A Day I'd Buy Again

·

Published 9/18/2026
10views
cover image

TV dulu masih tabung. Panasnya bisa bikin ruangan terasa lebih pengap, dan kalau terlalu lama dinyalakan, ada suara mendengung halus dari belakangnya, seperti ada lebah tua yang terjebak di dalam plastik. Aku suka suara itu. Suara itu berarti aku sedang tidak di sekolah.

Tas masih di punggung waktu aku menekan tombol power. Seragam putihku masih basah di bagian punggung, keringat anak kelas lima yang habis lari dari gerbang sekolah sampai rumah karena taruhan siapa yang paling cepat sampai. Aku menang. Tentu saja aku menang. Rumahku paling dekat.

"Rian."

Suara ibu datang dari dapur. Aku pura-pura tidak dengar. Saluran pertama yang muncul adalah berita. Aku tekan tombol channel lagi. Iklan sabun. Lagi. Kartun. Nah.

"Rian, tasnya dilepas dulu. Baju ganti dulu."

"Iya, Bu," kataku, tapi mataku tetap di layar. Kucing dan tikus sedang kejar-kejaran. Tom and Jerry. Aku sudah hafal setiap episodenya, tapi tetap saja lucu. Kucing itu selalu kalah. Selalu. Aku suka itu.

Ibu muncul di ambang pintu ruang tengah dengan sepiring nasi. Uapnya masih naik. Telur ceplok di atasnya, kuningnya masih setengah matang, persis yang aku suka. Sambal terasi di sisi piring, tempe goreng dua potong, dan sayur bening bayam di mangkuk kecil terpisah. Aroma terasinya sampai ke hidungku, dan perutku langsung berbunyi. Tapi mataku belum mau lepas dari layar.

"Makan dulu," kata ibu. Dia berdiri di situ, menunggu. Sabar. Ibu selalu sabar di menit-menit pertama.

"Aku makan sambil nonton, Bu."

"Rian."

"Aku makan kok. Lihat." Aku mengambil telur itu dengan tangan, menggigitnya, dan kuning telurnya pecah di sudut mulutku. Panas. Enak. Aku mengunyah sambil tetap menatap layar.

Ibu menghela napas. Aku tahu suara helaan napas itu. Itu suara yang artinya aku sudah kalah, tapi ibu belum mau mengakuinya. Dia meletakkan piring di meja kecil dekat sofa, tepat di samping sikuku yang hampir menyenggolnya.

"Kalau berantakan, kamu yang bersihkan," katanya.

"Iya."

Dia berdiri sebentar lagi, melihat aku yang sudah mengambil tempe dan menggigitnya sambil tertawa karena kucing itu kejatuhan piano. Lalu dia pergi. Langkahnya ke kamar. Aku mendengar lemari dibuka. Sebentar lagi dia keluar dengan kain batik dan tas kecilnya.

"Bu mau arisan di rumah Bu Ratna," katanya dari kamar. "Kalau kamu keluar, kunci pintunya. Kunci ditaruh di bawah pot bunga seperti biasa."

"Iya, Bu."

"Jangan lupa sholat maghrib."

"Iya."

"Rian."

"Iya, Bu. Iya. Sholat. Kunci pintu. Ngerti."

Dia muncul lagi di ambang pintu, sudah rapi. Batiknya yang hijau dengan motif daun, yang selalu dia pakai kalau arisan. Rambutnya disanggul sederhana. Dia melihat aku, melihat piring yang mulai kosong, dan sudut bibirnya naik sedikit. Sedikit saja. Ibu tidak pernah tersenyum lebar. Tapi senyum kecilnya cukup.

"Jangan tidur terlalu malam."

"Iya, Bu."

Dia pergi. Pintu depan terbuka, lalu tertutup. Kunci diputar dari luar. Aku dengar sandalnya menjauh di jalanan. Lalu sunyi. Hanya TV dan suara kucing yang tertawa di layar.

