Share
Go Live
Sumberjati
·
Published 9/30/2026
Orang bilang KKN itu pengabdian. Dua bulan hidup di desa, bantu warga, belajar bermasyarakat. Kedengarannya mulia.
Kenyataannya, KKN itu tiga puluh sembilan hari penuh drama yang dibungkus rapi dalam nama "program kerja."
Aku tahu itu sejak hari pertama.
Hari pertama dimulai dengan kejadian yang seharusnya sudah cukup jadi pertanda: mobil yang membawa kami dari kampus ke Desa Sumberjati masuk ke parit. Bukan parit besar, sih. Cuma parit kecil di pinggir jalan yang lebarnya kira-kira cukup buat satu kaki. Tapi cukup bikin seluruh isi mobil menjerit bersamaan. Termasuk aku.
"ASTAGA!" Sinta, yang duduk di sebelahku, menjatuhkan termos minumnya. Airnya tumpah ke pangkuan Jordi yang duduk di depan.
Jordi hanya menatap langit-langit mobil dengan ekspresi orang yang sedang menghitung berapa juta lagi dia harus keluarkan untuk mengganti celana yang kena air putih.
"Ini pertanda," kata Rian dari barisan belakang, dengan nada seorang dukun yang baru dapat ilham. "KKN kita akan penuh rintangan."
"Rintangannya kamu, Rian," jawab Luthfi tanpa menoleh.
Semua orang tertawa. Kecuali Raka.
Raka Juan, ketua KKN kami, berdiri di luar mobil sejak lima menit lalu. Tangannya di pinggang, matanya menatap parit, dan wajahnya, ya, wajahnya seperti dosen yang baru menemukan mahasiswa pakai ChatGPT untuk skripsi. Kalau kamu belum pernah lihat ekspresi itu, bayangkan seseorang yang ingin marah tapi sadar marah tidak akan menyelesaikan apa-apa, jadi dia memilih diam sambil berharap semua orang di sekitarnya ikut diam.
"Ada yang bisa bantu dorong?" tanyanya akhirnya. Suaranya datar.
Nauval langsung turun. Bagas juga. Yusuf masih duduk di kursinya, menatap keluar jendela dengan tenang.
"Yusuf," panggil Raka.
Yusuf menoleh. "Iya?"
"Bantu."
"Oke." Yusuf turun. Pelan sekali. Seperti orang yang baru bangun tidur dan masih mengumpulkan kesadaran bahwa dunia nyata itu ada.
Jihan, sekretaris kami, sudah berdiri di pinggir jalan dengan buku catatan di tangan. Aku tidak tahu dia sedang mencatat apa. Mungkin mencatat jam kejadian. Mungkin mencatat siapa yang tidak membantu. Jihan itu tipe orang yang akan membuat laporan lengkap tentang bencana alam sambil bencananya masih berlangsung.
Aku ikut turun. Bukan karena aku kuat. Aku turun karena aku tidak mau jadi orang yang dicatat Jihan.
Dua jam kemudian, kami sampai di posko.
Posko KKN Desa Sumberjati adalah rumah panggung tua yang sudah diperbaiki seadanya. Dindingnya kayu, lantainya kayu, dan kalau ada yang berjalan terlalu cepat, seluruh lantai ikut bergetar. Ada enam kamar. Empat belas orang.
"Empat belas orang, enam kamar," kata Raka, berdiri di tengah ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang makan, ruang rapat, dan ruang sidang untuk kasus-kasus ringan seperti siapa yang mencuri charger siapa. "Kita bagi. Tiga orang per kamar, sisanya dua."
"Masa tiga orang per kamar?" Anindya mengerutkan dahi. Dia berdiri di dekat jendela, cahaya sore jatuh di wajahnya dengan cara yang tidak masuk akal. Orang-orang seperti Anindya memang selalu dapat pencahayaan terbaik tanpa harus berusaha.
"Kamu mau tidur di teras?" tanya Raka.
Anindya tidak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangan ke arah Bagas, yang sedang pura-pura sibuk mengangkat koper. Bagas itu teman SMA-nya. Kata orang, dia menyukai Anindya sejak kelas sepuluh. Kata orang juga, Anindya tahu. Tapi keduanya tidak pernah membicarakannya. Dan sekarang mereka terjebak di desa yang sama selama empat puluh hari.
Tuhan memang penulis skenario yang kejam.
Pembagian kamar berjalan lancar sampai Luthfi protes karena dia dapat kamar bersama Jordi dan Rian.
"Gue nggak bisa tidur kalau ada Rian," kata Luthfi. "Dia ngomong sendiri kalau tidur."
"Gue ngomong sendiri karena gue mimpi," Rian membela diri.
"Itu lebih parah."
"Udah," potong Raka. "Nggak ada yang bisa pindah. Kamar udah final."
Luthfi mengangkat tangan seperti orang mau bertanya di kelas. "Kalau gue angkat kaki, gimana?"
"Silakan. Tapi koper kamu juga."
