu tidak kehilangan apa-apa. Kamu cuma kehilangan seseorang yang tidak menghargai siapa kamu."
Aku menatapnya. Ada air di matanya. Atau mungkin itu air di mataku. Aku tidak tahu.
"Tapi aku mencintainya."
"Aku tahu. Tapi cinta bukan alasan untuk mengkhianati diri sendiri."
Aku menarik tanganku. Aku bangkit. "Aku harus pulang."
Dia mengangguk. "Hati-hati."
Aku berjalan pulang. Jalanan basah. Hujan baru saja berhenti. Ada bau tanah. Ada bau rumput. Ada bau sesuatu yang aku tidak tahu namanya. Aku berjalan pelan. Aku tidak mau cepat sampai. Aku tidak mau masuk ke rumah itu. Rumah yang sekarang terasa seperti bukan rumahku.
Tapi aku tetap masuk. Aku membuka pintu. Aku melepas sandal. Aku duduk di sofa. Aku menatap ruang tamu. Kosong. Sunyi. Aku menatap kursi Fahri. Kosong. Aku menatap cangkirnya. Sudah aku cuci. Sudah aku simpan.
Aku berdiri. Aku berjalan ke kamar. Aku membuka lemari. Aku menatap pakaian Fahri. Kemeja-kemejanya. Celana-celananya. Aku menyentuh salah satu kemeja. Ada bau dia. Aku menciumnya. Aku menutup mata. Aku ingat waktu kami pertama kali bertemu. Dia memakai kemeja putih. Dia tersenyum. Dia bilang, "Kamu cantik." Aku bilang, "Kamu juga." Dia tertawa. Aku suka tawanya. Sekarang, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mendengar dia tertawa.
Aku menutup lemari. Aku duduk di tempat tidur. Aku menatap foto kami. Aku dan Fahri. Tersenyum. Bahagia. Aku ingin kembali ke waktu itu. Tapi waktu tidak bisa kembali.
Aku berbaring. Aku menatap langit-langit. Ada retakan kecil di sudut. Aku baru sadar. Aku tidak pernah memperhatikan. Mungkin retakan itu sudah lama ada. Mungkin aku terlalu sibuk. Mungkin aku terlalu sibuk menjaga sesuatu yang ternyata sudah retak.
Aku menutup mata. Aku mencoba tidur. Tapi tidak bisa. Kepalaku penuh. Ada Fahri. Ada Daniel. Ada Bu Yanti. Ada Allah. Ada aku.
Aku bangun. Aku salat Isya. Aku salat Tahajud. Aku duduk di sajadah. Aku menangis. Kali ini aku tidak menahan. Aku menangis sampai hidungku tersumbat. Aku menangis sampai mataku perih. Aku menangis sampai tidak ada air mata lagi.
Lalu aku diam. Aku menatap sajadah. Ada bercak air mata. Aku menyentuhnya. Basah. Aku mengusapnya. Kering.
Aku bangkit. Aku melipat sajadah. Aku meletakkannya di rak. Aku menatap kaligrafi. Asmaul Husna. Aku membaca satu per satu. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik. Al-Quddus. Al-Mu'min. Aku berhenti di Al-Muhaimin. Yang Maha Memelihara. Aku menatap nama itu lama.
"Ya Allah," bisikku. "Engkau yang memelihara. Peluk aku."
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu jawaban. Mungkin aku menunggu kekuatan. Mungkin aku menunggu keberanian.
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Kamis datang lebih cepat dari yang aku harapkan. Aku bangun pagi-pagi. Aku salat Subuh. Aku menyeduh teh. Dua sendok gula untuk Fahri. Satu sendok untuk aku. Aku tidak tahu kenapa aku masih melakukan ini. Mungkin karena aku masih berharap. Mungkin karena aku masih mencintainya. Mungkin karena aku bodoh.
