Cadar di Balik Meja

·

Published 8/17/2026
22views
cover image

# Fantasi

Lampu kantor masih menyala ketika Raka menekan tombol lift. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Lembur lagi. Seperti biasa.

Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Lelah. Tapi bukan fisik yang membuatnya lelah.

Di dalam lift, dia berdiri di sudut sambil menunduk. Tiga orang lain masuk di lantai delapan. Dua pria, satu wanita. Wanita itu bercadar hitam. Matanya saja yang terlihat. Tajam. Tenang.

Raka menahan napas.

Dia tidak tahu kenapa setiap kali melihat wanita bercadar, dadanya sesak. Bukan karena penasaran. Bukan karena nafsu yang vulgar. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya sulit bernapas, seperti udara di dalam lift tiba-tiba habis.

Wanita itu turun di lantai dasar. Berjalan cepat ke arah parkiran. Raka mengikuti punggungnya dengan mata sampai sosok itu menghilang di balik pintu kaca.

Dia menghela napas. *Kampungan*, katanya dalam hati. *Dasar kampungan.*

Tapi dia tidak bisa berhenti.

---

Pagi harinya, Raka sampai di kantor pukul tujuh kurang seperempat. Lebih awal dari biasanya. Dia ingin menyelesaikan laporan sebelum rapat jam sembilan.

Ruang divisi masih sepi. Hanya lampu emergency yang menyala redup. Dia menyalakan AC, komputer, dan dispenser dalam satu gerakan berantai. Kebiasaan yang sudah berjalan tiga tahun.

Dia baru duduk ketika pintu terbuka.

"Pak Raka sudah datang? Saya kira saya yang paling pagi."

Suara itu. Ringan. Bersemangat. Raka menoleh dan melihat Maya melangkah masuk dengan dua gelas kopi plastik. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Blazer abu-abu dipadukan dengan celana kain hitam. Tidak berjilbab.

"Ini kopi buat Bapak. Kebetulan saya lewat Starbuck."

"Mbak Maya. Terima kasih." Raka menerima kopi itu. "Baru masuk?"

"Baru. Tadi anter anak dulu ke sekolah." Maya duduk di meja sebelahnya. "Pak Raka lembur lagi semalam? Mata Bapak merah."

"Ah, sedikit. Laporan divisi."

"Pak Raka kerja keras sekali. Istirahat dong. Nanti jatuh sakit."

Raka tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja."

Maya membuka laptopnya. Dia tipe orang yang tidak bisa diam. Tangannya bergerak cepat, matanya menyapu layar, mulutnya masih berbicara. "Rapat jam sembilan, Pak. Bu Dian minta kita siapkan data penjualan tiga bulan terakhir. Saya sudah siapkan draft. Nanti saya kirim."

"Baik. Terima kasih."

Maya menatapnya sebentar. "Pak Raka kenapa? Kok murung?"

"Tidak. Hanya belum segar."

"Bohong." Maya tertawa kecil. "Sudah tiga tahun saya kerja dengan Bapak. Wajah murung Bapak itu beda sama wajah capek. Ini muka murung."

Raka tidak menjawab. Dia membuka laptop dan mulai mengetik.

Maya mengangkat bahu. "Baik, baik. Saya tidak usik. Tapi kalau Bapak mau curhat, saya siap mendengar. Saya teman curhat yang baik, lho."

"Iya. Nanti."

Maya kembali ke komputernya. Tapi Raka bisa merasakan tatapannya sekali-sekali. Maya memang seperti itu. Perhatian. Mungkin terlalu perhatian.

Pukul setengah delapan, dua orang lain masuk. Yang pertama adalah Dimas. Pria bertubuh besar dengan kumis tebal. Dia langsung duduk dan membuka laptop tanpa bicara. Yang kedua adalah Hendra. Pria kurus berkacamata yang selalu membawa bekal sarapan dari rumah.

"Pagi, Pak," kata Hendra sambil mengunyah roti.

"Pagi," jawab Raka.

Dimas hanya mengangguk.

Suasana hening beberapa menit. Hanya suara keyboard dan kunyahan. Raka menyukai keheningan seperti ini. Tidak perlu bicara. Tidak perlu berpura-pura.

Tapi keheningan itu pecah ketika pintu terbuka lagi.

"Selamat pagi, semuanya."

Suara itu dalam. Berwibawa. Semua orang menoleh.

