Share
Go Live
The Sweat of Divinity
·
Published 9/17/2026
Ketiak saya basah lagi. Bulan Juni di kota ini tidak pernah memberi ampun, dan tubuh saya, tubuh perempuan lima puluh delapan tahun yang sudah lama berdamai dengan bentuknya sendiri, selalu tahu cara mengeluh. Keringat menetes dari lipatan lengan, meninggalkan jejak gelap di kain kebaya yang saya kenakan sejak subuh. Saya tidak pernah repot-repot mencukur rambut di sana. Tidak sejak suami saya meninggal tujuh tahun lalu. Tidak sejak saya memutuskan bahwa tubuh ini milik saya sepenuhnya, bulu dan keringat dan semua yang membuat perempuan lain malu.
Warung saya buka jam enam. Nasi uduk, tempe goreng, sambal terasi yang saya ulek sendiri setiap pagi dengan cobek batu warisan ibu. Tangan saya masih kuat, meski kadang lutut protes kalau terlalu lama berdiri. Pelanggan pertama biasanya Pak Rahmat, tukang parkir yang selalu pesan kopi hitam tanpa gula dan mengeluh tentang anaknya yang tidak mau kuliah. Hari ini dia tidak datang. Yang datang justru seseorang yang membuat saya hampir menjatuhkan sendok sayur.
Dia duduk di kursi paling ujung. Punggung tegak, rambut hitam disisir rapi, kemeja putih lengan panjang meski panasnya bisa membuat orang pingsan. Dia tersenyum, dan saya tahu senyum itu. Saya kenal senyum itu sejak dua puluh tahun lalu, sejak dia masih duduk di bangku kuliah dan saya masih punya suami yang tidur di samping saya setiap malam.
"Bu Gita," katanya. Suaranya lebih berat sekarang. Lebih dalam. "Masih ingat saya?"
Saya tidak menjawab. Saya menuang kopi untuknya, tanpa gula, karena saya ingat dia tidak suka manis. Tangan saya stabil. Jantung saya tidak.
Dia tertawa kecil. "Masih ingat."
"Bung," kata saya, memakai panggilan yang dulu selalu saya pakai untuknya. "Kamu tidak seharusnya ke sini."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa?"
Dia menatap saya. Mata itu, mata yang dulu membuat saya lupa bahwa saya sudah menikah, bahwa saya sudah punya anak, bahwa hidup saya sudah punya jalur yang jelas dan lurus. Sekarang mata itu lebih tua, ada kerutan di sudutnya, tapi tetap sama. Tetap bisa membuat saya merasa seperti perempuan tiga puluh tahun yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Saya sedang mengerjakan proyek di kota ini," katanya. "Tiga bulan. Mungkin lebih."
"Proyek apa?"
"Jembatan. Pemerintah."
Saya mengangguk. Pekerjaan bagus. Dia dulu memang pintar. Salah satu mahasiswa terbaik di fakultas teknik, kata suami saya dulu, dengan bangga, karena dia yang mengenalkan kami. Suami saya yang mempercayakan saya pada murid kesayangannya ketika dia harus dinas ke luar kota. Suami saya yang tidak pernah tahu apa yang terjadi di dapur rumah kami pada malam-malam ketika hujan turun dan listrik mati.
"Saya tidak bisa," kata saya.
"Saya tidak meminta apa-apa."
"Semua orang yang bilang begitu selalu meminta sesuatu."
Dia tersenyum lagi. Kali ini lebih sedih. "Saya hanya ingin tahu kabar Ibu. Itu saja."
Saya menuang kopi lagi untuknya, meski cangkirnya masih penuh. Tangan saya mulai gemetar. Saya letakkan teko di atas meja, agak keras, dan pelanggan lain menoleh. Saya tidak peduli. Saya sudah terlalu tua untuk peduli pada penilaian orang.
"Kabar saya baik," kata saya. "Anak saya sudah kerja di Jakarta. Menantu saya orang baik. Cucu saya dua, keduanya sehat. Saya punya warung ini. Saya punya hidup saya sendiri."
"Saya dengar suami Ibu meninggal."
"Tujuh tahun lalu."
"Saya datang ke pemakaman."
Saya menatapnya. "Saya tidak melihat kamu."
"Kamu tidak melihat siapa pun saat itu. Kamu hanya melihat peti mati."
Dia benar. Saya ingat hari itu, hari ketika saya berdiri di bawah payung hitam dan tanah merah menganga di depan saya, dan saya tidak menangis. Saya tidak menangis karena saya merasa bersalah. Bukan karena cinta yang hilang, tapi karena rahasia yang saya bawa ke liang lahat bersama dia. Suami saya meninggal tanpa pernah tahu bahwa istrinya pernah, sekali, di malam yang gelap dan basah, membuka pintu untuk muridnya sendiri.