Fahri bangun lebih awal. Dia mandi. Dia berpakaian. Dia memakai kemeja yang aku setrika semalam. Dia minum tehnya. Dia bilang, "Aku jemput Daniel di bandara. Kamu di rumah saja."
Aku mengangguk.
Dia pergi. Aku dengar mobilnya menyala. Aku dengar mobilnya menjauh. Aku duduk di ruang tamu. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu keajaiban. Mungkin aku menunggu bencana.
Aku membersihkan rumah. Aku menyapu. Aku mengepel. Aku menyeka meja. Aku menata bantal. Aku menata kursi. Aku menata apa saja yang bisa aku tata. Aku ingin rumah ini terlihat sempurna. Aku ingin Daniel melihat bahwa rumah ini adalah rumah yang teratur. Rumah yang dijaga. Rumah yang dihormati.
Tapi di dalam hatiku, ada kekacauan. Ada badai. Ada gempa. Aku tidak tahu bagaimana menatanya.
Jam dua siang, mobil Fahri masuk ke halaman. Aku berdiri di depan pintu. Aku menunggu. Pintu mobil terbuka. Fahri keluar. Dia tersenyum. Senyum yang aku kenal. Senyum yang dia pakai waktu dia mau memperkenalkan sesuatu yang penting.
Lalu pintu penumpang terbuka.
Seorang laki-laki keluar. Tinggi. Kulit putih. Rambut pirang. Mata biru. Dia memakai kemeja putih dan celana jeans. Dia tersenyum. Senyum yang tidak aku kenal. Senyum yang asing.
Dia mengulurkan tangan. "Hi. I'm Daniel."
Aku menatap tangannya. Tangannya besar. Tangannya putih. Tangannya bukan tangan yang aku kenal. Aku tidak mengulurkan tanganku. Aku hanya menatapnya.
Fahri bilang, "Ras, ini Daniel."
Aku mengangguk. Aku tidak bilang apa-apa. Aku berbalik. Aku masuk ke rumah. Aku dengar mereka mengikuti. Aku dengar Fahri bilang, "Kamar kamu di sebelah kanan." Aku dengar Daniel bilang, "Thank you." Aku dengar pintu kamar tamu terbuka. Aku dengar pintu kamar tamu tertutup.
Aku berdiri di dapur. Aku memegang wastafel. Aku menutup mata. Aku mencoba bernapas. Satu. Dua. Tiga. Aku membuka mata. Aku menatap cermin. Ada perempuan di sana. Dia terlihat lelah. Dia terlihat tua. Dia terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku tidak suka perempuan itu.
Aku berbalik. Aku berjalan ke ruang tamu. Fahri sedang duduk di sofa. Daniel sedang duduk di kursi. Kursi yang biasa aku duduki. Dia memegang gelas. Gelas yang biasa aku pakai. Dia minum. Dia meletakkannya di meja. Meja yang biasa aku bersihkan.
Fahri bilang, "Ras, Daniel mau makan. Kamu masak apa?"
Aku menatap Fahri. Aku menatap Daniel. Aku menatap gelas di meja.
"Aku tidak masak," kataku.
Fahri menatapku. Ada sesuatu di matanya. Kaget. Kecewa. Marah. Tapi dia tidak bilang apa-apa. Dia bangkit. Dia bilang ke Daniel, "Kita makan di luar saja."
Daniel mengangguk. Dia bangkit. Dia menatapku. Dia tersenyum. "Nice to meet you, Rasiyah."
Dia bilang namaku. Dia menyebut namaku. Aku tidak pernah bilang namaku. Fahri yang bilang. Fahri yang memperkenalkan aku. Fahri yang membawa orang ini ke rumahku. Fahri yang membawa orang ini ke hidupku.
Aku menatap Daniel. Aku tidak tersenyum. Aku tidak mengangguk. Aku hanya menatapnya. Lalu aku berbalik. Aku masuk ke kamar. Aku menutup pintu. Aku duduk di tempat tidur. Aku menatap foto kami. Aku dan Fahri. Tersenyum. Bahagia.
