Share
Go Live
Village Heat
·
Published 9/30/2026
# BAB 1: Surat dari Tanah
Hujan Jakarta nggak pernah bisa dibikin romantis.
Airnya bercampur aspal, oli, dan entah apa lagi yang mengalir di got-got ibu kota. Aku berdiri di bawah halte TransJakarta pukul sebelas malam, jaket denim yang kupakai sejak pagi sudah basah kuyup, dan di tangan kanan ada kardus berisi seluruh isi meja kantorku. Tiga tahun kerja di perusahaan konsultan lingkungan, dan yang kubawa pulang cuma ini. Satu kardus. Isinya mug keramik bergambar orangutan, tanaman sukulen yang sudah sekarat, dan piagam penghargaan karyawan terbaik tahun lalu yang sekarang terasa seperti lelucon pahit.
PHK bergilir. Kata HRD-nya, "efisiensi struktural." Kata aku, "buang-buang duit bikin jargon."
Aku masih ingat wajah Pak Hendra saat memanggilku ke ruangannya tadi sore. Dia nggak berani menatap mataku. Tangannya sibuk memainkan pulpen, dan dia bilang sesuatu tentang "kondisi ekonomi makro" dan "keputusan sulit." Aku cuma duduk di sana, mengangguk, dan berpikir betapa cepatnya tiga tahun bisa menguap. Proyek restorasi mangrove di Kalimantan yang hampir membuatku tinggal di tenda selama dua bulan. Kampanye anti deforestasi yang membuatku masuk berita. Semua itu mengendap jadi satu baris di surat pemutusan hubungan kerja.
Bus datang. Aku naik, duduk di kursi paling belakang, dan menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Kota lewat di luar sana dalam kilatan lampu kuning dan merah. Gedung-gedung tinggi yang dulu membuatku merasa kecil sekaligus bersemangat, sekarang cuma terlihat seperti gigi-gigi raksasa yang siap menggigit.
Ponselku bergetar. Pesan dari Rian.
*"Sayang, aku di kantor nih. Lembur lagi. Kamu pulang aja dulu ya."*
Aku balas dengan emoji jempol. Rian sudah lembur selama tiga minggu terakhir. Selalu ada alasan. Klien baru, proyek mendesak, meeting dengan investor. Aku terlalu lelah untuk curiga. Atau mungkin aku memang nggak mau curiga.
Bus berhenti di halte depan gang tempat aku tinggal. Aku turun, menyeret kardus yang mulai lembek karena hujan, dan berjalan cepat menuju apartemen kecil di lantai empat. Tangga beton itu licin. Lampu koridornya berkedip-kedip seperti mau mati. Aku menggigit bibir dan terus naik.
Kunci kuputar. Pintu terbuka.
Dan dunia yang kukenal selama dua tahun terakhir runtuh dalam satu detik.
Rian. Di sofa. Dengan Sinta. Teman kantorku. Teman yang selalu kubilang "baik" dan "pengertian" dan "nggak mungkin macam-macam."
Mereka nggak dengar aku masuk. Terlalu sibuk. Terlalu telanjang. Terlalu... basah.
Aku berdiri di ambang pintu, kardus masih di tangan, dan otakku memproses pemandangan itu dengan kecepatan yang aneh. Detail-detail kecil yang nggak penting malah yang pertama kali kuperhatikan. Baju Rian tergeletak di lantai. Kemeja Sinta yang kukenal karena aku yang bantu dia pilih di mal bulan lalu, tergantung di sandaran kursi. Dua gelas anggur di meja. Lilin aromaterapi yang kubeli untuk ulang tahun Rian masih menyala.
"Astaga," kataku.
Suaraku pelan. Nggak marah. Nggak histeris. Cuma... lelah. Seperti seseorang yang sudah terlalu banyak kehilangan dalam satu hari dan nggak punya energi lagi untuk kehilangan yang lain.
Rian kaget. Sinta menjerit. Mereka berdua bergerak panik, mencari-cari selimut, bantal, apa saja. Aku menonton mereka seperti menonton film yang plotnya sudah ketebak dari awal.
"Maudy, aku bisa jelasin," kata Rian.
"Jangan," kataku. "Please. Jangan."
Aku meletakkan kardus di lantai. Pelan-pelan. Lalu aku berbalik dan keluar dari apartemen yang selama ini kubayar setengahnya dengan gaji yang sekarang sudah nggak ada.
---
Malam itu aku duduk di tangga darurat gedung apartemen, ditemani hujan yang belum juga berhenti dan sebungkus rokok yang kubeli di minimarket lantai dasar. Aku bukan perokok. Tapi malam ini terasa seperti malam yang tepat untuk memulai kebiasaan buruk.
Asapnya pahit. Aku batuk dua kali, lalu mencoba lagi. Di bawah sana, kota masih hidup. Klakson, lampu, orang-orang yang punya tempat untuk pulang. Aku menatap langit yang nggak punya bintang dan berpikir tentang ayah.
Ayah meninggal setahun lalu. Kanker paru-paru. Dia nggak pernah merokok seumur hidupnya, tapi tinggal di kota yang udaranya lebih tebal dari asap pabrik selama tiga puluh tahun. Ironis. Dia yang mengajarku cinta pada alam, pada hutan, pada sungai yang jernih. Dan dia yang mati karena kota yang perlahan-lahan membunuhnya.
Sebelum meninggal, ayah menulis surat wasiat. Aku masih ingat hari itu, duduk di samping tempat tidurnya di rumah sakit, sementara dia berbicara dengan suara serak tentang rumah lama di desa. Tentang kebun mangga di belakang. Tentang sungai kecil tempat aku belajar berenang waktu kecil. Dan tentang satu permintaan yang waktu itu kuanggap sebagai lelucon.
