Share
Go Live
Fractured Vows
·
Published 11/2/2026
Hujan turun di Seoul seperti seseorang yang sedang menahan tangis, tertahan dan tidak pernah benar-benar pecah. Aku berdiri di dapur rumahku sendiri, memegang cangkir kopi yang sudah dingin sejak dua jam lalu, menatap pintu garasi yang kosong. Suamiku bilang dia pulang jam delapan. Sekarang jam sebelas lewat, dan aku sudah tiga kali memanaskan nasi yang sama sampai teksturnya berubah jadi bubur.
Aku menaruh cangkir itu. Bunyi keramiknya menyentuh meja marmer terdengar terlalu keras di rumah yang sepi ini. Rumah ini besar. Terlalu besar, mungkin. Kami beli tiga tahun lalu karena Junho ingin punya ruang kerja sendiri, ruang tamu terpisah, dapur island yang katanya bagus untuk menerima tamu. Tamu apa? Kami tidak pernah menerima siapa pun.
Ponselku menyala. Pesan dari Junho: *Meeting molor. Tidur dulu, jangan tunggu.*
Tidak ada maaf. Tidak ada emoji. Tidak ada tanda tanya apakah aku sudah makan.
Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya aku kirim: *Oke. Hati-hati.*
Dua kata. Sudah cukup, kan? Sudah cukup selama ini.
Aku mengenakan mantel tipis dan keluar. Bukan karena aku ingin pergi ke mana-mana. Hanya karena dinding-dinding rumah ini mulai terasa seperti menekan tulang rusukku. Udara malam Seoul yang lembap menyambar wajahku, dan untuk sesaat, aku bisa bernapas.
Aku berjalan tanpa arah. Trotoar basah memantulkan cahaya lampu jalan, dan langkahku membawa aku ke gang sempit di belakang kompleks apartemen lama, jalan pintas yang biasa aku ambil dulu sebelum menikah. Dulu, saat aku masih kuliah dan tinggal di kos-kosan, gang ini terasa hidup. Ada warung tua yang jual tteokbokki murah, ada kucing liar yang selalu datang kalau aku bawa sisa ikan.
Sekarang gang ini gelap. Lampu di ujungnya mati, sudah lama sepertinya, dan tidak ada yang repot-repot menggantinya.
Aku baru sadar ada seseorang saat bau alkohol dan keringat menerjang hidungku.
Dia muncul dari balik kontainer sampah, tinggi, kurus, dengan jaket lusuh yang basah kuyup. Wajahnya tidak jelas, tertutup bayangan, tapi matanya menangkap cahaya lampu jauh dan memantulkannya kembali ke arahku seperti koin di dasar sumur.
"Sendirian?" suaranya serak, tapi tidak kasar. Hampir seperti dia sendiri tidak yakin kenapa dia bicara.
Aku mundur satu langkah. Jantungku berdebar, tapi anehnya, bukan hanya karena takut. Ada sesuatu yang lain, semacam kejutan listrik yang menjalar dari tengkuk ke ujung jari. Sudah lama aku tidak merasa apa pun selain lelah.
"Jangan dekat-dekat," kataku. Suaraku lebih tegas dari yang aku duga.
Dia tertawa. Pendek. Kering. "Aku cuma nanya."
Aku berbalik dan berjalan cepat, terlalu cepat, sampai tumitku sakit. Aku tidak menoleh lagi sampai aku sampai di depan pintu rumahku, dan saat aku menoleh, gang itu kosong.
Tapi tangan kiriku gemetar saat aku memasukkan kunci.
---
Aku tidak tidur malam itu.
Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat matanya lagi. Bukan mata yang mengancam. Mata yang lelah. Mata yang, entah kenapa, mengingatkanku pada diriku sendiri.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap cermin. Rambutku masih basah dari shower, menetes ke bahu, membentuk pola gelap di kain piyama sutra yang Junho belikan tahun lalu. Dia bilang warna itu cocok untukku. Dia bilang aku terlihat cantik. Itu terakhir kali dia bilang aku cantik, dan itu delapan bulan lalu.
Aku menekan telapak tanganku ke dadaku. Di bawah kulit, di bawah tulang, ada sesuatu yang berdenyut pelan, seperti mesin yang hampir mati tapi belum benar-benar berhenti. Aku tidak tahu apakah itu rasa bersalah, atau rasa takut, atau hanya kesepian yang sudah mengeras jadi bentuk lain.
Junho pulang jam dua pagi. Aku pura-pura tidur. Dia tidak menyalakan lampu, tidak mencium keningku, tidak bilang apa-apa. Aku dengar dia melepas jasnya, membuka kancing kemejanya, dan berbaring di sisi ranjang yang jauh dariku. Di antara kami ada jarak sepanjang lengan yang tidak pernah terjembatani.
