Rahasia Siang

·

Published 9/8/2026
3views
cover image

# Siang Itu

Aku datang tanpa alasan yang cukup jelas. Atau mungkin alasan itu terlalu jelas, hanya saja aku belum siap mengakuinya pada diriku sendiri.

Rumah Dewi berada di ujung perumahan, di mana aspal bertemu dengan pematang sawah yang membentang hijau. Aku memarkir motor di halaman, melihat mobil suaminya tidak ada di tempat. Tahu itu. Sudah tahu sejak pagi.

Dia membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.

Rambut ikalnya diikat longgar dengan tali kulit, beberapa helai jatuh membingkai wajah. Kemeja linen putihnya sedikit longgar, tali tipis di bahu. Mata itu. Mata yang selalu membuatku kehilangan kata-kata.

“Masuk,” katanya, suara rendah seperti biasanya.

Aku mengikuti, mencium aroma sesuatu yang baru saja dimasak. Mungkin jahe. Mungkin serai. Rumah itu sunyi. Hanya kipas angin di ruang tengah yang berputar pelan, menggerakkan udara siang yang panas.

“Kamu baru datang?” tanyaku, duduk di sofa anyaman.

“Dari pasar tadi pagi.” Dia duduk di kursi seberangku, bukan di sebelahku. Jarak satu meja kopi di antara kami. “Lapar? Ada nasi uduk sisa.”

“Sudah makan.”

Diam. Kipas angin berputar. Suara burung dari luar.

“Kok bisa ke sini?” tanyanya, matanya menatapku lalu berpaling ke jendela.

“Kebetulan lewat.”

Dia tersenyum kecil. Senyum yang tahu. Senyum yang tidak percaya.

“Kebetulan,” ulangnya, seperti sedang menguji kata itu.

Aku menggeser posisi, sandaran sofa terlalu rendah untuk punggungku. “Lia sama anak-anak ke rumah ibunya. Seminggu.”

Dia mengangguk. Tidak ada yang perlu dikomentari. Kami berdua tahu apa artinya itu.

Dewi bangun, berjalan ke dapur. Aku mendengar air mengalir, gelas diletakkan di atas meja. Dia kembali dengan dua gelas air dingin, meletakkan satu di depanku.

“Panas,” katanya, duduk kembali.

Kali ini dia duduk di sofa yang sama denganku. Sisi satunya. Masih ada celah selebar satu orang di antara kami.

Aku minum. Airnya dingin, melegakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.

“Kamu kelihatan capek,” katanya.

“Kurang tidur.”

“Pekerjaan?”

“Pekerjaan. Rumah. Banyak.”

Dia mengangguk lagi, lalu menatapku. Tatapan itu bertahan lebih lama dari biasanya. Matanya cokelat, dengan bintik-bintik emas di sekitar pupil. Aku belum pernah sedekat ini dengannya sejak pesta pernikahan sahabat kami tiga bulan lalu.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya.

“Enggak.”

Jujur. Entah kenapa aku jujur.

Dewi tidak terkejut. Dia hanya menunggu, seperti biasa. Dia pendengar yang baik. Selalu begitu. Dari pertama kali kami bertemu di acara kantor suaminya, aku tahu dia tipe orang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.

“Kadang,” aku mulai, “aku merasa hidup ini seperti... aku cuma menjalani. Bukan memilih.”

Dia tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak, meletakkan gelas di meja, lalu kembali ke pangkuannya. Jari-jarinya memainkan ujung kain linen.

“Aku juga,” katanya akhirnya.

Suaranya kecil. Hampir hilang di antara deru kipas.

“Kadang aku bangun pagi, lihat suamiku sudah pakai jas, bawa tas, siap berangkat. Dan aku pikir... apa yang aku lakukan hari ini? Menunggu dia pulang? Membersihkan rumah yang sudah bersih?”

Dia tertawa. Tawa tanpa suara.

“Kedengarannya menyedihkan,” katanya.

“Tidak,” kataku. “Kedengarannya jujur.”

Dia menatapku lagi. Kali ini aku tidak berpaling.

Dan sesuatu berubah.

Mungkin itu caranya dia menggigit bibir bawah. Atau caranya aku mencondongkan tubuh ke depan tanpa sadar. Atau keheningan yang tiba-tiba terasa lebih berat, lebih hangat, lebih penuh dengan hal-hal yang tidak terucapkan.

“Dewi.”

“Hm?”

“Aku selalu mikirin kamu.”