*"Maudy, pulanglah ke desa. Nikah di sana. Hidup di sana. Jangan biarkan kota ini menghabiskan kamu seperti dia menghabiskan aku."*
Waktu itu aku tertawa. Aku bilang, "Yah, aku punya karier di Jakarta. Aku punya pacar. Aku punya hidup."
Ayah cuma tersenyum. Senyum yang sekarang, setahun kemudian, terasa seperti ramalan.
Aku mengambil ponsel dari kantong jaket. Membuka galeri foto. Ada foto rumah lama itu, difoto ayah beberapa bulan sebelum meninggal. Rumah kayu dengan cat putih yang mengelupas. Atap genting yang ditumbuhi lumut. Halaman yang dipenuhi rumput liar dan pohon mangga tua yang masih berdiri tegak seperti penjaga setia.
Bibi Lastri masih merawatnya. Setiap bulan dia kirim pesan WhatsApp, kadang foto, kadang cuma kabar singkat. "Rumah aman, Maudy. Kapan pulang?"
Aku belum pernah pulang sejak pemakaman ayah.
Jari-jariku mengetik pesan.
*"Bib, aku mau pulang. Besok."*
Balasan datang dalam hitungan detik.
*"Alhamdulillah. Bibi siapin kamar kamu."*
Aku menutup ponsel. Membuang puntung rokok yang masih setengah. Dan untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, aku merasa seperti sedang mengambil keputusan yang benar.
---
Perjalanan ke desa memakan waktu delapan jam dengan bus antar kota, ditambah satu jam ojek dari terminal ke rumah. Aku tiba menjelang maghrib, dengan tas ransel dan kardus yang sama, dan tubuh yang pegal karena duduk terlalu lama.
Desa itu bernama Sumberrejo. Terletak di kaki gunung, dikelilingi sawah dan kebun kopi. Udara di sini berbeda. Dingin, bersih, dan berbau tanah basah. Aku turun dari ojek, membayar pak ojek dengan uang yang tersisa di dompet, dan berdiri di depan rumah masa kecilku.
Rumah itu lebih kecil dari yang kuingat. Atau mungkin aku yang tumbuh terlalu besar. Cat putihnya masih mengelupas, tapi Bibi Lastri sudah menambal beberapa bagian dengan cat baru yang warnanya sedikit berbeda. Pohon mangga di halaman masih ada. Lebih tua, lebih rimbun, dengan buah-buah muda yang menggantung seperti lentera hijau.
Pintu depan terbuka. Bibi Lastri muncul, tubuhnya yang pendek terbungkus kebaya lusuh, rambutnya yang sudah memutih diikat sanggul sederhana. Wajahnya keriput, tapi matanya masih tajam.
"Maudy," katanya. Suaranya pecah. Dia memelukku, dan aku membiarkan diriku dipeluk. Untuk beberapa detik, aku cuma berdiri di sana, mencium bau sabun dan kayu bakar yang menempel di tubuh bibiku, dan merasa seperti kembali ke masa kecil.
"Kamu kurusan," kata Bibi sambil melepaskan pelukan. Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kota bikin kamu kurus."
"Kota bikin aku banyak hal, Bib."
Bibi mengangguk, seperti dia mengerti lebih dari yang kukatakan. Dia menggandeng tanganku masuk ke rumah.
Interior rumah itu persis seperti yang kuingat. Dinding kayu dengan foto-foto keluarga yang mulai memudar. Sofa tua dengan sarung yang sudah diganti berkali-kali. Meja makan kayu jati yang menurut ayah sudah ada sejak zaman kakek buyutku. Dan di sudut ruangan, dekat jendela, ada kursi goyang ayah. Kosong. Selalu kosong.
Bibi menyuruhku mandi dan makan. Aku menurut. Kamar mandi di rumah ini masih pakai bak dan gayung, dan airnya dingin sekali sampai gigiku bergemeletuk. Tapi setelahnya, tubuhku terasa lebih ringan. Aku duduk di meja makan, menyantap nasi, tempe goreng, dan sayur lodeh yang Bibi masak, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku makan sampai habis.
"Maudy," kata Bibi sambil menuangkan teh ke gelasku. "Kamu nggak cerita kenapa pulang."
Aku menatap uap yang mengepul dari gelas. "Kena PHK, Bib. Terus mergokin pacar selingkuh. Dua-duanya dalam satu hari."
Bibi nggak terkejut. Dia cuma mengangguk pelan, seperti dia sudah tahu semua ini akan terjadi. "Ayah kamu dulu bilang, kota itu kayak sungai yang deras. Kalau kamu nggak hati-hati, kamu bisa tenggelam."
"Ayah selalu benar, ya?"
"Selalu," kata Bibi. "Makanya dia titip pesan di surat wasiat."
Aku menghela napas. "Bib, soal wasiat itu. Aku nggak bisa janji apa-apa. Aku pulang karena nggak ada tempat lain. Bukan karena aku mau nikah sama orang desa yang nggak kukenal."
Bibi tersenyum. Senyum yang sama seperti senyum ayah waktu aku menertawakan permintaannya. "Kita lihat aja nanti."
---
Minggu pertama di desa, aku menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah. Debu setahun menumpuk di sudut-sudut, di bawah kasur, di rak-rak buku. Aku menemukan barang-barang masa kecilku. Boneka beruang yang sudah botak. Buku cerita tentang hutan Kalimantan yang menjadi alasan aku kuliah lingkungan. Dan album foto yang belum pernah kubuka sejak ayah meninggal.
Aku duduk di lantai kamar, membuka album itu pelan-pelan. Ada foto ayah waktu muda, berdiri di depan rumah ini dengan kemeja putih dan senyum lebar. Ada foto ibuku, yang meninggal waktu aku masih SD, sedang menyiram bunga di halaman. Ada foto aku kecil, telanjang bulat, sedang main air di sungai belakang rumah.
Sungai itu. Aku menutup album dan memutuskan untuk melihatnya.
