Share
Garis Batas
·
Published 8/20/2026
# Aturan Main
*Sub-judul: Garis yang tak boleh kulewati*
**Bab 1: Wawancara Terakhir**
---
Aku membenci dasi. Tapi aku memakainya. Bersama jas yang terlalu panas untuk Jakarta di bulan Oktober. Keringat mengalir di punggungku, menempelkan kemeja putih ke kulit. Bukan cara yang baik untuk memulai hari.
Tapi aku butuh pekerjaan ini.
Tiga bulan menganggur setelah PHK. Tabungan menipis. Ibu menelepon setiap Minggu menanyakan kabar, dan aku selalu bilang baik-baik saja. Padahal aku makan mi instan tiga kali sehari dan tidur jam tiga pagi karena insomnia merayap seperti kecoa.
Gedung ini menjulang dua puluh lantai. Kaca biru gelap memantulkan langit yang mendung. Di lobi, seorang resepsionis dengan seragam rapi memintaku menunggu. Aku duduk di sofa kulit putih yang terlalu bersih. Tanganku berkeringat.
Namaku Raka Pratama. Dua puluh delapan tahun. Lulusan teknik industri dengan IPK cum laude. Tiga tahun pengalaman di perusahaan logistik sebelum di-PHK karena pandemi. Sekarang aku di sini, melamar sebagai asisten direktur. Bukan pekerjaan impianku, tapi gajinya tiga kali lipat dari pekerjaan sebelumnya.
Aku sudah melalui tiga tahap seleksi. Psikotes, interview HRD, interview dengan manajer. Sekarang tinggal satu: wawancara dengan direktur utama.
Direktur utama PT Surya Cipta Mandiri.
Namanya Larasati Dewandaru.
Aku googling dia tadi malam. Tiga puluh empat tahun. Mendirikan perusahaan ini dari nol tujuh tahun lalu. Sekarang perusahaannya bernilai miliaran rupiah. Wajahnya muncul di majalah Forbes Indonesia edisi September. Foto hitam-putih. Dia tersenyum tipis. Matanya tajam seperti elang.
Aku membaca artikel tentangnya. Anak tunggal. Ayahnya meninggal saat dia masih SMA. Ibunya sakit-sakitan. Dia kuliah sambil kerja. Lulus tepat waktu dengan predikat terbaik. Kemudian mendirikan perusahaan sendiri.
Inspiratif. Juga sedikit menakutkan.
"Pak Raka?"
Aku menoleh. Seorang wanita muda dengan blazer abu-abu berdiri di depanku. "Iya."
"Bu Larasati siap menemui Bapak. Silakan ikut saya."
Aku berdiri. Merapikan dasi. Mengikuti langkahnya menuju lift. Pintu lift terbuka. Kami masuk. Lantai dua puluh.
Di dalam lift, aku menatap bayanganku di cermin. Rambutku agak berantakan. Aku merapikannya dengan tangan. Napasku dalam-dalam.
Wanita itu tersenyum. "Jangan gugup. Bu Larasati orangnya baik."
Aku mengangguk. Tapi aku tidak percaya. Orang baik tidak membangun perusahaan sebesar ini dalam tujuh tahun.
Lift berhenti. Pintu terbuka. Ruangan luas dengan lantai marmer mengkilap. Meja resepsionis di tengah. Di belakangnya, sebuah ruangan dengan pintu kayu mahoni. Nama tertera di plakat emas: Larasati Dewandaru, Direktur Utama.
Wanita itu mengetuk pintu. "Bu, Pak Raka sudah datang."
"Silakan masuk."
Suaranya. Dalam. Tenang. Seperti air yang mengalir di malam hari.
Pintu terbuka. Aku masuk.
Ruangan itu luas. Mungkin tiga kali kamar kosku. Meja kayu besar di tengah. Di belakangnya, jendela kaca dari lantai ke langit-langit. Pemandangan kota Jakarta. Gedung-gedung menjulang. Langit abu-abu.