Aku menghabiskan nasinya dalam lima menit. Sambalnya pedas, sampai keringat di hidungku keluar lagi. Aku menaruh piring di wastafel dapur, tidak mencuci, nanti saja. Lalu aku kembali ke sofa, menaikkan kaki ke atas, dan membiarkan TV terus menyala.

Tom and Jerry selesai. Iklan. Aku ganti channel. Sinetron. Ganti lagi. Kartun lain. Ganti. Berita lagi. Aku berhenti di situ sebentar, melihat gambar-gambar orang di layar yang aku tidak mengerti. Bukan untuk anak-anak. Aku ganti lagi. Ada film. Film orang dewasa. Aku tidak paham ceritanya, tapi ada mobil-mobil bagus dan orang-orang yang bicara cepat. Aku menontonnya dengan mata setengah.

Matahari masih tinggi di luar. Cahayanya masuk lewat jendela, membuat debu-debu kecil terlihat melayang di udara. Aku mengikuti satu debu dengan mataku, dari atas sampai bawah, lalu hilang di balik sofa. Aku menguap.

"Rian! Rian!"

Suara dari luar. Beberapa suara. Aku bangkit, mengintip lewat jendela. Di depan pagar, tiga anak dengan bola plastik. Agus, yang badannya paling besar dan selalu jadi kapten. Dedi, yang kurus dan larinya cepat. Dan Bagas, yang selalu bawa bola karena bolanya paling bagus, walaupun sebenarnya itu bola karet murah yang dibeli di pasar.

"Bola!" teriak Agus. "Lapangan! Ayo!"

Aku tidak berpikir dua kali. Aku matikan TV, ambil kunci di bawah pot bunga, dan keluar. Kunci kuputar dua kali. Aku cek lagi, sudah terkunci. Lalu aku lari mengejar mereka.

Lapangan itu sebenarnya bukan lapangan. Itu tanah kosong di antara dua blok rumah, dengan dua batang pohon mangga sebagai gawang, dan gundukan tanah yang bikin bola kadang melompat aneh. Tapi buat kami, itu Wembley. Itu San Siro. Itu segala-galanya.

Kami bermain sampai langit berubah warna. Dari biru jadi oranye, dari oranye jadi ungu kemerahan. Keringat mengalir di pelipisku, seragamku sudah lepas, tinggal kaos dalam yang lusuh. Kami berteriak, kami tertawa, kami berebut bola seperti bola itu adalah satu-satunya benda di dunia.

"Masuk! Itu masuk!" teriak Agus, menunjuk ke arah pohon mangga yang jadi gawang kami.

"Enggak! Kena tiang dulu!" aku balas. Aku jadi kiper waktu itu, dan bola itu lewat di samping tanganku, tapi aku yakin bola itu kena batang pohon dulu sebelum masuk.

"Tiang mana? Tiangnya pohon, bukan tiang beneran!"

"Tetap aja, kena pohon dulu berarti enggak masuk!"

Dedi ikut nimbrung, "Rian bener, tadi kena pohon."

"Kamu belain dia karena dia temen sebangku kamu!" Agus mendorong dada Dedi pelan. Dedi tertawa.

"Udah, udah," kata Bagas, yang biasanya paling malas berdebat. "Anggap aja enggak masuk. Skor tetap 3-2."

"Enggak bisa gitu!" Agus masih panas. "Kalau gitu kita ulang!"

Kami hampir mulai berantem. Bukan berantem beneran, cuma dorong-dorongan dan suara yang meninggi. Tapi sebelum ada yang mendorong lebih keras, aku melihat seseorang berdiri di ujung lapangan. Batik hijau. Rambut disanggul.

Ibu.

Dia berdiri di situ dengan tas kecilnya, menatap kami. Matahari sore membuat bayangannya panjang ke arah kami. Dia tidak berteriak. Dia tidak perlu berteriak.

"Rian," katanya. Suaranya pelan, tapi aku dengar dari seberang lapangan.

Aku langsung berhenti. Agus juga. Dedi dan Bagas ikut melihat ke arah ibu.