Jalan setapak menuju sungai masih sama. Melewati kebun kopi milik tetangga, lalu turun ke lembah kecil yang ditumbuhi pohon-pohon bambu. Suara air mengalir terdengar sebelum sungainya terlihat. Dan waktu aku sampai di tepi, aku berhenti.
Sungainya masih jernih. Batu-batu besar masih tersusun seperti yang kuingat. Dan di salah satu batu itu, ada seseorang.
Seorang laki-laki. Duduk dengan punggung menghadapku, kemeja putihnya dilepas dan diletakkan di samping. Punggungnya lebar, warnanya sawo matang, dengan otot-otot yang terbentuk dari kerja, bukan dari gym. Rambutnya hitam, agak panjang di bagian belakang, dan dia sedang... memancing? Nggak, dia cuma duduk di sana, menikmati suara air.
Aku ragu. Mau balik atau lanjut. Tapi sebelum aku bisa memutuskan, dia menoleh.
Dan dunia yang baru saja kubangun kembali dari puing-puing, goyah lagi.
Wajahnya... aku nggak punya kata lain selain *hot*. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan matanya hitam pekat seperti kopi tanpa susu. Dia tersenyum, dan senyum itu membuat sudut matanya berkerut. Dia berdiri, mengambil kemejanya, dan berjalan ke arahku.
"Maudy, ya?" katanya.
Suaranya dalam. Berat. Seperti suara gitar bass yang dipetik pelan.
"Aku Gunawan," lanjutnya. "Tetangga kamu. Rumahku di sebelah kebun kopi."
Aku mengangguk. Mulutku kering. "Oh. Halo."
Dia mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. Tangannya kasar, hangat, dan genggamannya mantap. Dia menatapku sedikit terlalu lama, dan aku merasa seperti sedang dilihat sampai ke dalam.
"Bibi Lastri bilang kamu baru pulang dari Jakarta," katanya. "Kota yang ramai, ya."
"Ramai," kataku. "Terlalu ramai."
Gunawan melepaskan tanganku, tapi tatapannya masih menempel. "Di sini nggak ramai. Kadang terlalu sepi. Tapi kamu akan terbiasa."
Aku nggak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma tersenyum tipis dan berbalik, berjalan cepat kembali ke rumah, dengan jantung yang berdebar aneh dan perasaan bahwa hidupku di desa ini baru saja menjadi jauh lebih rumit.
---
Malam itu aku nggak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur yang bunyinya berderit setiap kali aku bergerak, menatap langit-langit kayu, dan memikirkan Gunawan. Bukan karena apa-apa. Cuma karena... karena dia ada di sana. Di sungai. Di tempat yang selama ini kuingat sebagai tempatku sendiri.
Aku memutar tubuh, memeluk bantal, dan mencoba mengalihkan pikiran. Tapi otakku keras kepala. Dia terus memutar ulang gambar punggung Gunawan. Otot-otot yang bergerak waktu dia berdiri. Cara kemejanya jatuh di bahunya. Senyumnya.
*Astaga, Maudy. Kamu baru putus. Kamu baru di-PHK. Kamu baru pindah. Jangan bikin masalah baru.*
Tapi tubuhku nggak setuju. Ada rasa hangat yang menjalar di perutku, rasa yang sudah lama nggak kurasakan. Sejak Rian, aku memang jarang... ya. Sibuk kerja. Sibuk kampanye. Sibuk jadi orang yang selalu punya agenda. Seks jadi nomor terakhir di daftar.
Tapi malam ini, di kamar yang berbau kayu dan kapur barus, tubuhku mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Masih muda. Masih punya hasrat.
Aku menggeser tanganku ke bawah. Pelan-pelan. Menyentuh perutku sendiri, lalu lebih rendah lagi. Aku menutup mata dan membayangkan tangan yang kasar, bukan tanganku sendiri. Tangan yang lebih besar, lebih hangat. Tangan Gunawan.
Napasku mulai berat. Jari-jariku bergerak di bawah selimut, mengikuti irama yang sudah lama nggak kunikmati. Aku membayangkan dia di sini, di kasur ini, tubuhnya di atas tubuhku. Membayangkan suaranya yang dalam berbisik di telingaku. Membayangkan...
Aku tersentak. Membuka mata. Menarik tanganku.
*Nggak.*
Aku duduk di kasur, mengusap wajah dengan kedua tangan. Ini gila. Aku baru kenal dia hari ini. Aku bahkan nggak tahu siapa dia sebenarnya. Bibi cuma bilang dia tetangga. Tapi tetangga macam apa yang duduk setengah telanjang di sungai sore-sore?
Aku turun dari kasur. Mengambil segelas air dari dapur. Berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang gelap, dan mencoba menenangkan diri.
Di kejauhan, lampu rumah Gunawan masih menyala.
Aku menutup tirai.
---
Besoknya, aku bangun kesiangan. Bibi sudah pergi ke pasar, meninggalkan nasi goreng di meja dan catatan kecil yang bunyinya: *"Bantu Bibi bersihin kebun belakang ya. Rumputnya sudah tinggi."*
Aku makan dengan malas, lalu memakai kaos lusuh dan celana pendek, mengikat rambut jadi ponytail, dan keluar ke kebun belakang. Rumputnya memang sudah tinggi. Ada juga pohon-pohon cabai yang sudah berbuah, dan beberapa tanaman tomat yang mulai membusuk karena nggak dipanen.
Aku mulai mencabut rumput. Pekerjaan yang membosankan tapi menenangkan. Tangan jadi sibuk, pikiran jadi kosong. Aku sempat lupa tentang Gunawan selama... mungkin lima belas menit.
Sampai suara itu datang.
"Kerja bakti, ya?"
Aku menoleh. Gunawan berdiri di batas kebun, di sisi pagar yang memisahkan rumahku dengan rumahnya. Dia memakai kaos abu-abu lusuh dan celana training hitam. Rambutnya sedikit basah, seperti baru mandi. Dan dia tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin.