Bu Dian berdiri di ambang pintu. Wanita berusia empat puluh tahun dengan rambut disanggul rapat. Blazer krem. Rok pensil. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia berjalan ke meja kerjanya di pojok ruangan dengan langkah tegap.

"Rapat jam sembilan. Semua harus siap," katanya tanpa menatap siapa pun.

"Siap, Bu," jawab Maya. Yang lain hanya mengangguk.

Bu Dian membuka laci. Mengeluarkan map. Membacanya dengan cepat. Tidak ada yang berani mengganggu.

Itu dia. Wanita yang sempurna. Tertata. Penuh wibawa. Tapi dingin seperti es batu.

Raka pernah melihat Bu Dian tersenyum sekali. Itu pun di acara kantor, ketika direktur utama memberikan penghargaan. Senyumnya kaku. Seperti otot wajahnya lupa bagaimana cara tersenyum dengan tulus.

Tapi Raka tidak bisa menilai. Dia sendiri juga jarang tersenyum.

---

Rapat berlangsung seperti biasa. Bu Dian memimpin dengan tegas. Maya sesekali melontarkan lelucon yang membuat suasana sedikit mencair. Dimas diam saja. Hendra mencatat semuanya.

Raka duduk di ujung meja. Mendengarkan. Mencatat. Tapi pikirannya melayang.

Dia memikirkan wanita bercadar di lift semalam.

Matanya.

Cara jalannya.

Cara dia menunduk ketika masuk lift.

Raka menggigit bibir. *Apa-apaan ini.*

"Pak Raka."

Suara Bu Dian membuatnya tersentak.

"Ya, Bu?"

"Pendapat Bapak tentang strategi pemasaran kuartal depan?"

Raka berdeham. "Saya pikir kita perlu fokus pada segmen menengah ke bawah. Data penjualan tiga bulan terakhir menunjukkan peningkatan di segmen itu. Kita bisa manfaatkan momentum."

Bu Dian mengangguk. "Setuju. Tolong buat proposal detailnya. Deadline Jumat."

"Baik, Bu."

Maya meliriknya. Tersenyum kecil. Raka mengabaikan.

Rapat selesai pukul sebelas. Semua kembali ke meja masing-masing. Raka membuka laptop dan mulai mengetik proposal. Tapi pikirannya masih kacau.

Dia ingat pertama kali menyadari ketertarikannya pada wanita bercadar. Dua tahun lalu. Waktu itu dia naik bus Transjakarta. Seorang wanita bercadar hitam duduk di depannya. Wanita itu membaca Alquran di ponselnya. Suara bacaan pelan, hampir tidak terdengar. Tapi Raka bisa melihat gerakan bibir di balik cadar. Perlahan. Tartil.

Sejak itu, sesuatu berubah.

Dia mulai memperhatikan. Di jalan. Di mal. Di masjid dekat kantor. Setiap kali melihat wanita bercadar, matanya otomatis mencari. Dan dadanya sesak.

Bukan nafsu. Raka yakin itu.

Dia sudah menikah. Istrinya, Sari, adalah wanita yang baik. Mereka punya satu anak perempuan, Aisyah, yang berusia lima tahun. Raka mencintai mereka. Tidak ada masalah di rumah tangganya.

Tapi ada sesuatu tentang cadar yang membuatnya gelisah.

Mungkin karena cadar menutupi segalanya. Menyisakan misteri. Menyisakan imajinasi.

Atau mungkin karena cadar mengingatkannya pada sesuatu yang hilang.

Raka tidak tahu.

Dia hanya tahu bahwa setiap kali melihat wanita bercadar, ada keinginan untuk mendekat. Bukan untuk membuka cadarnya. Bukan untuk melihat wajahnya. Tapi untuk berada di dekatnya. Untuk merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Itu membuatnya merasa bersalah.

Dia suami. Dia ayah. Dia pria yang dianggap alim oleh teman-temannya. Dia rajin salat. Rajin puasa sunah. Rajin baca Alquran.

Tapi pikirannya kotor.

*Tidak kotor,* bantahnya dalam hati. *Hanya aneh. Hanya tidak normal.*

Dia menghela napas panjang. Menutup laptop.

"Pak Raka mau ke mana?" tanya Maya.

"Mau ke masjid. Dzuhur."