Aku menangis. Lagi. Aku menangis sampai tidak ada air mata lagi.
Lalu aku diam.
Aku menatap langit-langit. Ada retakan kecil di sudut. Aku baru sadar. Retakan itu sudah lama ada. Mungkin aku terlalu sibuk. Mungkin aku terlalu sibuk menjaga sesuatu yang ternyata sudah retak.
Aku menutup mata. Aku mencoba tidur. Tapi tidak bisa. Kepalaku penuh. Ada Fahri. Ada Daniel. Ada Allah. Ada aku.
Aku bangun. Aku salat Maghrib. Aku salat Isya. Aku duduk di sajadah. Aku menatap kaligrafi. Asmaul Husna. Aku membaca satu per satu. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik. Al-Quddus. Al-Mu'min. Al-Muhaimin. Aku berhenti di Al-Aziz. Yang Maha Perkasa. Aku menatap nama itu lama.
"Ya Allah," bisikku. "Engkau yang perkasa. Aku lemah. Tolong aku."
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu jawaban. Mungkin aku menunggu kekuatan. Mungkin aku menunggu keberanian.
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Pintu kamar terbuka. Fahri masuk. Dia menatapku. Dia duduk di sebelahku. Dia meraih tanganku. Tangannya hangat. Tangannya yang aku kenal. Tapi rasanya asing.
"Ras," katanya. "Aku tahu ini sulit. Tapi aku butuh kamu. Aku butuh kamu percaya sama aku."
Aku menatapnya. "Aku sudah percaya sama kamu selama lima tahun. Aku sudah ikut kamu ke mana pun. Aku sudah tinggalkan keluarga aku untuk ikut kamu ke kota ini. Aku sudah lakukan semua yang kamu minta. Tapi ini... ini bukan soal kepercayaan. Ini soal siapa aku."
Dia melepaskan tanganku. Dia mundur. "Jadi kamu tidak mau?"
"Aku tidak bilang tidak mau. Aku bilang aku tidak bisa."
"Itu sama saja."
"Tidak. Tidak sama."
Dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat. Bukan marah. Bukan sedih. Kecewa. Seperti aku sudah gagal dalam ujian yang dia buat sendiri.
Dia berbalik. Dia keluar. Pintu ditutup. Tidak dibanting. Hanya ditutup. Tapi suaranya seperti guntur di telingaku.
Aku duduk di tempat tidur. Aku menatap pintu. Aku menatap foto kami. Aku menatap retakan di langit-langit. Aku menatap diriku di cermin.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Aku bangkit. Aku berjalan ke jendela. Aku membukanya. Udara malam masuk. Dingin. Aku menatap langit. Ada bintang. Ada bulan. Ada awan. Aku menatap semuanya. Aku mencoba menemukan jawaban. Tapi tidak ada jawaban di langit. Hanya ada sunyi.
Aku menutup jendela. Aku kembali ke tempat tidur. Aku berbaring. Aku menutup mata. Aku mencoba tidur. Tapi tidak bisa.
Aku mendengar suara dari kamar sebelah. Daniel. Dia sedang menelepon. Suaranya pelan. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia bilang. Tapi aku bisa mendengar nada suaranya. Sedih. Lelah. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
Aku menutup telinga. Aku tidak mau mendengar. Aku tidak mau tahu. Aku tidak mau peduli.
Tapi aku peduli.
Aku membuka telinga. Aku mendengar. Dia bilang, "I miss you." Dia bilang, "I'm sorry." Dia bilang, "I don't know what to do."
Aku menatap langit-langit. Aku menatap retakan. Aku menatap kegelapan.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Pagi berikutnya, aku bangun sebelum azan. Aku salat Subuh. Aku menyeduh teh. Dua sendok gula untuk Fahri. Satu sendok untuk aku. Aku tidak tahu kenapa aku masih melakukan ini. Mungkin karena aku masih berharap. Mungkin karena aku masih mencintainya. Mungkin karena aku bodoh.