"Bibi yang nyuruh," kataku, kembali mencabut rumput. "Rumputnya udah kayak hutan."
Gunawan melangkah masuk ke kebunku, tanpa permisi. Dia jongkok di sebelahku, mengambil sabit yang tergantung di pagar, dan mulai memotong rumput dengan gerakan yang efisien. Tangannya cekatan. Otot lengannya bergerak di bawah kulit.
"Aku bantu," katanya. "Kebun ini dulu ayah kamu yang rawat. Dia selalu bilang, kebun yang nggak dirawat itu kayak hati yang nggak diurus. Lama-lama ditumbuhi hal-hal yang nggak kita mau."
Aku berhenti mencabut rumput. "Kamu kenal ayahku?"
Gunawan mengangguk. "Dia yang ngajarin aku mancing. Waktu aku masih kecil. Aku sering main ke rumah ini. Kamu mungkin nggak ingat, kamu masih kecil banget waktu itu."
Aku menatapnya, mencoba menggali memori. Ada bayangan samar tentang seorang anak laki-laki kurus yang datang ke rumah, yang duduk di beranda dengan ayah, yang mengajari aku cara membuat perangkap ikan dari bambu. Tapi wajahnya sudah kabur. Terlalu lama.
"Kamu yang bikin perangkap ikan dari bambu?" tanyaku.
Gunawan tersenyum lebih lebar. "Kamu masih ingat."
"Samar-samar."
Kami bekerja berdampingan tanpa bicara untuk beberapa waktu. Suara sabit memotong rumput, suara burung di pohon mangga, suara angin yang lewat di antara daun-daun. Aku menyadari bahwa ini pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku bekerja tanpa ponsel di tangan, tanpa notifikasi, tanpa tuntutan.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Gunawan tiba-tiba.
Aku menghela napas. "Panjang ceritanya."
"Aku punya waktu."
Aku menatapnya. Matanya yang hitam itu menatapku dengan tulus, tanpa menghakimi. Dan entah kenapa, aku merasa bisa bicara.
"Kena PHK," kataku. "Terus pacarku selingkuh. Dua-duanya dalam satu hari. Aku nggak punya tempat lain, jadi aku pulang."
Gunawan mengangguk pelan. Dia nggak bilang "kasihan" atau "sabar ya" atau kalimat-kalimat kosong yang biasanya orang bilang. Dia cuma diam, dan diamnya terasa lebih menenangkan dari kata-kata apa pun.
"Kamu?" tanyaku. "Kenapa kamu masih di sini?"
Gunawan memotong rumput terakhir, lalu berdiri dan mengusap tangannya. "Aku pernah pergi. Ke Jakarta. Kerja di sana beberapa tahun."
"Terus?"
"Terus aku pulang." Dia menatapku, dan ada sesuatu di matanya yang gelap, sesuatu yang nggak dia ceritakan. "Kota itu nggak baik buat aku."
Aku ingin bertanya lebih banyak. Tapi Bibi muncul di pintu belakang, memanggil kami untuk makan siang. Gunawan menolak dengan sopan, bilang dia harus pulang. Tapi sebelum pergi, dia menoleh ke arahku.
"Maudy," katanya. "Kalau kamu butuh bantuan, rumahku di sebelah. Jangan sungkan."
Aku mengangguk. Dia berjalan pergi, dan aku menonton punggungnya sampai hilang di balik pagar.
Bibi berdiri di sampingku, menyilangkan tangan. "Gunawan itu pemuda yang baik."
"Katanya dia pernah di Jakarta."
"Ya. Dia kerja di sana. Tapi dia nggak pernah cerita kenapa pulang. Cuma bilang dia muak dengan kota." Bibi menatapku. "Sama kayak kamu."
Aku nggak menjawab. Aku masuk ke rumah, makan siang dengan pikiran yang melayang-layang, dan mencoba meyakinkan diri bahwa Gunawan cuma tetangga. Cuma teman masa kecil. Cuma orang yang kebetulan ada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Tapi malam itu, waktu aku berbaring di kasur, aku memikirkan dia lagi. Tentang tangannya yang kasar. Tentang suaranya yang dalam. Tentang cara dia menatapku seperti dia bisa melihat sesuatu yang orang lain nggak lihat.
Dan aku membiarkan tanganku bergerak lagi. Lebih lama kali ini. Lebih perlahan. Sampai napasku berat dan tubuhku bergetar dan aku menekan wajahku ke bantal untuk menahan suara.
Setelahnya, aku berbaring di sana, menatap langit-langit, dan merasa bersalah sekaligus lega.
*Ini cuma karena aku lama nggak.* Kataku pada diri sendiri. *Nggak ada hubungannya dengan dia.*
Tapi aku tahu itu bohong.
---
Hari-hari berikutnya, aku mulai terbiasa dengan ritme desa. Bangun pagi, bantu Bibi di dapur, bersih-bersih rumah, kadang ke pasar. Sore-sore aku jalan ke sungai, dan kadang, kalau kebetulan, aku bertemu Gunawan di sana.
Kami mulai bicara lebih banyak. Tentang hal-hal kecil. Tentang kopi yang dia tanam di kebunnya. Tentang mangga di halaman rumahku yang sudah mulai matang. Tentang kenangan masa kecil yang ternyata kami bagi bersama, meskipun aku cuma ingat sebagian.
Gunawan adalah orang yang pendiam, tapi bukan karena dia nggak punya apa-apa untuk dikatakan. Dia cuma memilih kata-katanya dengan hati-hati. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti sesuatu yang sudah dia pikirkan matang-matang. Dan aku suka itu. Aku suka bahwa dia nggak perlu mengisi keheningan dengan obrolan kosong.
Suatu sore, kami duduk di batu besar di tepi sungai. Aku membawa bekal yang Bibi siapkan, dan kami makan bersama. Nasi dengan ikan bakar dan sambal terasi. Gunawan makan dengan lahap, sementara aku menontonnya dan merasa hangat di dada.