"Jam setengah dua belas masih. Baru jam dua belas."

"Saya mau salat sunah dulu."

Maya mengangguk. "Baik. Saya titip doa, Pak."

Raka berjalan ke masjid yang terletak di lantai dasar gedung. Masjidnya kecil. Muat sekitar tiga puluh orang. Tapi bersih dan nyaman.

Dia masuk, mengambil air wudhu, dan masuk ke ruang salat.

Dia salat tahiyatul masjid. Lalu duduk. Membaca Alquran.

Tapi pikirannya tidak tenang.

Dia memandang pembatas yang memisahkan area pria dan wanita. Pembatas itu terbuat dari triplek. Tingginya sekitar dua meter. Tidak bisa melihat ke seberang.

Tapi Raka bisa mendengar.

Dari belakang pembatas, terdengar suara wanita mengaji. Suaranya pelan. Merdu. Raka menutup matanya.

Dia tidak tahu kenapa, tapi suara itu membuatnya tenang. Seperti air dingin di tengah panas.

Dia duduk cukup lama. Mungkin setengah jam. Sampai suara di belakang pembatas berhenti. Lalu terdengar langkah kaki menjauh.

Raka membuka mata. Masjid kosong. Hanya dia sendiri.

Dia pulang ke kantor dengan perasaan campur aduk.

---

Sore harinya, Maya mendekati mejanya. "Pak Raka, nanti pulang bareng? Saya ada mobil. Bapak kan naik KRL."

"Tidak usah. Saya masih ada kerjaan."

"Bohong lagi. Jam lima sudah pulang. Masa kerjaan tidak selesai?"

Raka diam.

"Pak Raka, saya serius." Maya duduk di kursi di samping mejanya. "Bapak kelihatan stres akhir-akhir ini. Ada masalah? Mungkin saya bisa bantu."

"Tidak ada masalah."

"Pasti ada. Wajah Bapak tidak bisa bohong." Maya mencondongkan tubuh. "Kita teman, kan? Sudah tiga tahun. Bapak bisa percaya sama saya."

Raka menatap Maya. Wanita ini memang baik. Energik. Supel. Tapi kadang terlalu ingin tahu.

"Saya baik-baik saja, Mbak. Hanya sedikit lelah."

"Lelah karena lembur? Atau lelah karena sesuatu yang lain?"

Raka tidak menjawab.

Maya menghela napas. "Baik. Saya tidak memaksa. Tapi ingat, Pak. Saya ada di sini kalau Bapak butuh teman bicara."

"Terima kasih."

Maya kembali ke mejanya. Raka menatap layar komputer. Tapi tidak ada yang bisa dia baca.

Dari sudut matanya, dia melihat Bu Dian sedang mengetik dengan cepat. Wajahnya serius. Fokus. Tidak terganggu oleh apa pun.

Wanita itu sempurna. Tertata. Berwibawa. Tapi Raka tidak tertarik padanya.

Dia tertarik pada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

---

Pulang kerja, Raka naik KRL seperti biasa. Gerbong penuh. Dia berdiri sambil memegang pegangan di atas.

Di seberangnya, seorang wanita bercadar duduk. Wanita itu memegang tas jinjing. Matanya menatap ke luar jendela.

Raka menatapnya.

Bukan tatapan yang menggoda. Bukan tatapan yang bernafsu. Tapi tatapan yang penuh tanya.

*Siapa dia? Apa yang dia pikirkan? Bagaimana rasanya hidup di balik cadar?*

Wanita itu menoleh. Mata mereka bertemu.

Raka cepat-cepat mengalihkan pandangan. Jantungnya berdebar.

Dia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue.

KRL berhenti di stasiun Tanah Abang. Wanita itu turun. Raka mengikuti punggungnya dengan mata sampai pintu tertutup.

Dia menghela napas lega. Tapi juga kecewa.

*Dasar kampungan.*

---

Sampai di rumah pukul setengah tujuh. Aisyah menyambutnya di pintu.

"Papaaa!"

Raka menggendongnya. Mencium pipinya. "Aisyah salat Maghrib belum?"

"Belum. Nunggu Papa."

"Yuk, salat bareng."

Mereka salat berjamaah. Raka jadi imam. Aisyah di belakangnya. Sari di samping Aisyah.

Setelah salat, mereka makan malam bersama. Sari memasak sayur sop dan tempe goreng. Sederhana. Tapi hangat.