Aku duduk di ruang tamu. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu keajaiban. Mungkin aku menunggu bencana.
Pintu kamar tamu terbuka. Daniel keluar. Dia memakai kaos oblong. Rambutnya acak-acakan. Dia menatapku. Dia tersenyum. "Good morning."
Aku mengangguk.
Dia berjalan ke dapur. Dia membuka lemari. Dia mencari sesuatu. Dia menemukan cangkir. Dia menuang air. Dia minum. Dia meletakkan cangkir di wastafel. Dia tidak mencucinya.
Aku menatap cangkir itu. Cangkir yang aku cuci. Cangkir yang aku keringkan. Cangkir yang aku simpan. Sekarang kotor. Ada bekas bibirnya. Ada bekas tangannya.
Aku bangkit. Aku mengambil cangkir itu. Aku mencucinya. Aku mengeringkannya. Aku meletakkannya kembali di rak.
Daniel menatapku. "You don't have to do that."
Aku menatapnya. "Ini rumahku."
Dia mengangguk. "I know."
Dia duduk di kursi. Kursi yang biasa aku duduki. Dia menatapku. "Fahri bilang kamu sangat religius."
Aku tidak menjawab.
"Dia bilang kamu salat lima waktu. Dia bilang kamu puasa Senin-Kamis. Dia bilang kamu hafal Al-Qur'an."
Aku masih tidak menjawab.
"Aku tidak percaya pada Tuhan," katanya.
Aku menatapnya. "Itu masalahmu."
Dia tersenyum. "Maybe."
Dia bangkit. Dia berjalan ke kamarnya. Dia menutup pintu. Aku duduk di kursi. Kursi yang biasa aku duduki. Aku menatap cangkir di rak. Cangkir yang sudah aku cuci. Cangkir yang sudah aku keringkan. Cangkir yang sudah aku simpan.
Aku menatap langit-langit. Ada retakan kecil di sudut. Aku baru sadar. Retakan itu sudah lama ada. Mungkin aku terlalu sibuk. Mungkin aku terlalu sibuk menjaga sesuatu yang ternyata sudah retak.
Aku menutup mata. Aku mencoba bernapas. Satu. Dua. Tiga. Aku membuka mata. Aku menatap cermin. Ada perempuan di sana. Dia terlihat lelah. Dia terlihat tua. Dia terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku tidak suka perempuan itu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Aku bangkit. Aku berjalan ke dapur. Aku menyeduh teh. Satu sendok gula. Aku duduk. Aku minum. Tehnya pahit. Aku suka.
Aku menatap halaman belakang. Ada pohon mangga yang berbuah. Ada burung yang hinggap. Ada angin yang bertiup. Dunia berjalan seperti biasa. Tapi di dalam rumah ini, ada sesuatu yang retak. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaikinya.
Aku menghabiskan tehku. Aku mencuci cangkirnya. Aku meletakkannya di rak. Aku menyapu lantai. Aku menyeka meja. Aku melakukan semua yang biasa aku lakukan. Tapi tanganku terasa asing. Seperti tanganku bukan tanganku.
Aku duduk di ruang tamu. Aku menyalakan TV. Ada berita pagi. Tentang banjir di mana, tentang harga cabai yang naik, tentang politikus yang tersenyum palsu. Aku mematikan TV setelah lima menit. Aku lebih suka membaca. Ada buku di rak, kumpulan hadis yang aku baca berulang-ulang. Ada juga novel-novel yang aku sembunyikan di belakang, karena Fahri pernah bilang novel itu tidak berguna. Aku tidak pernah membantah. Aku hanya memindahkannya ke rak paling bawah.