"Saya harus masak," kata saya. "Pelanggan saya banyak."
"Saya akan pesan nasi uduk."
"Kamu tidak suka nasi uduk."
"Sekarang saya suka."
Saya menghela napas. Panjang. Keringat mengalir di leher saya, di antara payudara yang sudah tidak kencang lagi, di ketiak yang berbulu dan tidak saya cukur. Saya tidak cantik lagi. Saya tidak muda lagi. Tapi ketika dia menatap saya, saya merasa ada sesuatu yang masih hidup di dalam tubuh tua ini. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang berbahaya.
"Satu porsi," kata saya. "Lalu kamu pergi."
"Baik."
Saya kembali ke dapur. Dapur kecil saya, dengan kompor dua tungku dan asap yang membuat mata perih. Saya menggoreng tempe, mengulek sambal, menanak nasi yang sudah matang sejak subuh. Tangan saya bekerja sendiri, hafal gerakannya, sementara pikiran saya melayang ke masa lalu. Ke malam-malam ketika suami saya tidur pulas dan saya menyelinap keluar kamar. Ke malam-malam ketika dia menunggu di mobilnya, di ujung gang, dan kami berbicara sampai subuh tentang hal-hal yang tidak pernah saya bicarakan dengan suami saya. Tentang mimpi. Tentang ketakutan. Tentang perasaan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan setengah hati.
Saya tidak pernah meninggalkan suami saya. Saya tidak pernah lari dengannya. Saya memilih tetap tinggal, memilih menjadi istri yang baik, ibu yang baik, perempuan yang baik. Dan dia pergi, ke kota lain, ke pekerjaan lain, ke hidup lain. Saya pikir itu akhir dari segalanya.
Ternyata bukan.
Saya membawa sepiring nasi uduk ke mejanya. Dia masih duduk di sana, masih tersenyum, masih menatap saya seperti saya adalah satu-satunya perempuan di dunia ini. Saya letakkan piring itu di depannya, agak keras, supaya kuahnya tumpah sedikit.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan berterima kasih pada saya."
"Saya berterima kasih pada Ibu karena masih mau memberi saya makan."
Saya duduk di kursi se enfrente. Tidak seharusnya. Tapi lutut saya lelah, dan jantung saya lelah, dan saya lelah berpura-pura bahwa saya tidak peduli.
"Tiga bulan," kata saya.
"Tiga bulan."
"Dan setelah itu?"
Dia tidak menjawab. Dia hanya makan, pelan-pelan, menikmati setiap suapan seperti orang yang sudah lama tidak makan. Saya menontonnya, dan saya merasa sesuatu yang aneh. Bukan cinta. Bukan rindu. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang seperti penyesalan, tapi tidak sepenuhnya. Sesuatu yang seperti harapan, tapi terlalu pahit untuk disebut demikian.
Ketiak saya masih basah. Keringat masih mengalir. Tapi untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, saya merasa bahwa tubuh ini bukan hanya sesuatu yang saya tinggali. Tubuh ini adalah saya. Dan saya, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ingin seseorang melihatnya.
"Saya tidak akan datang ke sini lagi," kata saya.
Dia mengangkat kepala. "Saya tahu."
"Kamu tidak boleh datang ke warung saya."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa kamu datang?"
Dia meletakkan sendoknya. Menatap saya dengan mata yang sama, mata yang dulu membuat saya lupa segalanya. "Karena saya ingin tahu apakah Ibu masih mengingat saya."
Saya tidak menjawab. Saya bangkit, mengambil piring kosongnya, dan kembali ke dapur. Di belakang saya, saya dengar dia berdiri, meletakkan uang di meja, dan berjalan keluar. Saya tidak menoleh. Saya tidak berani.
Tapi setelah dia pergi, setelah warung sepi dan saya mencuci piring sendirian, saya menemukan sesuatu di bawah cangkirnya. Sebuah kertas kecil, sobekan dari buku catatan, dengan tulisan tangan yang saya kenal. Alamat. Dan satu kalimat.
"Saya akan menunggu setiap malam. Seperti dulu."
Saya membaca kalimat itu sepuluh kali. Dua puluh kali. Seratus kali. Lalu saya melipat kertas itu dan menyimpannya di saku kebaya saya, di dekat jantung yang berdebar terlalu cepat untuk perempuan seusia saya.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]