Share
Go Live
Forbidden Overtime
·
Published 10/18/2026Lampu di lantai sembilan sudah mati separuh. Hanya deretan meja bagian akuntansi yang masih menyala, dan satu ruangan kaca di ujung lorong, ruang kerja Pak Hendra, yang lampunya selalu dibiarkan hidup oleh OB karena katanya "biar kelihatan ada yang jaga." Aku tahu itu bohong. Semua orang di kantor ini tahu OB itu cuma malas naik lagi ke lantai sembilan buat matiin saklarnya.
Aku menekan tombol save tiga kali. Bukan karena datanya belum tersimpan, tapi karena aku tidak mau pulang.
Di seberang meja, Dian masih mengetik. Jari-jarinya cepat, ritmis, seperti orang yang sudah menghafal letak setiap huruf tanpa perlu melihat. Dia selalu begitu. Kalau kerja, dia tidak pernah menoleh, tidak pernah ngobrol, tidak pernah cek HP. Aku pernah bilang ke Rizky, temenku di divisi marketing, bahwa Dian itu kayak mesin. Rizky ketawa dan bilang, "Lo belum kenal aja."
Itu dua bulan lalu.
Sekarang aku duduk di sini, jam sembilan malam, pura-pura ngerjain laporan triwulan yang sebenarnya udah selesai dari tadi sore, cuma biar bisa duduk di ruangan yang sama dengannya. Lampu neon di atas kepala kami berkedip sekali. Dian tidak bereaksi. Aku menahan diri untuk tidak menatapnya terlalu lama.
"Rangga."
Suaranya datar. Aku mengangkat kepala.
"Laporan Bapak udah lo kirim?"
"Belum. Nanti malem."
Dia mengangguk kecil, lalu kembali ke layarnya. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada "kenapa belum" atau "jangan lupa." Dian memang begitu. Efisien. Tidak buang kata. Aku menghargai itu, walau kadang bikin aku merasa seperti tembok yang dia bicarakan seperlunya.
Aku mengenal Dian sejak hari pertama aku masuk kantor ini, delapan bulan yang lalu. Dia yang memperkenalkan aku ke sistem pengarsipan, yang ngasih tahu di mana pantry yang kopinya masih enak, yang bilang supaya aku jangan pernah makan siang di kantin lantai dua karena "nasi nya keras." Hal-hal kecil. Praktis. Tanpa basa-basi.
Dan aku jatuh pelan-pelan, seperti orang yang tidak sadar sedang menuruni tangga sampai kakinya menyentuh lantai paling bawah dan baru sadar sudah tidak bisa naik lagi.
Dia sudah menikah. Aku tahu itu dari hari pertama. Cincin di jari manisnya, sederhana, emas putih tanpa permata. Suaminya, Arif, kadang menjemputnya di lobi. Aku pernah lihat sekali, dari balik kaca lift, laki-laki itu membawakan payung dan tas belanja. Dian tersenyum. Senyum yang tidak pernah aku lihat di ruangan ini.
Aku bukan orang bodoh. Aku tahu batas. Delapan bulan pertama, aku jaga jarak. Aku cuma teman kantor. Aku cuma Rangga, anak baru yang kebetulan satu tim dengan dia untuk proyek audit internal. Kami kerja lembur bareng, makan nasi bungkus bareng, kadang pulang bareng kalau kebetulan arah. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang salah.
Sampai malam itu, tiga minggu lalu, waktu hujan deras dan kami terjebak di lobi karena taksi online tidak ada yang mau masuk ke basement. Dian duduk di sofa lobi, menggigil sedikit karena ACnya terlalu dingin. Aku beliin kopi dari mesin. Dia menerima, tangannya menyentuh tanganku sebentar waktu mengambil gelas plastik itu. Cuma sedetik. Tapi cukup.
Kami tidak bicara apa-apa malam itu. Cuma duduk berdampingan, minum kopi, mendengarkan hujan. Tapi ada sesuatu yang bergeser. Seperti kursi yang digeser satu senti. Tidak kelihatan, tapi terasa.
Sejak malam itu, kami mulai sering pulang terakhir. Aku tidak tahu siapa yang memulai. Mungkin aku. Mungkin dia. Yang jelas, setiap jam enam sore, waktu karyawan lain mulai beres-beres, aku dan Dian sama-sama masih mengetik. Sama-sama belum mau pulang. Sama-sama tahu ada yang sedang terjadi tapi tidak ada yang mau menyebutnya.