"Udah sore," kata ibu. "Pulang."

Aku menunduk. Aku mengambil kaosku yang tergeletak di tanah, memakainya, dan berjalan ke arahnya. Agus menepuk punggungku, "Besok lagi, Rin."

Aku mengangguk. Tapi aku tidak menoleh ke belakang.

Ibu berjalan di depanku. Aku di belakangnya, satu langkah. Kami tidak bicara sepanjang jalan. Dia tidak marah, aku tahu itu. Kalau marah, dia akan bicara panjang. Diamnya berarti dia capek, dan aku tahu aku yang bikin dia capek. Arisan seharian, lalu harus menjemput anaknya yang lupa waktu.

"Maaf, Bu," kataku pelan.

Dia tidak menoleh. Tapi langkahnya melambat sedikit, dan aku bisa menyusul di sampingnya.

"Kamu udah sholat?" tanyanya.

"Belum."

"Sholat dulu nanti. Habis mandi."

"Iya, Bu."

Kami sampai di rumah. Lampu teras sudah menyala, kuning redup. Dan di depan pintu, ada sepatu kulit hitam. Sepatu bapak.

Aku membuka pintu. Dan aroma itu langsung menyambutku. Aroma mentega, aroma telur, aroma sesuatu yang dipanggang. Martabak.

Bapak duduk di sofa, masih dengan kemeja kerjanya yang lengan panjangnya digulung sampai siku. Dia memegang kardus martabak di pangkuannya, dan di atas meja, sudah ada potongan-potongan martabak asin yang mengeluarkan uap. Bapak tersenyum waktu melihatku.

"Eh, anak bola udah pulang," katanya. Suaranya berat, tapi hangat. Bapak selalu begitu. Suaranya seperti orang yang baru bangun tidur, walau dia tidak tidur.

"Bapak beli martabak?" Aku menghampiri meja, mengambil satu potong, dan menggigitnya. Panas. Isinya daging dan telur dan daun bawang. Enak sekali.

"Buat kamu," kata bapak. "Katanya kamu menang lomba lari tadi."

Aku tersenyum. "Iya."

"Ibu yang bilang," bapak menoleh ke ibu yang baru masuk dari dapur, membawa gelas-gelas.

Ibu tersenyum kecil. "Dia lari kencang sekali. Sampai tasnya masih dipunggung waktu aku lihat dari jendela."

Aku tertawa. Bapak ikut tertawa. Ibu tidak, tapi sudut bibirnya naik lagi. Aku duduk di antara mereka, di sofa yang empuk dan sudah mulai kusut. Kami bertiga makan martabak. TV menyala, tapi tidak ada yang menontonnya. Kami hanya bicara. Bapak soal murid-muridnya di sekolah. Ibu soal arisan tadi, soal Bu Ratna yang katanya mau pindah rumah. Aku soal pertandingan tadi, soal gol yang tidak masuk.

"Bola itu kena pohon," kataku.

"Pohon?" bapak mengangkat alis.

"Gawangnya pohon mangga, Pak," kata ibu.

Bapak tertawa lagi. Tawanya lepas, dari perut. "Ya sudah, besok bapak lihat sendiri."

Aku tersenyum. Malam itu terasa panjang dan hangat. Aku tidak ingin pergi dari sofa itu.

Tapi malam tetap berjalan. Setelah mandi dan sholat, aku duduk di meja belajar. Buku PR terbuka di depanku. Matematika. Soal cerita tentang kereta api yang berangkat dari kota A dan kota B. Aku membaca soalnya tiga kali. Aku masih tidak paham.

"Kereta A berangkat pukul 8 pagi dengan kecepatan 60 kilometer per jam," gumamku. "Kereta B berangkat pukul 9 pagi dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Kapan mereka bertemu."

Aku menulis angka-angka di kertas buram. 60. 80. 8. 9. Aku menambah, mengurangi, mengalikan. Tidak ada yang masuk akal. Kereta api kenapa harus ketemu. Kenapa tidak lewat saja.

