Cinta Yang Dikhianati

·

Published 10/15/2026
5views
cover image

Orang bilang cinta pertama itu nggak akan pernah bisa dilupakan. Kata orang juga, cinta pertama itu kayak tato. Sekali kamu bikin, dia akan nempel di kulit kamu sampai kapan pun, sampai kulit itu membusuk dan hilang dimakan tanah. Tapi orang-orang itu nggak pernah bilang apa yang harus kamu lakuin kalau tato itu sendiri yang berkhianat. Apa yang harus kamu lakuin kalau orang yang kamu cintai sejak kamu masih bisa pipis di celana itu malah menganggap kamu sebagai sampah yang bisa dia buang kapan saja.

Namaku Randa. Dan ini adalah cerita tentang bagaimana aku menghancurkan hidupku sendiri, tentang bagaimana cinta yang aku kira suci ternyata bisa berubah jadi racun yang membunuh segalanya. Tentang Aldo, laki-laki yang sejak umur tujuh tahun aku yakini akan menjadi suamiku.

Aku ingat betul hari itu. Matahari sore tembus lewat jendela kamar Aldo yang berantakan, bau keringat anak SD habis main bola. Kami duduk di lantai, kaki berselonjor, sambil makan permen karet yang kami beli patungan. Aldo waktu itu masih polos. Masih punya gigi depan yang ompong. Masih punya senyum yang tulus.

"Ran," katanya sambil ngunyah permen karet. "Nanti kalau kita gede, kita nikah ya."

Aku ketawa. Umur tujuh tahun, apa yang kami tau tentang nikah? Tapi aku mengangguk. Aku bilang iya. Dan Aldo, dengan segala kepolosan anak ingusan, mengulurkan kelingkingnya.

"Janji?" tanyanya.

"Janji," jawabku, mengaitkan kelingking kecilku ke kelingkingnya.

Itu janji pertama dan terakhir yang pernah aku pegang teguh seumur hidupku. Sayangnya, cuma aku yang pegang. Aldo sudah lupa janji itu bahkan sebelum kami lulus SD.

SMP adalah masa di mana Aldo berubah. Bukan berubah jadi lebih baik, tapi berubah jadi laki-laki yang aku nggak kenal. Tubuhnya tinggi, suaranya berat, dan tiba-tiba saja semua cewek di sekolah ingin dekat dengannya. Aldo menikmati itu. Dia gonta-ganti pacar kayak ganti kaos kaki. Dua minggu dengan Sinta, sebulan dengan Rina, tiga hari dengan Maya. Aku cuma bisa nonton dari pinggir, sambil pura-pura nggak peduli, sambil pura-pura sibuk dengan buku pelajaranku.

Tapi aku selalu ada. Setiap kali Aldo berantem, aku yang jadi tempat dia mengeluh. Setiap kali Aldo putus, aku yang jadi tempat dia menangis. Aku jadi tong sampah emosionalnya. Aku tau itu menyedihkan. Aku tau itu memalukan. Tapi aku nggak bisa berhenti. Karena setiap kali Aldo datang ke rumahku dengan muka bonyok habis berantem, dan dia bilang "Ran, cuma kamu yang ngerti aku," hatiku mekar kayak bunga bangkai yang baunya busuk tapi tetap indah di mataku.

"Aldo, kamu itu ya," kataku suatu hari, waktu kami duduk di teras rumahku. Aldo baru saja putus dari pacarnya yang entah yang keberapa. "Kamu janji mau nikahin aku dulu. Sekarang kamu malah kayak gini."

Aldo ketawa. Ketawa yang aneh. Ketawa yang bikin perutku mual.

"Ran, itu kan cuma omongan anak kecil," katanya sambil menyalakan rokok. Dia mulai merokok waktu SMP. Aku benci baunya. Tapi aku nggak pernah bilang. "Kita udah gede sekarang. Masa kamu masih percaya sama hal kayak gitu?"

Aku diam. Lidahku kelu. Dan Aldo, dengan cueknya, melanjutkan ceritanya tentang cewek baru yang dia taksir.

SMA. Masa di mana aku berharap semuanya akan berubah. Masa di mana aku berharap Aldo akan sadar bahwa aku selalu ada untuknya. Tapi harapan itu hancur berkeping-keping waktu Aldo bertemu Dhea.

Dhea. Cewek yang sempurna. Kulitnya putih, rambutnya panjang lurus, senyumnya manis, dan dia baik. Dia benar-benar baik. Itu yang paling menyakitkan. Kalau Dhea itu jahat, aku bisa membencinya. Kalau Dhea itu sombong, aku bisa merendahkannya. Tapi Dhea baik. Dhea gemesin. Dhea pintar. Dhea sempurna. Dan Aldo jatuh cinta setengah mati.