Semua orang diam. Raka dan Luthfi saling menatap selama tiga detik. Luthfi akhirnya menghela napas dan duduk.
Aku melihat Jihan tersenyum tipis dari sudut ruangan. Jihan dan Raka itu mantan. Hubungan mereka selesai, katanya, sebelum KKN dimulai. Tapi kalau kamu lihat cara Jihan menatap Raka saat Raka tidak memperhatikan, kamu akan tahu bahwa "selesai" itu kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan apa pun yang melibatkan dua orang yang pernah saling mencintai.
Malam pertama, kami makan bersama. Nasi, telur dadar, dan tempe orek yang dibuat Alya. Alya itu terlalu baik untuk dunia ini. Dia memasak untuk empat belas orang tanpa diminta, lalu tersenyum seperti itu hal biasa. Aku pernah lihat dia dipinjam pulpen oleh Sinta, dan Alya memberikan seluruh tempat pensilnya.
"Enak," kata Nauval, mengangkat jempol.
Alya tersenyum. "Makasih. Besok aku masak lagi, ya."
"Jangan," kata Luthfi. "Biar yang lain juga belajar masak. Nanti kamu yang capek, kita yang nggak bisa apa-apa."
Semua orang menatap Luthfi.
"Apa?" katanya. "Gue bisa baik juga, kali."
"Luthfi baik?" Sinta menyentuh dahinya sendiri, lalu menyentuh dahi Luthfi. "Kamu sakit?"
Luthfi menepis tangan Sinta. "Makanya jadi guru SD, jangan jadi anak SD."
Sinta membalas dengan melempar sendok plastik. Luthfi menangkapnya tanpa melihat. Kemampuan refleks yang tidak masuk akal untuk anak ekonomi.
Aku duduk di sudut, mengamati semuanya. Rian sedang berbisik ke arah Yunita tentang sesuatu, dan Yunita tertawa terlalu keras. Mira membaca buku tebal di samping Nauval tanpa bicara, tapi aku perhatikan dia sesekali melirik Nauval yang sedang serius mengupas telur. Yusuf dan Dewi duduk bersebelahan tanpa bicara, dua orang yang sepertinya sudah membuat kesepakatan rahasia untuk tidak terlibat drama apa pun.
Mereka belum tahu bahwa drama tidak butuh izin.
Setelah makan, Raka mengumpulkan kami di ruang tamu. Papan tulis kecil dipasang di dinding, dan di atasnya sudah tertulis jadwal program kerja selama empat puluh hari. Ada nama-nama, ada pembagian tugas, ada target yang harus dicapai.
"Besok kita survei lokasi," kata Raka. "Kita bagi tiga kelompok. Kelompok satu ke balai desa, kelompok dua ke sekolah, kelompok tiga ke puskesmas."
"Aku ke puskesmas," kata Jordi cepat.
"Kenapa?"
"Karena gue anak kedokteran."
"Bagus. Kamu ke sekolah."
Jordi membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di sebelahnya, Sinta menyeringai.
"Sepertinya gue ada di sirkel yang salah," gumam Jordi.
Aku tertawa kecil. Nauval menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku balas tersenyum, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke papan tulis.
Malam itu, sebelum tidur, aku duduk di teras. Desa Sumberjati gelap sekali. Tidak ada lampu jalan, tidak ada suara kendaraan. Yang ada hanya suara jangkrik dan angin yang lewat di antara pohon-pohon bambu. Langitnya penuh bintang.
Jihan keluar dan duduk di sampingku. Dia membawa dua gelas teh.
"Kamu nggak tidur?" tanyanya.
"Belum ngantuk."
Dia mengangguk. Kami duduk berdua tanpa bicara selama beberapa menit. Di dalam, aku dengar Sinta tertawa keras tentang sesuatu, dan Luthfi membalas dengan nada menghina yang sayang. Rian sedang berdebat dengan Yunita tentang siapa yang salah karena lupa membeli sabun mandi. Suara mereka bertumpuk-tumpuk, seperti radio yang diputar di banyak frekuensi sekaligus.
"Kamu tahu nggak," kata Jihan akhirnya, "selama empat puluh hari ini, kita akan lihat banyak hal tentang orang-orang ini yang nggak pernah kita lihat di kampus."
Aku menoleh ke arahnya.
"Termasuk tentang Raka?" tanyaku.
Jihan tidak menjawab. Dia hanya menyeruput tehnya, menatap langit, dan tersenyum dengan cara yang membuatku tahu bahwa pertanyaanku tidak akan pernah dia jawab.
Dan aku duduk di sana, di teras kayu yang bergetar setiap kali ada orang berjalan di dalam, memikirkan bahwa empat puluh hari itu mungkin terdengar lama. Tapi malam pertama saja sudah terasa seperti pembukaan dari sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sekadar program pengabdian.
Aku belum tahu apa. Tapi aku tahu satu hal: orang bilang KKN itu tentang membantu desa.
Bohong.
KKN itu tentang empat belas orang yang terjebak bersama, dan semua rahasia yang akhirnya keluar karena tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]