"Kenapa kamu nggak nikah?" tanyaku tiba-tiba.
Gunawan berhenti mengunyah. Dia menatapku, lalu tersenyum. "Siapa bilang aku nggak nikah?"
Jantungku berhenti sejenak. "Kamu sudah nikah?"
"Belum." Dia tertawa. Tawanya rendah dan bergetar. "Aku cuma bercanda. Aku belum nikah. Belum ketemu yang tepat, mungkin."
"Di desa ini nggak ada yang tepat?"
Gunawan menatap sungai. "Banyak yang baik. Tapi aku... aku punya masa lalu yang rumit. Nggak semua orang bisa menerima."
Aku ingin bertanya tentang masa lalu itu. Tapi aku tahu batas. Dan aku juga punya masa lalu sendiri yang belum selesai kubongkar.
"Kamu?" tanya Gunawan balik. "Pacar kamu di Jakarta, dia yang salah. Tapi kenapa kamu nggak cari yang lain di sana?"
Aku tertawa pahit. "Setelah Rian, aku nggak percaya sama laki-laki kota. Terlalu banyak topeng."
Gunawan menatapku. "Orang desa juga pakai topeng, Maudy. Cuma topengnya beda."
Ada sesuatu dalam cara dia mengatakan itu yang membuatku merasa dia sedang mengungkapkan sesuatu tanpa benar-benar mengungkapkan. Aku menatap matanya, dan untuk beberapa detik, kami cuma duduk di sana, saling menatap, dengan suara sungai mengisi keheningan.
Lalu Gunawan mengulurkan tangan. Menyentuh ujung jariku. Pelan. Seperti bertanya tanpa kata-kata.
Aku nggak menarik tanganku.
Jari-jarinya menyusuri punggung tanganku, hangat dan kasar. Napasku mulai berat. Aku menatap tangannya, lalu menatap wajahnya. Dia menatapku dengan intensitas yang membuat perutku berkontraksi.
"Maudy," katanya pelan. "Aku nggak mau main-main."
"Aku juga nggak."
Dia menarik tangannya. Berdiri. Mengambil jaketnya yang tergeletak di batu. "Aku harus pulang. Ada kerjaan."
Aku mengangguk, meskipun aku nggak ingin dia pergi. Aku menonton dia berjalan pergi, dan kali ini, aku merasa kehilangan yang aneh. Seperti sesuatu yang baru saja kumiliki, lalu diambil dariku.
Malam itu, aku mandi dengan air dingin. Lebih dingin dari biasanya. Aku berdiri di bawah gayung, menggigil, dan mencoba memadamkan api yang menyala di dalam diriku.
Nggak berhasil.
Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit, dan membayangkan tangan Gunawan. Bukan cuma jarinya di tanganku. Tapi tangannya di tubuhku. Di leherku. Di dadaku. Di antara pahaku.
Aku membuka kancing piyamaku. Satu per satu. Pelan-pelan. Lalu aku menyentuh diriku sendiri, membayangkan itu tangan dia. Membayangkan dia di atasku, di bawahku, di dalamku. Membayangkan suaranya yang dalam berbisik di telingaku, memanggil namaku.
Aku mencapai puncak dengan suara tertahan, tubuhku melengkung di kasur, dan setelahnya, aku berbaring di sana, basah oleh keringat, dan merasa lebih kosong dari sebelumnya.
*Ini salah*, kataku pada diri sendiri. *Dia tetangga. Dia teman ayahmu. Dia...*
Tapi tubuhku nggak peduli. Tubuhku cuma tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam setahun, aku merasa hidup.
---
Besoknya, aku memutuskan untuk menjauh. Aku pergi ke pasar dengan Bibi, membantu dia belanja, dan menghabiskan seharian di luar rumah. Aku nggak pergi ke sungai. Aku nggak menoleh ke rumah Gunawan. Aku mencoba untuk melupakan.
Tapi desa itu kecil. Dan Gunawan ada di mana-mana.
Aku melihatnya di warung kopi, sedang bicara dengan pak tani. Aku melihatnya di jalan, mengendarai motornya, dengan rambut yang berkibar di angin. Aku melihatnya di masjid, duduk di barisan paling belakang, dengan wajah yang khusyuk.
Setiap kali aku melihatnya, jantungku berdebar. Setiap kali aku melihatnya, aku mengingat malam-malam di mana aku menyentuh diriku sendiri sambil membayangkan dia.
Dan setiap kali, aku merasa lebih bersalah.
Minggu kedua, Bibi mengajakku ke pengajian di rumah Bu RT. Aku datang dengan malas, duduk di sudut, dan mencoba untuk nggak tertidur. Tapi di tengah pengajian, pintu terbuka, dan Gunawan masuk.
Dia memakai kemeja batik yang rapi, dan rambutnya disisir ke belakang. Dia duduk di seberang ruangan, dan matanya langsung menemukanku. Dia tersenyum tipis, dan aku menundukkan kepala, pura-pura sibuk membaca Al-Quran.
Setelah pengajian, Bu RT menyajikan teh dan kue. Aku berdiri di sudut, memegang cangkir, dan berharap bisa segera pulang. Tapi Gunawan menghampiriku.
"Kamu menghindar," katanya.
Aku menatapnya. "Nggak."
"Kamu nggak ke sungai lagi."
"Aku sibuk."
Gunawan menatapku lama. "Maudy, kalau aku bikin kamu nggak nyaman, bilang aja. Aku bisa jaga jarak."
Aku menggeleng. "Bukan kamu. Aku yang... aku yang bikin diriku sendiri nggak nyaman."
Dia mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
Aku menatap cangkir di tanganku. "Aku baru putus. Aku baru pindah. Aku nggak mau... aku nggak mau bikin kesalahan lagi."
Gunawan diam sebentar. Lalu dia berkata pelan, "Kesalahan itu bagian dari hidup, Maudy. Yang penting kamu belajar dari itu."