Pagi datang dengan cahaya abu-abu yang masuk lewat celah gorden.
Aku bangun lebih dulu, seperti biasa. Aku membuat sarapan, seperti biasa. Aku menaruh sepiring telur dan roti panggang di meja, seperti biasa. Junho muncul dengan rambut acak-acakan, memakai kemeja yang sudah aku setrika kemarin, dan duduk tanpa bilang apa-apa.
"Semalam aku keluar sebentar," kataku.
Dia mengangguk. Matanya di ponsel.
"Ke gang belakang. Ada orang aneh."
"Mm." Dia mengunyah rotinya.
"Junho."
Dia mendongak. "Apa?"
Aku menatapnya. Ada begitu banyak hal yang ingin aku katakan. Tentang rasa takut yang masih tersisa di ujung sarafku. Tentang rasa kesepian yang lebih besar dari rasa takut itu. Tentang bagaimana aku mulai lupa kapan terakhir kali dia benar-benar melihatku.
Tapi yang keluar hanya: "Tidak. Tidak apa-apa."
Dia kembali ke ponselnya.
Aku mengambil tas dan keluar rumah. Udara pagi lebih segar, dan jalanan Seoul sudah hidup dengan bunyi klakson dan langkah kaki. Aku berjalan ke convenience store di ujung blok, tempat yang biasa aku datangi kalau aku butuh sesuatu yang tidak perlu aku pikirkan. Kopi kaleng. Onigiri tuna mayo. Permen mint.
Pintu otomatis itu berbunyi saat aku masuk. Lagu K-pop mengalun pelan dari speaker langit-langit. Seorang pegawai muda dengan seragam biru mengangguk sopan. Aku balas dengan senyum tipis dan menuju rak minuman.
Aku sedang meraih kopi ketika aku melihatnya lewat jendela kaca.
Sekelompok pria di gang seberang, di antara gedung laundry dan toko kosmetik yang tutup. Mereka duduk di atas kardus, berbagi sebungkus ramyeon, tertawa pelan. Dan di antara mereka, aku mengenali jaket lusuh itu.
Dia ada di sana. Duduk bersandar di dinding, menatap lantai, tidak ikut tertawa.
Tanganku membeku di udara.
Aku seharusnya pergi. Aku seharusnya membayar kopiku dan berjalan pulang dan melupakan semuanya. Itu yang dilakukan perempuan waras. Itu yang dilakukan istri yang baik.
Tapi aku berdiri di sana, di antara rak-rak snack dan minuman dingin, dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku mual.
Aku tidak takut.
Aku penasaran.
Aku membayar kopiku. Pegawai itu bilang, "Hati-hati, eonni," dan aku tersenyum, dan aku keluar, dan aku berjalan ke arah yang salah. Bukan pulang. Bukan ke rumah.
Ke gang itu.
Aku berhenti beberapa meter dari mereka. Salah satu pria mendongak, melihatku, dan menyenggol temannya. Lalu jaket lusuh itu mendongak juga, dan mata kami bertemu lagi. Sama seperti semalam. Lelah. Kosong. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam pengakuan, seperti dua orang yang sama-sama tenggelam dan saling mengenali dari cara mereka mengapung.
Dia berdiri. Pelan. Tidak mengancam. Hanya berdiri.
"Kamu lagi," katanya.
"Ya," jawabku. "Aku lagi."
Dia mengangguk pelan, seperti itu jawaban yang dia harapkan. Dia melangkah mendekat, satu langkah, dua langkah, dan aku tidak mundur. Jantungku berdebar, tapi bukan karena takut. Bukan sama sekali.
"Aku nggak tahu kenapa kamu balik ke sini," katanya, suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Tapi aku rasa kamu juga nggak tahu."
Aku menelan ludah. Di belakangku, Seoul berisik dan sibuk dan tidak peduli. Di depanku, seorang pria yang tidak punya apa-apa menatapku seperti aku adalah satu-satunya hal yang pernah dia lihat.
Dan di dalam dadaku, sesuatu yang lama mati mulai berdenyut lagi.
"Namamu siapa?" tanyaku.
Dia tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum orang yang sudah lama tidak ditanya apa pun oleh siapa pun.
"Seokjin," katanya. "Dan kamu?"
Aku ragu. Nama itu adalah satu-satunya hal yang masih menghubungkanku dengan hidup yang aku tahu. Kalau aku menyebutnya, aku mengakui bahwa aku ada. Bahwa aku nyata. Bahwa aku adalah istri seseorang, tinggal di rumah besar, punya suami yang tidak pernah melihatku.
"Yuna," jawabku akhirnya.
Dan begitu nama itu keluar dari mulutku, aku tahu aku sudah melewati garis yang tidak bisa aku tarik kembali.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]