Aku mengambil Al-Qur'an. Aku membukanya. Aku membaca. Surah Al-Baqarah. Tentang sabar. Tentang ujian. Tentang Allah yang tidak memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Aku membaca ayat itu berulang-ulang. Aku mencoba meyakinkan diriku. Tapi ada suara lain di kepalaku. Suara yang bilang, "Kamu tidak mampu. Kamu tidak akan mampu."
Aku menutup Al-Qur'an. Aku meletakkannya di rak. Aku menatap kaligrafi di dinding. Asmaul Husna. Nama-nama Allah yang indah. Aku membaca satu per satu. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik. Al-Quddus. Al-Mu'min. Al-Muhaimin. Al-Aziz. Al-Jabbar. Al-Mutakabbir. Aku berhenti di Al-Khaliq. Yang Maha Pencipta. Aku menatap nama itu lama.
"Ya Allah," bisikku. "Engkau yang menciptakan aku. Engkau yang tahu aku. Engkau yang tahu batas kemampuanku. Tolong aku."
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu jawaban. Mungkin aku menunggu kekuatan. Mungkin aku menunggu keberanian.
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Aku bangkit. Aku berjalan ke kamar tamu. Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tidak ada jawaban. Aku membuka pintu. Kamar kosong. Daniel tidak ada. Jendela terbuka. Angin masuk. Tirai berkibar.
Aku masuk. Aku menatap tempat tidur. Kasur baru. Bantal baru. Selimut baru. Aku menatap lemari. Tertutup. Aku menatap meja. Ada buku. Ada pena. Ada foto. Foto seorang perempuan. Rambut panjang. Mata biru. Tersenyum. Di belakang foto, ada tulisan. "I'm sorry. I love you."
Aku meletakkan foto itu kembali. Aku keluar dari kamar. Aku menutup pintu. Aku berdiri di lorong. Aku menatap pintu kamar kami. Fahri tidak ada di sana. Dia di kantor. Dia sedang mengurus proyeknya. Dia sedang mengurus Daniel.
Aku berjalan ke dapur. Aku menyeduh teh lagi. Satu sendok gula. Aku duduk. Aku minum. Tehnya pahit. Aku suka.
Aku menatap halaman belakang. Ada pohon mangga yang berbuah. Ada burung yang hinggap. Ada angin yang bertiup. Dunia berjalan seperti biasa. Tapi di dalam rumah ini, ada sesuatu yang retak. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaikinya.
Aku menghabiskan tehku. Aku mencuci cangkirnya. Aku meletakkannya di rak. Aku menyapu lantai. Aku menyeka meja. Aku melakukan semua yang biasa aku lakukan. Tapi tanganku terasa asing. Seperti tanganku bukan tanganku.
Aku duduk di ruang tamu. Aku menatap pintu. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang aku tunggu. Mungkin aku menunggu Fahri pulang. Mungkin aku menunggu Daniel pulang. Mungkin aku menunggu jawaban.
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Aku bangkit. Aku berjalan ke jendela. Aku membukanya. Udara masuk. Segar. Aku menatap langit. Ada awan. Ada matahari. Ada burung. Aku menatap semuanya. Aku mencoba menemukan jawaban. Tapi tidak ada jawaban di langit. Hanya ada sunyi.
Aku menutup jendela. Aku kembali ke sofa. Aku duduk. Aku menatap foto kami. Aku dan Fahri. Tersenyum. Bahagia. Aku ingin kembali ke waktu itu. Tapi waktu tidak bisa kembali.
Aku menutup mata. Aku mencoba bernapas. Satu. Dua. Tiga. Aku membuka mata. Aku menatap cermin. Ada perempuan di sana. Dia terlihat lelah. Dia terlihat tua. Dia terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku tidak suka perempuan itu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan menyerah.
Aku bangkit. Aku berjalan ke dapur. Aku menyeduh teh. Satu sendok gula. Aku duduk. Aku minum. Tehnya pahit. Aku suka.
Aku menunggu.
Aku tidak tahu apa yang aku tunggu.
Tapi aku menunggu.
Dan aku tidak akan menyerah.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]