Dan dia.
Duduk di kursi direktur. Rambut hitam panjang diikat rendah. Wajah oval dengan tulang pipi tinggi. Alis tipis. Mata cokelat yang gelap. Bibir merah tipis tanpa lipstik berlebihan.
Dia memakai blazer putih. Di dalamnya, kemeja sutra hitam. Lehernya jenjang. Di sana, sebuah kalung emas tipis dengan liontin kecil.
Dia melihatku. Matanya menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Penuh penilaian. Seperti aku barang yang akan dibelinya.
"Selamat siang, Pak Raka. Silakan duduk."
Aku duduk di kursi di depannya. Kursi kulit hitam yang empuk. Tanganku di pangkuan. Aku berusaha tenang.
"Selamat siang, Bu Larasati."
Dia tersenyum. Tipis. Hanya sudut bibirnya yang naik. "Terima kasih sudah datang. Saya sudah membaca berkas Anda. CV, portofolio, hasil psikotes. Semua bagus."
"Terima kasih."
Tapi dia tidak melihat berkas. Matanya masih menatapku. "Tapi saya ingin tahu lebih banyak. Tentang Anda. Bukan tentang kualifikasi Anda."
Aku mengangguk. "Silakan tanya apa saja."
"Kenapa Anda keluar dari perusahaan sebelumnya?"
"PHK. Pandemi. Perusahaan saya mengalami restrukturisasi."
"Menyakitkan?"
"Apa?"
"Di-PHK. Menyakitkan?"
Aku diam sejenak. Pertanyaan itu tidak biasa. Biasanya HRD bertanya dengan formal. "Bagaimana perasaan Anda saat menghadapi PHK?" Atau "Apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu?"
Tapi dia bertanya langsung. "Menyakitkan?"
"Ya," kataku. "Menyakitkan."
Dia mengangguk. "Bagus. Orang yang tidak mengakui rasa sakit biasanya tidak jujur pada dirinya sendiri."
Aku tidak tahu harus merespons apa. Jadi aku diam.
"Pekerjaan ini berat," katanya. "Anda akan menjadi asisten saya. Artinya, Anda akan bersama saya setiap hari. Mulai dari pagi hingga malam. Kadang akhir pekan. Kadang hari libur. Saya orang yang menuntut. Saya tidak suka keterlambatan. Saya tidak suka alasan. Saya tidak suka setengah-setengah."
"Bisa saya tangani."
"Bisa?" Dia menyandarkan punggung ke kursi. Matanya menyipit. "Atau Anda pikir bisa?"
Aku menahan napas. "Saya tahu bisa."
Diam. Beberapa detik. Kemudian dia tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. "Saya suka jawaban itu."
Dia berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi aku. Siluetnya terlihat jelas di balik cahaya dari luar. "Ada satu hal lagi yang harus Anda tahu, Pak Raka."
"Apa?"
Dia berbalik. Menatapku. "Pekerjaan ini bukan pekerjaan biasa. Saya punya... aturan tertentu. Aturan main."
"Aturan main?"
"Ya." Dia berjalan mendekat. Berhenti di samping mejaku. Wanginya. Sesuatu yang floral. Melati. Aku bisa menciumnya sekarang. "Aturan yang harus dipatuhi. Tanpa pengecualian."
Aku menatapnya. "Aturan apa?"
Dia duduk di ujung mejaku. Kaki menyilang. Rok pensil hitamnya naik sedikit. Menampakkan lutut. "Aturan pertama: jangan jatuh cinta pada saya."
Dunia berhenti sejenak.
"Apa?"
Dia tersenyum. Tapi senyum itu tidak hangat. "Anda dengar. Jangan jatuh cinta pada saya. Ini bukan gombalan. Bukan godaan. Ini peringatan."
Aku menelan ludah. "Saya tidak akan."