"Pak, kok kurusan?" tanya Sari sambil menyendok nasi ke piring Raka.

"Ah, biasa. Kerjaan banyak."

"Jangan lupa makan. Nanti sakit."

"Iya."

Aisyah bercerita tentang sekolahnya. Tentang temannya yang punya kucing. Tentang Bu Guru yang marah karena ada anak yang tidak mengerjakan PR.

Raka mendengarkan sambil tersenyum. Tapi pikirannya melayang.

Dia memikirkan wanita bercadar di KRL tadi.

Dia memikirkan matanya.

Dia memikirkan kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan hal seperti itu.

"Pak."

Suara Sari membuatnya tersadar.

"Ya?"

"Aisyah tanya, besok Papa antar dia ke sekolah?"

"Ah, iya. Besok Papa antar."

Aisyah bertepuk tangan. "Asyik! Aisyah mau cerita tentang kucingnya Bu Guru."

Raka mengusap kepala anaknya. "Iya, Sayang."

Malam itu, Raka tidur lebih awal. Tapi dia tidak bisa tidur.

Dia membolak-balikkan badan. Memikirkan hal yang sama.

*Kenapa? Kenapa aku seperti ini?*

Dia ingat ceramah ustadz di masjid dekat kantor. Ustadz itu bilang, "Pandangan yang tidak halal adalah anak panah beracun dari setan."

Raka merasa bersalah. Tapi dia tidak bisa berhenti.

Dia tidak pernah bertindak. Tidak pernah mendekati. Tidak pernah berbicara. Tapi pikirannya terus melayang ke arah itu.

Dia memejamkan mata. Berusaha mengosongkan pikiran.

Tapi yang muncul justru bayangan wanita bercadar. Matanya. Gerakannya. Suaranya.

Raka menghela napas panjang.

*Ya Allah, beri aku petunjuk.*

---

Keesokan harinya, Raka masuk kantor dengan perasaan masih kacau. Dia berusaha fokus pada pekerjaan. Tapi gagal.

Maya menawarkan kopi. "Pak Raka, ini kopi. Biar segar."

"Terima kasih."

"Bapak tidur kurang? Mata Bapak sembab."

"Ah, sedikit."

Maya duduk di depannya. "Pak Raka, saya mau bicara serius."

"Tentang apa?"

"Tentang Bapak." Maya menatap matanya. "Saya perhatikan Bapak akhir-akhir ini sering melamun. Tidak fokus. Bahkan waktu rapat kemarin, Bapak seperti tidak hadir. Ada apa?"

Raka diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Pak, saya tidak bermaksud ikut campur. Tapi saya khawatir. Bapak itu orang baik. Suami baik. Ayah baik. Tapi Bapak kelihatan tidak bahagia."

Raka tersenyum pahit. "Saya bahagia."

"Bohong."

Maya menghela napas. "Baik. Saya tidak akan tanya lagi. Tapi tolong jaga diri Bapak. Kalau Bapak jatuh sakit, keluarga Bapak yang rugi."

"Iya. Terima kasih."

Maya kembali ke mejanya. Raka menatap layar komputer. Tapi yang terlihat bukan angka dan grafik.

Yang terlihat adalah mata wanita bercadar.

Dia menggelengkan kepala. *Fokus. Fokus.*

---

Jam istirahat tiba. Raka pergi ke masjid lagi. Kali ini dia salat Dzuhur tepat waktu. Lalu duduk. Berdoa.

"Ya Allah, hilangkan perasaan ini. Aku tidak mau terus begini. Aku mau jadi suami yang baik. Ayah yang baik. Tapi perasaan ini terus menghantuiku."

Dia berdoa cukup lama. Air mata hampir jatuh.

Tapi dia menahannya.

*Jangan cengeng. Ini ujian. Hadapi.*

Dia bangkit. Berwudhu lagi. Salat sunah.

Tapi pikirannya masih kacau.

---

Saat keluar dari masjid, dia melihat seseorang. Seorang wanita bercadar sedang duduk di taman kecil di samping masjid. Wanita itu membaca buku. Sendirian.

Raka berhenti.

Dia tidak bergerak. Tidak bernapas.

Wanita itu menoleh. Melihatnya.

Dan untuk beberapa detik, mereka saling menatap.

