Share
Go Live
Ibu Dalam Kulit
·
Published 9/28/2026
Aku tahu suara langkah kaki itu bahkan sebelum pintu depan terbuka. Ritmenya terlalu ringan untuk ayah, terlalu cepat untuk tamu. Ibu selalu berjalan seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang tidak kelihatan, tumitnya menghantam lantai keramik dengan ketukan pendek-pendek yang tidak sabar.
"Aldo? Kamu di rumah?"
Suaranya melengking dari lorong. Aku menutup laptop dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menunggu. Dua detik kemudian dia muncul di ambang pintu kamarku, masih memakai seragam kerja biru laut yang membalut pinggulnya dengan cara yang membuatku harus mengalihkan pandangan ke jendela.
"Kenapa pulang cepat?" tanyaku.
"Ibu minta izin pulang. Kepala pusing." Dia menyandarkan bahunya ke kusen pintu. Keringat di pelipisnya masih basah, dan ada noda kopi di kerah kemejanya. "Kamu belum makan?"
"Belum."
"Ya sudah, Ibu masak."
Dia berbalik dan hilang ke arah dapur. Aku dengar lemari dibuka, air keran menyala, lalu suara pisau menghantam talenan. Rutinitas. Setiap hari sama. Ayah pergi sebelum matahari terbit, ibu pulang sore, aku di kamar dengan laptop dan tugas kuliah yang tidak pernah selesai. Tiga orang di rumah yang sama, masing-masing hidup di orbitnya sendiri.
Tapi malam itu orbitnya bergeser.
Aku sedang duduk di ruang makan, menunggu nasi matang, ketika ibu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke pundaknya. Dia biasanya tidak pernah keluar kamar seperti itu. Selalu berganti pakaian di dalam kamar, pintu tertutup, seratus persen aman.
"Ma," kataku, mata menatap piring kosong.
"Iya?"
"Kenapa keluar cuma pakai handuk?"
Dia tertawa. Tawa kecil yang aneh, seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya. "Kamar mandi air panasnya rusak. Ibu mau ambil baju di lemari. Kamu kenapa? Malu sama ibumu sendiri?"
Aku tidak menjawab. Dia melangkah lewat, dan aku mencium bau sabun dan sesuatu yang lebih hangat di bawahnya, bau kulit yang baru selesai mandi. Handuk itu terlalu pendek. Terlalu ketat. Aku menatap lantai sampai dia menghilang di balik pintu kamarnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena suara atau cahaya. Tapi karena gambar yang terus muncul di belakang mataku. Handuk putih. Tetesan air. Dan cara dia tersenyum saat bertanya apakah aku malu. Ada nada lain di suara itu. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.
Aku bangun jam dua pagi untuk minum. Dapur gelap, hanya lampu jalan yang menembus jendela. Aku sedang menuang air ketika aku dengar pintu kamar ibu terbuka.
Dia keluar dengan kaus oblong putih panjang yang menutupi sampai paha. Tanpa bra, jelas dari cara kain itu jatuh. Dia tidak melihatku. Dia berjalan ke arah kulkas, membukanya, dan cahaya dari dalam kulkas menyorot tubuhnya dari samping.
Aku berdiri diam di balik lemari dapur.
Dia mengambil sebotol air, menutup kulkas, dan minum. Tetesannya jatuh ke dagunya, ke lehernya, ke kain putih yang mulai menempel di dadanya. Dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan, lalu berbalik.
Dan melihatku.
"Astaga." Dia tersentak, botolnya hampir jatuh. "Aldo. Kamu bikin Ibu kaget."
"Maaf. Aku cuma mau minum."
Dia menatapku lama. Terlalu lama. Cahaya dari jendela cukup untuk membuat matanya berkilat.
"Kenapa kamu lihat Ibu seperti itu?" tanyanya.
"Seperti apa?"
"Seperti..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menaruh botol di meja, dan langkahnya mendekat. Satu langkah. Dua. Aku bisa mencium bau tubuhnya lagi, sabun dan keringat tidur yang samar. "Kamu sudah besar, Aldo."
"Aku tahu."
"Kamu tahu apa?"