Katanya. Sudah keluar. Tidak bisa ditarik kembali.

Dia tidak bergerak. Matanya melebar sedikit, lalu menyempit. Tangannya berhenti memainkan kain.

“Jangan,” katanya.

“Aku tahu.”

“Ini tidak benar.”

“Aku tahu.”

Tapi aku tetap bergerak. Bukan dengan sengaja. Tubuhku seolah bergerak sendiri, mengurangi jarak di antara kami. Satu napas. Dua napas. Aku bisa mencium parfumnya. Sesuatu yang manis. Vanila. Dan aroma sabun.

“Aku takut,” bisiknya.

“Takut apa?”

“Takut aku akan membiarkan ini terjadi.”

Jarak kami sekarang hanya beberapa sentimeter. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang. Bintik-bintik freckle di hidungnya. Urat nadi di lehernya yang berdetak cepat.

“Kita bisa berhenti,” kataku.

“Kamu mau?”

Tidak.

Aku menggeleng.

Dia tersenyum. Sedih. Tapi juga lega.

Tangannya naik, menyentuh wajahku. Ujung jarinya dingin, atau mungkin wajahku yang panas. Dia menelusuri rahangku, berhenti di dagu.

“Aku juga,” katanya. “Aku selalu mikirin kamu.”

Dan dia menciumku.

Bukan ciuman pertama yang ragu-ragu. Ini ciuman yang sudah lama ditunda, yang sudah lama menunggu di antara tatapan dan senyum dan percakapan yang tidak selesai.

Bibirnya lembut. Hangat. Ada rasa mint dan sisa manis dari sesuatu yang dia makan pagi ini.

Tanganku meraih pinggangnya, menariknya lebih dekat. Dia menghela napas, napas yang terdengar seperti lepas, seperti menyerah.

Kami berciuman lama. Tidak terburu-buru. Tidak ada yang mengejar apa pun. Hanya menikmati. Hanya merasakan.

Tapi di suatu tempat di belakang kepalaku, alarm berbunyi.

Ini salah. Ini tidak benar. Kamu punya istri. Dia punya suami.

Tapi tangannya di dadaku, jari-jarinya meremas kain bajuku, dan napasnya yang pendek di telingaku membuat alarm itu terdengar seperti suara dari dunia lain.

“Kita harus berhenti,” katanya, tapi dia tidak melepaskanku.

“Aku tahu.”

“Tapi aku tidak mau.”

Aku mencium lehernya. Kulitnya hangat. Dia menghela napas lagi, lebih dalam.

“Aku juga tidak mau.”

Dia menarik sedikit, menatapku. Matanya berkaca-kaca.

“Ini akan menghancurkan semuanya,” katanya.

“Mungkin.”

“Pasti.”

Aku mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya. “Tapi aku sudah tidak bisa berhenti memikirkanmu, Dew. Setiap hari. Setiap malam. Saat aku bersama istriku, aku memikirkanmu. Saat aku tidur, aku memimpikanmu.”

Dia menutup matanya. Air mata jatuh lagi.

“Aku juga,” bisiknya. “Tuhan, aku juga.”

Kami berpelukan. Lengannya melingkar di leherku. Tanganku di punggungnya, merasakan tulang belikatnya yang menonjol. Wanginya memenuhi indraku.

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya.

“Aku juga tidak tahu.”

“Tapi aku tidak mau kamu pergi sekarang.”

“Aku tidak akan pergi.”

Kami duduk diam. Berpelukan. Di ruang tengah yang sunyi, dengan kipas angin yang terus berputar dan cahaya siang yang masuk melalui jendela, menyinari debu-debu yang melayang.

Tidak ada yang perlu dikatakan lagi.

Kami berdua sudah tahu. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini bukan sekadar nafsu.

Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya, lebih indah dari apa pun yang pernah kami rasakan sebelumnya.

Dan itu yang paling menakutkan.

Saat aku pulang sore itu, matahari mulai turun. Langit jingga. Sawah-sawah memantulkan cahaya.

Istriku menelepon. “Aku kangen,” katanya.

“Aku juga,” jawabku. Dan itu bohong.

Karena yang kupikirkan bukan dia. Yang kupikirkan adalah freckle di hidung Dewi, bibirnya yang lembut, dan kata-kata yang dia bisikkan sebelum aku pergi.

“Sampai kapan kita bisa bertemu lagi?”

Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu, hubungan kami sudah berubah selamanya.

Dan tidak ada yang bisa mengembalikannya seperti dulu.



3views

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]