Aku menatapnya. Matanya hangat. Nggak menghakimi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bisa jujur.
"Aku nggak mau jatuh sama orang yang salah," kataku.
Gunawan tersenyum. "Siapa bilang aku orang yang salah?"
Aku nggak punya jawaban untuk itu.
---
Malam itu, aku nggak bisa tidur lagi. Aku berbaring di kasur, memutar dan membalikkan tubuh, dan akhirnya memutuskan untuk keluar. Udara malam dingin, dan bintang-bintang di langit desa ini jauh lebih terang dari yang pernah kulihat di Jakarta.
Aku duduk di beranda, memeluk lutut, dan menatap langit. Suara jangkrik mengisi malam. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah dan daun.
Lalu aku mendengar langkah kaki.
Aku menoleh. Gunawan berdiri di depan pagar, memakai jaket dan celana panjang. Dia menatapku, dan aku menatapnya.
"Nggak bisa tidur?" tanyanya.
Aku menggeleng.
Dia membuka pagar, masuk ke halaman, dan duduk di sampingku di beranda. Dia nggak bilang apa-apa. Cuma duduk di sana, menatap langit bersamaku.
Kami duduk dalam keheningan untuk waktu yang lama. Tapi bukan keheningan yang canggung. Keheningan yang nyaman. Seperti dua orang yang sudah saling kenal lama.
"Gunawan," kataku akhirnya.
"Hm?"
"Aku... aku nggak tahu harus bilang apa."
Dia menoleh. "Nggak perlu bilang apa-apa."
Dia mengulurkan tangan. Kali ini bukan cuma menyentuh ujung jari. Dia menggenggam tanganku. Erat. Dan aku membiarkannya.
"Di Jakarta," kataku pelan, "aku selalu merasa harus jadi seseorang. Harus sukses. Harus punya karier. Harus punya pacar yang keren. Harus... harus sempurna. Di sini, aku nggak tahu harus jadi siapa."
Gunawan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Di sini, kamu cuma perlu jadi Maudy. Yang lain nggak penting."
Aku menatapnya. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat lebih lembut, lebih muda. Ada kerutan di sudut matanya yang nggak kulihat di siang hari. Ada bekas luka kecil di dagunya yang nggak pernah kuperhatikan.
"Kamu pernah bilang kamu punya masa lalu yang rumit," kataku. "Apa itu?"
Gunawan diam. Dia menatap langit, lalu menatapku. "Aku pernah kerja di Jakarta. Di tempat yang... nggak baik. Aku melakukan hal-hal yang nggak aku banggakan. Dan aku pulang karena aku nggak mau jadi orang itu lagi."
"Kamu berubah?"
"Aku mencoba."
Aku mengangguk. "Aku juga mencoba."
Dia tersenyum. Dan senyum itu, di bawah cahaya bulan, terasa seperti janji.
Dia mengangkat tanganku ke bibirnya. Mencium punggung tanganku. Pelan. Lembut. Dan aku merasa seluruh tubuhku terbakar.
"Gunawan," bisikku.
Dia menatapku. Matanya gelap. "Maudy."
Dan tanpa kata-kata lagi, dia mencondongkan tubuhnya. Bibirnya menyentuh bibirku. Pelan. Seperti bertanya. Aku menjawab dengan menekan bibirku ke bibirnya. Lebih keras.
Ciuman itu berkembang. Dari lembut menjadi lapar. Tangannya naik ke leherku, ke pipiku, ke rambutku. Dia menarik ikatan rambutku, dan rambutku jatuh ke bahu. Dia mengusapnya, menggenggamnya, menariknya pelan sampai aku mendesis.
"Kamu yakin?" bisiknya di sela ciuman.
"Aku yakin."
Dia berdiri, menarik tanganku, dan membawaku masuk ke rumah. Kami melewati ruang tamu dengan kursi goyang ayah yang kosong, melewati dapur, dan masuk ke kamarku. Pintu tertutup. Dan dunia luar menghilang.
Kamar itu gelap, cuma diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Gunawan berdiri di depanku, dadanya naik turun. Dia melepas jaketnya. Lalu kaosnya. Lalu sabuknya.
Aku menonton, dengan jantung yang berdebar keras. Tubuhnya lebih bagus dari yang kubayangkan. Punggungnya yang lebar, dadanya yang bidang, perutnya yang rata dengan otot-otot yang terbentuk dari kerja keras. Ada bekas luka di sisi tubuhnya, panjang dan tipis, seperti bekas sayatan lama.
"Kamu mau lihat aku juga?" tanyaku.
Gunawan mengangguk. Tangannya menyentuh ujung kaosku. Pelan-pelan, dia mengangkatnya. Aku mengangkat tanganku, dan kaos itu lewat di atas kepalaku. Lalu dia melepas kancing celana pendekku. Satu per satu. Perlahan.
Aku berdiri di depannya, cuma memakai bra dan celana dalam. Dia menatapku, dan tatapannya seperti tangan yang menyentuh. Aku merasa telanjang sebelum benar-benar telanjang.
"Cantik," bisiknya.
Dia mendekat. Mencium leherku. Di bawah telingaku, di lekuk leherku, di tulang selangkaku. Tangannya membuka kait bra-ku, dan bra itu jatuh. Dia menatap dadaku, lalu menunduk dan menciumnya. Menghisap putingku sampai aku mengerang dan memegang bahunya.
"Gunawan..."
Dia mendorongku ke kasur. Aku jatuh telentang, dan dia menindihku. Kulitnya panas. Napasnya berat. Dia menciumku lagi, lebih dalam, sementara tangannya menyusuri tubuhku. Dari dadaku, ke perutku, ke pinggulku. Jarinya menyelip di pinggang celana dalamku, dan dia menariknya pelan-pelan.