Di sofa, bapak menonton TV. Suaranya pelan. Berita malam. Aku dengar kata "harga" dan "pemerintah" dan "masyarakat". Aku tidak paham, dan aku tidak berusaha paham. Aku kembali ke kereta apiku.

Ibu datang dengan segelas teh hangat. Dia menaruhnya di samping bukuku, lalu berdiri sebentar di belakangku, melihat pekerjaanku.

"Belum ketemu?" tanyanya.

"Belum, Bu. Susah."

"Coba dibaca pelan-pelan. Jangan buru-buru."

Aku mengangguk. Ibu pergi lagi ke dapur. Aku menyeruput tehnya. Manis. Panas. Aku suka teh buatan ibu. Dia selalu menambahkan sedikit gula lebih banyak untukku.

Aku membaca soal itu lagi. Pelan-pelan. Kereta A. Kereta B. Bertemu. Kapan. Aku menulis lagi. 60 kilometer per jam. Satu jam pertama, kereta A sudah 60 kilometer. Kereta B belum jalan. Jam kedua, kereta A 120 kilometer. Kereta B 80 kilometer. Selisihnya 40 kilometer. Jam ketiga, kereta A 180. Kereta B 160. Selisihnya 20. Jam keempat, kereta A 240. Kereta B 240. Bertemu!

"Ketemu!" aku berteriak.

Bapak menoleh dari sofa. "Apa?"

"Kereta apinya ketemu, Pak!"

Bapak tersenyum. "Bagus. Lanjut."

Aku menyelesaikan soal itu dengan semangat baru. Soal berikutnya lebih mudah. Soal berikutnya lagi lebih mudah. Aku selesai sebelum jam sembilan. Aku menutup buku dan menyeruput tehku yang sudah tinggal separuh.

Ibu muncul lagi. "Udah selesai?"

"Udah, Bu."

"Gosok gigi. Terus tidur."

"Iya, Bu."

Aku ke kamar mandi. Airnya dingin, tapi aku sudah terbiasa. Aku menggosok gigi sambil melihat wajahku di kaca. Anak kecil. Rambut berantakan. Ada bekas sambal di sudut mulut yang belum kusapu bersih. Aku tersenyum ke kaca, lalu berkumur, lalu keluar.

Kamar tidurku kecil. Ada tempat tidur, ada lemari, ada meja belajar yang sudah kugunakan tadi. Lampu meja menyala kuning. Aku naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai dagu. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar. Malam sudah turun penuh.

Ibu masuk. Dia duduk di tepi tempat tidurku. Bapak muncul di ambang pintu, bersandar di kusen, tangannya di saku. Dia tidak masuk, hanya berdiri di situ, melihat kami.

"Gimana harinya?" tanya ibu.

"Seru," kataku. "Aku menang lomba lari. Terus main bola. Terus bapak beli martabak."

Ibu tersenyum. "Terus?"

"Aku mau main bola lagi besok."

"Besok boleh main lagi," kata ibu. "Tapi pulang sebelum maghrib."

"Iya, Bu."

Ibu mengelus rambutku. Tangannya hangat. Aku menutup mata. Aku dengar dia mulai bersenandung. Lagu yang selalu dia nyanyikan. Lagu tentang bulan dan bintang dan anak yang tidur. Aku tidak tahu judulnya. Aku tidak pernah tanya. Tapi aku hafal nadanya.

Bapak masih berdiri di ambang pintu. Aku bisa melihatnya lewat celah mataku yang setengah tertutup. Dia tersenyum. Dia jarang tersenyum lebar, sama seperti ibu. Tapi malam itu dia tersenyum.

Aku tenggelam dalam suara ibu. Dalam kehangatan tangannya. Dalam aroma martabak yang masih tertinggal di udara. Dalam suara jangkrik di luar. Dalam semuanya. Aku tenggelam.

Lalu suara ibu berubah.