Raka merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan nafsu. Bukan cinta. Tapi seperti ada benang tipis yang menghubungkan mereka.

Wanita itu menunduk. Kembali membaca bukunya.

Raka berjalan pergi. Tapi langkahnya berat.

Dia tidak tahu bahwa sore itu akan menjadi awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Dia tidak tahu bahwa wanita bercadar itu adalah rekrutan baru di kantornya.

Dia tidak tahu bahwa besok, wanita itu akan duduk di divisinya.

Dan dia tidak tahu bahwa perasaannya selama ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Tapi semua itu akan dia ketahui besok.

Saat wanita bercadar itu masuk ke ruang divisi dengan senyum di matanya.

Saat Bu Dian memperkenalkannya sebagai anggota baru tim.

Saat Maya menyambutnya dengan hangat.

Saat Dimas dan Hendra mengangguk sopan.

Dan saat Raka merasa dunia berhenti berputar.

---

Malam itu, Raka pulang dengan perasaan aneh. Dia tidak tahu harus merasa apa. Takut? Senang? Bersalah?

Dia memikirkan Sari. Memikirkan Aisyah. Memikirkan rumah tangganya.

Tapi dia juga memikirkan wanita bercadar itu.

Dia memikirkan matanya. Matanya yang tenang. Matanya yang tajam. Matanya yang seolah tahu segalanya.

"Pak, kenapa diem aja?" tanya Sari saat mereka makan malam.

"Ah, capek."

"Kerjaan lagi banyak?"

"Iya."

Sari menghela napas. "Pak, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Istirahat yang cukup."

"Iya."

Aisyah tiba-tiba bicara. "Papa, Aisyah mau jadi dokter. Biar Papa sehat terus."

Raka tersenyum. Tersenyum tulus. "Papa bangga sama Aisyah."

Malam itu, Raka memeluk istrinya lebih lama dari biasanya. Sari terkejut, tapi dia membalas pelukan itu.

"Pak, ada apa?" bisik Sari.

"Tidak ada. Hanya sayang sama Ibu."

"Sayang juga."

Tapi Raka tidak bisa tidur.

Dia memikirkan besok.

Dia memikirkan wanita bercadar itu.

Dia memikirkan apa yang akan terjadi.

Dan dia berdoa.

*Ya Allah, beri aku kekuatan.*

---

Pagi itu, Raka sampai di kantor pukul tujuh. Seperti biasa. Tapi hatinya tidak seperti biasa.

Dia duduk di mejanya. Menunggu.

Maya datang pukul setengah delapan. "Pagi, Pak. Kok Bapak sudah datang?"

"Pagi. Biasa."

Maya menatapnya curiga. "Bapak yakin tidak apa-apa?"

"Yakin."

Pukul delapan, Bu Dian masuk. Di belakangnya, seseorang.

Wanita bercadar.

Raka menahan napas.

Bu Dian berdiri di depan ruangan. "Selamat pagi, semuanya. Saya perkenalkan anggota baru divisi kita. Ini Mbak Fatimah. Mulai hari ini, dia akan bergabung dengan tim kita."

Wanita itu mengangguk. "Selamat pagi. Saya Fatimah. Senang bekerja sama dengan Bapak dan Ibu semua."

Suaranya pelan. Lembut. Tapi tegas.

Maya menyambutnya dengan hangat. "Selamat datang, Mbak Fatimah. Saya Maya. Senang kenal."

"Senang kenal juga."

Dimas dan Hendra mengangguk. Raka hanya diam.

Fatimah menatapnya. Tersenyum dengan mata. "Bapak?"

Raka berdeham. "Raka. Selamat datang."

"Terima kasih, Pak Raka."

Mereka berjabat tangan. Raka merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuat jantungnya berdetak cepat.

Fatimah duduk di meja yang disediakan. Tepat di seberang Raka.

Raka menunduk. Membuka laptop. Berusaha fokus.

Tapi dia tahu. Dia tahu bahwa hidupnya tidak akan sama lagi.

Dia tahu bahwa perasaannya selama ini bukan sekadar fantasi.

Dia tahu bahwa Fatimah akan menjadi sesuatu.

Sesuatu yang tidak bisa dia hindari.

Sesuatu yang mungkin akan menghancurkannya.

Atau mungkin menyelamatkannya.

Dia tidak tahu.

Tapi dia akan mengetahuinya.



22views

Watch this moment

Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]