Aku mengangkat pinggulku, membantunya. Celana dalam itu lewat di atas kakiku, dan aku benar-benar telanjang di bawahnya.
Gunawan mundur sebentar. Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu yakin?" tanyanya lagi.
"Aku yakin," kataku. "Aku mau kamu."
Dia melepas celananya. Dan aku menelan ludah.
Dia... besar. Lebih besar dari yang kubayangkan. Dan dia menatapku dengan tatapan yang lapar, tapi juga hati-hati. Seperti dia nggak mau menyakitiku.
Dia menunduk. Mencium perutku. Lalu lebih rendah. Aku merasakan lidahnya menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, dan aku mengerang, menekan kepalanya ke sana. Dia menjilat, menghisap, memasukkan jarinya pelan-pelan. Aku melengkung di kasur, memegang seprai, dan mencoba untuk nggak berteriak.
"Gunawan... please..."
Dia naik. Mencium bibirku, dan aku merasakan rasaku sendiri di lidahnya. Dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Aku merasakan dia, keras dan panas, menekan pahaku.
"Masuk," bisikku. "Sekarang."
Dia mengangguk. Dia menuntun dirinya ke pintu masukku. Pelan-pelan. Aku merasakan tekanan, lalu rasa penuh yang luar biasa. Aku mengerang. Dia berhenti.
"Sakit?"
"Nggak," kataku. "Terus."
Dia mendorong lebih dalam. Pelan. Sampai dia benar-benar masuk. Kami diam sebentar, menikmati sensasi itu. Dia menatapku, dan aku menatapnya. Dan di detik itu, aku merasa terhubung dengan seseorang dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Lalu dia mulai bergerak.
Pelan dulu. Perlahan. Setiap dorongan membuatku mengerang. Dia mencium leherku, dadaku, sementara pinggulnya bergerak dengan ritme yang stabil. Aku mengangkat pinggulku untuk menemuinya, dan dia mengerang pelan.
"Kamu... kamu hangat," bisiknya.
"Kamu... kamu dalam."
Dia mempercepat. Lebih keras. Lebih cepat. Kasur berderit di bawah kami. Aku memegang punggungnya, mencakar kulitnya, dan dia mendesis. Dia menciumku, menelan eranganku, sementara tubuhnya menghantam tubuhku dengan kekuatan yang membuat mataku berputar.
"Gunawan... aku mau..."
"Aku juga," katanya. "Bersama."
Dia mendorong lebih dalam, lebih keras, dan aku merasakan gelombang yang datang dari dalam. Tubuhku menegang. Aku mengerang, menekan wajahku ke bahunya, dan mencapai puncak. Dia menyusul beberapa detik kemudian, tubuhnya bergetar, dan dia mengerang namaku.
Kami berbaring di sana, terengah-engah, tubuh kami masih terhubung. Keringat menempel di kulit kami. Napas kami bercampur.
Gunawan mencium keningku. "Kamu luar biasa."
Aku tersenyum. "Kamu juga."
Dia menarik diri, dan aku merasakan kehilangan yang aneh. Dia berbaring di sampingku, menarikku ke dadanya. Aku meletakkan kepalaku di lengannya, dan kami berbaring dalam keheningan.
Di luar, jangkrik masih bernyanyi. Bulan masih bersinar. Dan aku, untuk pertama kalinya dalam setahun, merasa seperti aku berada di tempat yang benar.
"Gunawan," bisikku.
"Hm?"
"Jangan pergi."
Dia memelukku lebih erat. "Aku nggak akan pergi."
---
Aku bangun pagi-pagi, dengan tubuh yang pegal dan hati yang ringan. Gunawan masih tidur di sampingku, wajahnya tenang, dadanya naik turun pelan. Aku menatapnya untuk beberapa saat, mengingat malam yang baru saja terjadi, dan tersenyum.
Lalu aku mendengar suara Bibi di dapur.
Panik, aku mengguncang Gunawan. "Bangun. Bibi udah bangun."
Gunawan membuka mata. Dia tersenyum, lalu melihat ke arah pintu, dan langsung mengerti. Dia bangun dengan cepat, memakai celananya, dan mencari kaosnya.
"Lewat jendela," bisikku.
Dia mengangguk. Dia menciumku cepat, lalu membuka jendela dan melompat keluar. Aku menonton dia berlari melewati kebun, menghindari pandangan, dan menghilang di balik pagar.
Aku menutup jendela. Bersandar di dinding, dan menahan tawa.
Bibi muncul di pintu kamarku. "Maudy, kamu udah bangun? Ayo sarapan."
Aku mengangguk, pura-pura menguap. "Iya, Bib. Aku baru bangun."
Bibi menatapku. Matanya menyipit. "Kamu kelihatan... beda."
"Beda gimana?"
"Kamu kelihatan... bahagia."
Aku tersenyum. "Mungkin karena udara desa, Bib."
Bibi mengangguk, tapi aku tahu dia nggak percaya. Dia berbalik dan kembali ke dapur, dan aku menghela napas lega.
Malam itu, aku bertemu Gunawan lagi di sungai. Kami duduk di batu besar, dan dia memelukku dari belakang. Dagunya di bahuku.
"Tadi pagi Bibi curiga," kataku.
"Bibi selalu curiga," kata Gunawan. "Dia tahu segalanya tentang desa ini."
"Kamu nggak takut?"
Gunawan diam sebentar. "Takut apa?"
"Takut orang tahu. Tentang kita."
Gunawan mencium leherku. "Aku nggak takut. Kamu?"
Aku menatap sungai yang mengalir di depan kami. "Aku... aku nggak tahu. Aku baru kenal kamu. Aku nggak mau buru-buru."
Gunawan mengangguk. "Kita pelan-pelan aja. Nggak ada yang perlu diburu-buru."
Aku menoleh, menatapnya. "Kamu serius sama aku?"
Gunawan menatapku dalam-dalam. "Aku nggak pernah se-serius ini."