Nadanya naik. Kasar. Berulang. Bukan lagi lagu. Bukan lagi bulan dan bintang. Suara itu seperti logam. Seperti palu. Seperti sesuatu yang memukul telingaku dari dalam.

Alarm.

Aku membuka mata.

Langit-langit berbeda. Putih, dengan noda coklat di sudut kiri. Bukan langit-langit kamarku yang kuning dengan lampu gantung kecil. Ini langit-langit apartemen. Ini langit-langit Jakarta.

Suara kota masuk lewat jendela yang tidak sepenuhnya tertutup. Klakson. Motor. Jauh di bawah, ada yang berteriak, suaranya tidak jelas. Di luar, langit masih gelap. Bukan gelap malam. Gelap pagi. Gelap sebelum matahari.

Aku duduk. Tubuhku berat. Bukan tubuh anak sepuluh tahun. Tubuh ini panjang, dengan sendi-sendi yang kaku karena tidur di kasur yang terlalu empuk. Tanganku mencari HP di meja samping. Layarnya menyala waktu kusentuh. 04:07.

Empat pagi.

Aku menutup mata lagi. Mencoba menahan sesuatu. Tapi tidak ada yang bisa ditahan. Kenyataan sudah masuk. Sudah mengisi kepalaku. Sudah mendorong semua yang tadi keluar. Ibu. Bapak. Martabak. Lapangan. Semuanya pergi.

Aku bangkit. Kakiku dingin waktu menyentuh lantai. Apartemen ini selalu dingin di pagi hari. Aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan, seperti orang yang tidak yakin apakah dia masih bermimpi. Lampu kamar mandi menyala putih, menyilaukan. Aku menyalakannya, lalu berdiri di depan kaca.

Wajah yang menatapku bukan wajah anak sepuluh tahun. Wajah itu punya garis-garis di sudut mata. Punya bayangan gelap di bawah mata. Punya janggut yang belum dicukur, tipis dan tidak rapi. Rambutnya lebih pendek dari yang kuingat, dan ada beberapa helai putih di pelipis. Aku menatapnya lama. Dia menatap balik.

Tiga puluh satu tahun. Aku tiga puluh satu tahun.

Matanya lebih gelap dari yang seharusnya. Bukan gelap karena warna. Gelap karena sesuatu di belakangnya. Lelah. Bukan lelah yang bisa disembuhkan dengan tidur. Aku sudah tidur delapan jam. Aku masih lelah. Aku akan tidur lagi nanti, dan aku akan tetap lelah. Ini lelah yang tidak bisa diperbaiki.

Aku membasuh muka. Airnya dingin, menusuk. Aku menggosok mataku, berharap waktu aku membuka, wajah itu akan berubah. Tidak. Tetap sama.

Aku keluar dari kamar mandi, mengambil jaket di kursi, dan berjalan ke balkon. Pintu balkon berderit waktu kubuka. Udara Jakarta menyambutku. Dingin, tapi tidak segar. Ada bau asap dan bau tanah basah dan bau sesuatu yang terbakar jauh di sana. Aku tidak tahu apa. Aku tidak mau tahu.

Aku duduk di kursi plastik di balkon. Dari sini, aku bisa melihat gedung-gedung lain, jendela-jendela yang masih gelap, beberapa yang sudah menyala. Ada orang lain yang juga bangun jam empat pagi. Ada orang lain yang juga tidak bisa tidur. Aku tidak sendirian, tapi rasanya tetap sendirian.

Aku merogoh saku jaket. Ada sebungkus rokok, tinggal tiga batang. Aku mengambil satu, menyalakannya dengan pemantik yang kucuri dari warung dekat kantor bulan lalu. Aku tidak mencurinya. Aku lupa membayarnya. Sama saja.

Asapnya masuk ke paru-paruku. Panas. Pahit. Aku menghembuskannya ke udara Jakarta yang sudah penuh dengan asap lain. Aku menatap gedung-gedung itu. Aku menatap langit yang mulai berubah warna di ujung timur. Abu-abu. Lalu merah. Lalu oranye pucat.