"Bagus." Dia berdiri. Kembali ke kursinya. "Aturan kedua: jangan coba-coba memanfaatkan posisi Anda. Saya tahu semua orang punya ambisi. Tapi ambisi Anda harus sejalan dengan perusahaan. Bukan dengan saya."
"Dimengerti."
"Aturan ketiga: semua yang terjadi di ruangan ini, di perusahaan ini, adalah rahasia. Tidak ada yang boleh bocor. Tidak ke teman. Tidak ke keluarga. Tidak ke pacar atau istri."
"Saya tidak punya pacar atau istri."
Dia mengangkat alis. "Pertimbangan yang bagus."
Aku merasa seperti sedang diuji. Tapi aku tidak tahu apa yang diuji. Integritas? Loyalitas? Atau sesuatu yang lain?
"Ada aturan lain?" tanyaku.
"Banyak." Dia mengambil map dari laci mejanya. Meletakkannya di depanku. "Ini kontrak kerja. Baca dulu. Jika setuju, tanda tangani."
Aku membuka map. Kertas-kertas putih dengan huruf kecil. Aku membaca baris pertama. Lalu kedua. Lalu ketiga.
Gaji. Tunjangan. Jam kerja. Semua standar.
Tapi di halaman terakhir, ada lampiran. Judulnya: "Aturan Tambahan."
Aku membacanya.
*Aturan 1: Karyawan dilarang menjalin hubungan romantis dengan atasan langsung selama masa kontrak.*
*Aturan 2: Karyawan dilarang membahas kehidupan pribadi atasan dengan pihak ketiga.*
*Aturan 3: Karyawan harus tersedia 24 jam untuk keperluan pekerjaan.*
*Aturan 4: Karyawan dilarang memasuki ruang pribadi atasan tanpa izin.*
*Aturan 5: Pelanggaran aturan akan mengakibatkan pemutusan kontrak sepihak tanpa pesangon.*
Aku mendongak. Menatapnya. "Ini... cukup ketat."
"Seperti yang saya bilang. Saya orang yang menuntut."
Aku menatap aturan-aturan itu lagi. Aturan 1. Jangan jatuh cinta.
Kenapa harus ditulis? Kenapa harus diperingatkan?
Aku menatapnya. Dia menatapku kembali. Matanya gelap. Tidak bisa dibaca.
"Ada pertanyaan?" tanyanya.
"Kenapa aturan ini ada? Kenapa Anda merasa perlu menulisnya?"
Dia diam. Beberapa detik. Kemudian dia tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Lebih kecil. Lebih... rapuh.
"Karena saya pernah melanggarnya," katanya pelan. "Dan saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Dia menepuk meja. "Tanda tangani jika setuju. Jika tidak, pintu di belakang Anda terbuka."
Aku mengambil pulpen. Menempelkannya di kertas. Tanganku berhenti.
Aku menatap aturan pertama lagi.
*Karyawan dilarang menjalin hubungan romantis dengan atasan langsung.*
Kenapa kata-kata itu terasa seperti tantangan?
Aku menandatanganinya.
Dia mengambil kontrak itu. Memeriksanya. Kemudian tersenyum. "Selamat datang, Pak Raka. Anda mulai besok. Jam tujuh pagi. Jangan terlambat."
Aku berdiri. "Tidak akan."
"Dan Pak Raka?"
"Iya?"
"Aturan mainnya sudah jelas. Jangan coba-coba melanggarnya."
Aku mengangguk. Tapi dalam hatiku, sebuah pertanyaan mengganggu.
Aturan dibuat untuk dilanggar. Bukan begitu?
Aku keluar dari ruangannya. Pintu tertutup di belakangku. Aku berdiri di lorong. Napasku berat.
Wanginya masih tertinggal di hidungku. Melati.
Dan aturan pertama masih terngiang di kepalaku.
*Jangan jatuh cinta pada saya.*
Seharusnya dia tidak mengatakan itu. Karena sekarang, satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah bagaimana rasanya melanggar aturan itu.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]