Dia menciumku. Dan aku membalas ciumannya, dengan sungai yang mengalir di bawah kami, dan matahari yang mulai tenggelam di balik gunung.
---
Minggu-minggu berikutnya, hidupku di desa mulai punya warna baru. Aku bangun pagi dengan semangat, membantu Bibi, dan sore-sore bertemu Gunawan. Kadang di sungai, kadang di kebun, kadang di rumahnya yang sederhana tapi rapi.
Rumah Gunawan kecil, cuma satu kamar, dengan dapur di belakang dan beranda yang menghadap kebun kopi. Dia tinggal sendiri. Nggak ada foto keluarga di dinding, nggak ada tanda-tanda dia punya orang tua atau saudara. Aku nggak bertanya. Aku tahu dia akan cerita kalau dia siap.
Kami menghabiskan waktu bersama dengan cara yang sederhana. Memasak, berkebun, kadang cuma duduk di beranda dan menonton hujan. Dan setiap malam, kalau aku bisa menyelinap keluar, aku pergi ke rumahnya, atau dia datang ke rumahku, dan kami menghabiskan malam bersama.
Bercinta dengan Gunawan adalah pengalaman yang berbeda setiap kali. Kadang lembut, penuh ciuman dan bisikan. Kadang keras, penuh cakaran dan erangan. Kadang lucu, ketika kami tertawa di tengah-tengah karena ada suara aneh atau posisi yang salah. Tapi selalu memuaskan. Selalu membuatku merasa diinginkan.
Suatu malam, dia bertanya, "Kamu pernah bercinta di bawah hujan?"
Aku menggeleng. "Belum."
Dia tersenyum. Dan dia menarik tanganku keluar, ke halaman, di mana hujan turun dengan deras. Dia melepas kaosnya, lalu celananya. Aku menonton, dengan air hujan membasahi wajahku. Lalu aku melepas pakaianku juga.
Kami bercinta di bawah hujan. Di halaman belakang rumahnya, di atas rumput yang basah, dengan air yang menghantam kulit kami. Dia menciumku dengan air hujan mengalir di antara bibir kami. Dia masuk ke dalamku dengan gerakan yang lambat, hampir ritualistik. Kami bergerak bersama, dengan suara hujan menutupi suara kami.
Setelahnya, kami duduk di beranda, terbungkus selimut, menonton hujan yang mulai reda. Dia memelukku, dan aku meletakkan kepalaku di dadanya.
"Maudy," katanya.
"Hm?"
"Aku... aku mau cerita tentang masa laluku."
Aku menoleh. "Kamu yakin?"
Dia mengangguk. "Kamu berhak tahu."
Dia menarik napas. "Aku pernah kerja di Jakarta. Bukan kerja kantoran. Aku... aku jadi bagian dari sebuah kelompok. Kami melakukan hal-hal yang nggak legal. Aku nggak mau cerita detailnya. Tapi aku pernah menipu orang. Aku pernah mencuri. Aku pernah... melakukan hal-hal yang bikin aku nggak bisa tidur nyenyak selama bertahun-tahun."
Aku diam. Jantungku berdebar.
"Suatu hari, ada pekerjaan yang salah. Ada orang yang terluka. Bukan karena aku. Tapi karena kelompokku. Dan aku... aku nggak bisa lagi. Aku keluar. Aku pulang ke sini. Dan aku mencoba untuk jadi orang yang lebih baik."
Dia menatapku. "Aku nggak tahu apakah kamu bisa menerima itu. Tapi aku nggak mau bohong sama kamu."
Aku menatapnya. Wajahnya gelap, tapi matanya jujur. Aku mengulurkan tangan, menyentuh pipinya.
"Gunawan," kataku. "Aku juga punya masa lalu. Aku pernah jadi orang yang sibuk sampai lupa diri. Aku pernah bersama orang yang salah. Aku nggak sempurna. Dan aku nggak mencari orang yang sempurna."
Dia menatapku, dan matanya berkaca-kaca. "Kamu... kamu nggak marah?"
"Aku nggak marah. Aku cuma... aku cuma mau kamu jujur. Dan kamu sudah jujur."
Dia memelukku. Erat. Seperti aku adalah satu-satunya hal yang menahannya dari tenggelam. Dan aku membalas pelukannya, dengan hujan yang mulai berhenti, dan bintang-bintang yang mulai muncul di langit.
---
Tapi kebahagiaan itu nggak bertahan lama.
Suatu sore, aku sedang belanja di pasar dengan Bibi, ketika aku melihat seseorang yang kukenal. Seorang laki-laki dengan kemeja rapi dan celana bahan, berdiri di depan warung kopi, sedang berbicara dengan Pak RT.
Aku mengerutkan dahi. Wajahnya... aku tahu wajahnya.
Lalu dia menoleh. Dan matanya bertemu mataku.
Dia tersenyum. Senyum yang membuat darahku dingin.
Rian.
Pacarku. Mantan pacarku. Berdiri di pasar desa Sumberrejo, seperti dia adalah penduduk asli.
Aku menjatuhkan keranjang belanjaanku. Bibi menoleh. "Maudy, kenapa?"
Aku nggak menjawab. Aku cuma berdiri di sana, menatap Rian yang berjalan ke arahku dengan senyum yang sama seperti waktu dia masih bersamaku. Senyum yang dulu kubilang manis, tapi sekarang terasa seperti racun.
"Maudy," katanya. "Akhirnya aku ketemu kamu."
Aku menelan ludah. "Rian. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Dia tersenyum. "Aku datang untuk kamu. Aku tahu aku salah. Aku mau minta maaf. Aku mau... aku mau memperbaiki semuanya."
Aku menatapnya. Dan di belakangnya, di kejauhan, aku melihat Gunawan. Dia berdiri di depan warung, dengan wajah yang gelap, menatap kami.
Dunia yang baru saja kubangun, goyah lagi.
Dan aku tahu, ini baru permulaan.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]