"Ibu sama bapak masih di Lombok," kataku pelan. Suaraku serak. Aku belum bicara sejak semalam. "Tapi mereka udah nggak bisa aku telfon lagi dari alam ini."

Aku menyeruput rokok lagi. Asapnya mengisi tenggorokanku.

"Aku di Jakarta sekarang."

Kata-kata itu keluar dan menggantung di udara, seperti asap yang tidak mau pergi. Aku di Jakarta. Aku sudah di Jakarta selama sembilan tahun. Aku punya pekerjaan. Aku punya apartemen. Aku punya HP yang harganya lebih mahal dari gaji bapak waktu dia masih jadi guru. Aku punya semuanya.

"Kenapa rasanya sesak sekali," kataku.

Aku menundukkan wajah. Rokok di tanganku masih menyala, ujungnya merah dan berasap. Aku menatapnya, lalu menatap ke bawah, ke jalanan yang mulai hidup. Ada tukang sayur yang mendorong gerobaknya. Ada ojol yang menyalakan motornya. Ada orang yang berjalan cepat dengan tas di punggungnya. Semua orang punya tujuan. Aku juga punya tujuan. Tapi aku tidak tahu apa.

Air mata keluar. Pelan. Tidak deras. Aku tidak menangis keras. Aku sudah lupa cara menangis keras. Aku hanya duduk di situ, dengan rokok di tangan, dan air mata yang mengalir di pipi, dan tidak ada yang melihat. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli.

Aku menutup mata. Aku melihat ibu. Duduk di tepi tempat tidurku. Mengelus rambutku. Bersenandung. Aku melihat bapak. Berdiri di ambang pintu. Tersenyum. Aku melihat martabak. Aku melihat lapangan. Aku melihat semua yang tadi.

"Andai mereka tau," kataku. Suaraku pecah. "Kalau baru aja aku ngabisin hari bareng mereka. Hari indah dari dua puluh tahun lalu."

Aku membuka mata. Langit sudah lebih terang sekarang. Oranye pucat sudah berubah jadi kuning. Jakarta mulai bangun. Aku masih di sini. Di balkon ini. Di kota ini. Di hidup ini.

"Aku sekarang punya pekerjaan," kataku. "Aku punya HP yang bahkan lebih mahal daripada gaji bapak jadi guru dulu. Tapi kenapa rasanya sangat sesak sekali."

Aku menghisap rokokku sekali lagi. Dalam-dalam. Lalu aku menghembuskannya, dan asapnya bercampur dengan udara pagi yang mulai hangat.

"Andai aku bisa kembali," kataku. "Satu hari saja. Ke masa itu. Aku akan kasi semuanya. Harta. Uang. Jabatan. Semuanya akan aku berikan."

Rokokku habis. Aku mematikannya di asbak yang sudah penuh dengan puntung-puntung lama. Aku duduk di situ, di balkon, dengan lutut ditarik ke dada, dan aku menangis lagi. Pelan. Lirih. Suaraku tidak terdengar oleh siapapun. Tidak oleh tetangga di sebelah. Tidak oleh penjaga apartemen di bawah. Tidak oleh siapapun di Jakarta.

Hanya aku. Dan langit yang mulai terang. Dan hari yang akan segera dimulai. Dan sebuah rumah di Lombok yang tidak bisa aku hubungi lagi. Dan sebuah hari di masa lalu yang tidak bisa aku kembali.

Aku duduk di situ sampai matahari naik. Sampai suara kota menjadi terlalu keras untuk diabaikan. Sampai aku harus bangun, mandi, memakai kemeja, dan pergi ke kantor. Seperti kemarin. Seperti besok. Seperti setiap hari.

Aku berdiri. Aku menutup pintu balkon. Aku melihat ke dalam apartemenku. Rapi. Bersih. Kosong.

Aku masuk, dan aku menutup pintunya.



10views

Watch this moment

Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]