Aldo berubah total. Dia yang dulu gonta-ganti pacar, sekarang setia banget sama Dhea. Apa pun yang Dhea bilang, dia lakuin. Dhea bilang jangan merokok, Aldo berhenti merokok. Dhea bilang jangan berantem, Aldo berhenti berantem. Dhea bilang jangan dekat-dekat Randa, dan Aldo, tanpa pikir panjang, menjauhiku kayak aku ini kena penyakit menular.

Aku ingat hari itu. Hari di mana aku memutuskan untuk speak up. Hari di mana aku memutuskan untuk mengingatkan Aldo tentang janji masa kecil kami. Kami bertemu di kantin sekolah. Aldo sedang duduk sendirian, menunggu Dhea yang sedang di kelas. Aku duduk di depannya. Tanganku gemetar.

"Aldo," kataku. "Kita pernah janji mau nikah. Kamu ingat?"

Aldo menatapku. Tatapan yang dingin. Tatapan yang nggak pernah aku lihat sebelumnya.

"Ran, kita udah bukan anak kecil lagi," katanya. Suaranya tajam. "Itu cuma omongan anak kecil. Kamu harus move on."

"Aku nggak bisa move on, Aldo. Aku cinta sama kamu. Dari dulu. Kamu tau itu."

Aldo menghela napas. Dia mengeluarkan ponselnya. "Ran, aku udah punya cinta sejatiku. Namanya Dhea. Aku nggak mau Dhea salah paham. Jadi tolong, jangan pernah bahas ini lagi."

Air mataku jatuh. Aku nggak bisa nahan. Di depan Aldo, di depan semua orang di kantin, aku menangis. Tapi Aldo cuek. Dia malah menekan tombol panggil di ponselnya.

"Halo, Sayang," katanya. Suaranya berubah lembut. Lembut yang dulu dia pakai waktu bicara sama aku. "Aku kangen banget sama kamu. Cepetan ke kantin ya."

Aku berdiri. Aku berlari keluar kantin. Aku nggak peduli kalau semua orang melihatku menangis. Aku nggak peduli kalau aku terlihat memalukan. Yang aku pedulikan cuma satu. Aldo nggak pernah menoleh. Aldo nggak pernah memanggilku. Aldo nggak pernah peduli.

Malamnya, aku mengirim pesan panjang ke Aldo. Aku bilang aku cinta sama dia. Aku bilang aku nggak bisa hidup tanpa dia. Aku bilang aku akan melakukan apa pun untuknya. Aldo membalas dengan satu kalimat pendek.

"Ran, kamu itu kayak adikku sendiri. Aku nggak bisa cinta sama kamu. Kamu nggak secantik Dhea. Kamu nggak sebaik Dhea. Maaf."

Aku membaca pesan itu seratus kali. Seribu kali. Dan setiap kali aku membacanya, ada sesuatu yang mati di dalam diriku. Sesuatu yang retak. Sesuatu yang akhirnya pecah.

Aldo memang baik sama aku. Dulu. Tapi semua berubah semenjak dia pacaran sama Dhea. Dia nyuekin aku. Dia nggak pernah lagi main ke rumahku. Dia nggak pernah lagi cerita tentang masalahnya. Dia nggak pernah lagi bilang "Ran, cuma kamu yang ngerti aku."

Aku jadi asing di hidupnya.

Dan aku benci itu. Aku benci Dhea. Aku benci Aldo. Tapi yang paling aku benci adalah diriku sendiri. Karena meskipun Aldo sudah menyakitiku berkali-kali, meskipun Aldo sudah menginjak-injak perasaanku, aku masih cinta sama dia. Aku masih ingin dia. Aku masih menginginkan dia sebagai suamiku.

Cinta itu kayak penyakit. Dan aku sudah terinfeksi sejak umur tujuh tahun.

Suatu hari, aku melihat Aldo berantem dengan Dhea di depan gerbang sekolah. Dhea menangis. Aldo menangis. Mereka berdua menangis. Aku nggak tau masalahnya apa, tapi aku melihat peluang. Peluang yang mungkin nggak akan datang dua kali.

Aku menghampiri Aldo setelah Dhea pergi. Aldo duduk di trotoar, kepala di antara kedua tangannya. Aku duduk di sampingnya. Aku nggak bilang apa-apa. Aku cuma duduk di sana. Menemaninya. Seperti yang selalu aku lakukan.