"Lo nggak pulang?" tanyaku, malam ini.
"Masih ada yang harus di-finish," jawabnya tanpa menoleh.
"Jam sembilan, Dian."
"Iya." Dia berhenti mengetik. Menatap layar sebentar, lalu menutup laptopnya. "Lo mau pulang?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi ada jeda setelahnya. Jeda yang terlalu panjang untuk pertanyaan sesederhana itu.
"Aku mau nunggu hujan berhenti," kataku. Padahal hujan sudah berhenti sejak jam tujuh.
Dian menatapku. Pertama kali malam ini. Matanya coklat tua, lelah, tapi ada sesuatu di sana yang tidak aku mengerti. Atau mungkin aku mengerti, tapi pura-pura tidak.
"Rangga," katanya lagi. Kali ini suaranya lebih pelan.
"Apa?"
Dia tidak menjawab. Dia berdiri, merapikan tasnya, lalu berjalan ke arah pintu. Aku pikir dia mau pulang. Tapi dia berhenti di depan pintu, tidak membukanya. Punggungnya menghadap aku. Bahunya naik turun pelan.
"Dian?"
"Jangan tanya," katanya. "Kalau lo tanya, gue nggak bisa bohong."
Ruangan itu terasa mengecil. Lampu neon berkedip lagi. Aku berdiri dari kursiku. Tidak mendekat. Cuma berdiri.
"Aku nggak akan tanya apa-apa," kataku. "Tapi lo juga jangan bohong."
Dia menoleh sedikit. Profilnya terlihat dari cahaya lampu lorong yang tembus dari kaca pintu. Dia tersenyum tipis. Bukan senyum yang aku lihat waktu Arif menjemputnya. Senyum yang lain. Yang bikin perutku panas dan dingin sekaligus.
"Gue pulang dulu," katanya. "Lo jangan lupa kirim laporan Bapak."
Pintu terbuka. Dia keluar. Langkahnya cepat, seperti orang yang sedang melarikan diri dari sesuatu. Mungkin dari aku. Mungkin dari dirinya sendiri.
Aku berdiri di ruangan kosong itu selama mungkin lima menit. Laptopku masih menyala. Layar menunjukkan laporan triwulan yang sudah selesai dari jam lima sore. Aku menutupnya. Mengambil tas. Berjalan ke lift.
Di lobi, aku melihat sesuatu di sofa tempat kami duduk tiga minggu lalu. Sebuah gelas kopi plastik kosong. Bukan gelas dari mesin. Gelas dari kafe seberang jalan, yang tutupnya masih terpasang rapi. Dian tidak minum kopi dari kafe itu. Dia selalu bilang kopi di sana terlalu manis.
Aku mengambil gelas itu. Di bagian bawah, ada tulisan tangan kecil, ditulis pakai spidol hitam. Aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Mungkin OB. Mungkin orang lain. Tapi tulisan itu jelas.
"KAMIS. JAM 8. TEMPAT BIASA."
Aku menatap tulisan itu lama sekali. Kamis. Dua hari dari sekarang. Tempat biasa. Tempat apa? Aku tidak punya tempat biasa dengan siapa pun di kantor ini.
Kecuali dia.
Aku memasukkan gelas itu ke dalam tas, bukan ke tempat sampah. Di luar, jalanan masih basah. Aku menyalakan motor dan tidak langsung pulang. Aku berputar satu kali mengelilingi blok kantor, melewati kafe seberang jalan yang lampunya sudah redup, dan melihat sesuatu yang membuatku mengerem mendadak.
Sepeda motor Dian terparkir di depan kafe itu. Dan di dalam, lewat jendela kaca yang berembun, aku bisa melihat dia duduk di meja pojok. Sendiri. Menatap gelas kopi yang sama persis dengan yang ada di tasku.
Dia belum pulang. Dia tidak pernah pulang tadi.
Aku mematikan mesin motor. Duduk di atas sadel, diam, sementara hujan mulai turun lagi, tipis-tipis, membasahi jaketku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu apakah dia menungguku. Aku tidak tahu apakah tulisan di gelas itu untukku atau bukan.
Tapi aku tahu satu hal. Kamis nanti, aku akan datang ke tempat itu. Dan aku tidak akan tanya apa-apa.
Karena kalau aku tanya, aku juga tidak bisa bohong.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]