"Ran," kata Aldo akhirnya. Suaranya serak. "Dhea mau putus sama aku."

Aku menahan senyumku. Ini dia. Ini kesempatanku.

"Aldo," kataku lembut. "Aku selalu ada buat kamu. Kamu tau itu."

Aldo menatapku. Matanya merah. "Ran, aku nggak tau harus gimana. Aku cinta banget sama Dhea. Aku nggak mau kehilangan dia."

Dan di situ, di trotoar yang panas, dengan Aldo yang menangis di sampingku, aku membuat keputusan yang akan menghancurkan hidup kami berdua. Aku memutuskan untuk merebut Aldo dengan cara apa pun. Bahkan kalau cara itu adalah cara yang paling kotor.

Aku tau Aldo nggak akan pernah mau tidur denganku. Aku tau Aldo masih perawan secara moral, dia nggak akan mau menyentuhku karena dia menganggapku adiknya. Tapi aku juga tau satu hal. Aldo nggak bisa menolak Dhea. Dan Dhea, meskipun mereka berantem, masih cinta sama Aldo. Dhea nggak akan mau tidur sama Aldo sebelum mereka menikah. Itu yang bikin Aldo frustrasi. Itu yang bikin Aldo selalu mengeluh.

Jadi aku membuat rencana. Rencana yang bahkan aku sendiri malu untuk mengakuinya. Aku membeli obat perangsang dari temanku yang tau tempat belinya. Aku menyimpannya di kamarku. Aku menunggu waktu yang tepat.

Dan waktu itu datang lebih cepat dari yang aku duga.

Aldo berantem lagi dengan Dhea. Kali ini lebih parah. Dhea bilang dia mau putus. Aldo putus asa. Dia mengirim pesan ke aku. "Ran, aku butuh kamu."

Aku membalas. "Datang ke rumahku. Rumah sepi. Orang tuaku lagi keluar kota."

Aldo datang. Dia duduk di ruang tamu, mukanya kusut, matanya bengkak. Aku membuatkan es jeruk untuknya. Es jeruk yang sudah aku campur dengan obat perangsang. Dosis yang cukup untuk membuat laki-laki kehilangan akal sehatnya.

Aldo meminumnya. Dia nggak curiga. Kenapa dia harus curiga? Aku ini Randa. Adiknya. Teman masa kecilnya. Orang yang selalu ada untuknya.

Aku duduk di sampingnya. Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dan kemudian, aku melihat perubahan itu. Mata Aldo mulai berkaca-kaca. Napasnya mulai berat. Tangannya mulai gemetar.

"Ran," katanya. Suaranya serak. "Aku... aku kenapa ya?"

Aku tersenyum. "Nggak apa-apa, Aldo. Aku di sini."

Dan kemudian, Aldo menciumku.

Aku nggak tau apakah itu karena obat atau karena dia memang menginginkanku. Tapi aku nggak peduli. Aku membalas ciumannya. Aku membiarkan dia menanggalkan pakaianku. Aku membiarkan dia meniduriku di sofa ruang tamu rumahku.

Aku menahan sakitnya. Aku menahan air mataku. Karena meskipun ini bukan cara yang aku impikan, meskipun ini bukan malam pertama yang aku bayangkan, Aldo ada di dalam diriku. Aldo menjadi milikku. Setidaknya untuk malam ini.

Tapi kemudian, di tengah-tengah, Aldo mengeluarkan suara. Suara yang hancur. Suara yang membuat hatiku remuk.

"Dhea," desisnya. "Dhea, sayang. Aku cinta kamu."

Aku membeku. Air mataku jatuh. Tapi Aldo nggak berhenti. Dia terus bergerak. Dia terus memanggil nama Dhea. Berkali-kali. Sampai akhirnya dia selesai, dan dia tertidur di atas tubuhku, dengan nama Dhea masih terngiang di bibirnya.

Aku menangis. Aku menangis sampai mataku kering. Aku menangis sampai aku nggak bisa menangis lagi.

Dan kemudian, aku menunggu.

Aku menunggu Aldo terbangun. Aku menunggu dia melihat keadaannya. Aku menunggu dia melihat darah di sofa. Aku menunggu dia melihat aku yang telanjang di sampingnya.

Dan ketika Aldo membuka matanya, dan dia melihat semuanya, dan dia menyadari apa yang telah terjadi, aku memasang wajahku. Wajah sembab. Wajah yang penuh air mata. Wajah yang seolah-olah aku ini korban.

"Aldo," kataku. Suaraku bergetar. "Kamu harus bertanggung jawab."



5views

Watch this moment

Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]