Aku tidak menjawab. Dia berhenti tepat di depanku, jarak satu lengan. Kaus oblongnya bergerak naik turun mengikuti napasnya.
"Ibu minta tolong sesuatu," katanya pelan. "Tapi kamu tidak boleh bilang siapa-siapa. Termasuk ayah."
"Kenapa?"
"Karena ini antara Ibu dan kamu."
Dia meraih tanganku. Jari-jarinya dingin dari botol air. Dia menuntunku ke kamarnya, dan aku membiarkan diriku dituntun, seperti orang yang berjalan dalam mimpi. Pintu kamarnya terbuka. Di atas tempat tidur, terhampar sesuatu yang tidak aku mengerti pada awalnya.
Seperti kulit. Kulit manusia yang dikosongkan.
Warnanya krem pucat, mengkilap seperti karet tipis, dengan lipatan-lipatan di bagian yang seharusnya menjadi leher dan lengan. Kosong. Datar. Seperti baju yang terbuat dari daging.
"Apa itu?" Suaraku serak.
"Ibu dapat dari teman kantor." Dia melepaskan tanganku dan mendekati tempat tidur. "Namanya skinsuit. Kamu pernah dengar?"
"Belum."
"Orang yang pakai ini bisa berubah jadi siapa saja. Bentuknya mengikuti tubuh yang pakai." Dia menyentuh permukaan kulit itu dengan ujung jarinya. "Ibu mau coba. Tapi Ibu butuh bantuan kamu untuk masuk ke dalamnya."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering. "Kenapa aku?"
"Karena kamu satu-satunya orang yang Ibu percaya." Dia menatapku, dan ada sesuatu di matanya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Takut? Berharap? Aku tidak bisa membedakannya. "Dan karena ini tidak bisa Ibu lakukan sendiri."
Dia mulai membuka kaus oblongnya. Aku berbalik, tapi dia menahan lenganku.
"Jangan berpaling," katanya. "Kalau kamu mau bantu, kamu harus lihat."
Aku menatapnya. Dia menanggalkan kaus itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melihat ibuku telanjang. Kulitnya lebih gelap dari yang aku bayangkan, dengan garis-garis tipis di perutnya yang menandakan dua kehamilan. Payudaranya turun sedikit, tapi putingnya masih tegak, gelap, dan keras. Rambut di antara pahanya hitam dan rapi.
Dia tidak muda lagi. Tapi ada sesuatu tentang tubuh yang sudah dipakai tiga puluh sembilan tahun yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Bagaimana caranya?" tanyaku.
"Kaki dulu." Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengangkat skinsuit itu. Bagian kakinya kosong, menggantung seperti kulit yang dilepas dari tubuh. "Masukkan kaki Ibu ke sini."
Aku berlutut di depannya. Tanganku gemetar saat aku memegang ujung skinsuit itu. Bahannya hangat, anehnya. Seperti kulit yang baru dilepas dari tubuh yang hidup. Aku memasukkan kaki kanannya, lalu kiri. Kulit itu menempel di betisnya, merayap naik seperti sesuatu yang hidup.
"Tarik," katanya. "Sampai ke pinggul."
Aku menariknya naik. Skinsuit itu membalut pahanya, pinggulnya, dan aku harus mengangkat tubuhnya sedikit untuk menyelesaikan bagian belakang. Tanganku menyentuh bokongnya, dan dia tidak bereaksi. Matanya tertutup.
"Lanjut," katanya.
Aku menarik lagi. Sekarang bagian perutnya. Kulit sintetis itu menempel di kulit aslinya, menyatu seperti lapisan kedua. Aku bisa melihat putingnya tertutup oleh lapisan baru yang lebih pucat, lebih halus.
"Tangannya," katanya.
Dia memasukkan tangannya sendiri ke dalam lengan skinsuit itu. Aku membantu menariknya sampai ke ujung jari. Lalu bagian dada. Leher. Wajah.
Ketika selesai, dia berdiri di depanku.
Dan dia bukan ibuku lagi.
Wanita yang berdiri di depanku sekarang adalah seorang gadis berusia dua puluhan. Kulitnya pucat bersih, tanpa garis-garis di perut. Payudaranya kecil dan tegak. Rambutnya pirang panjang, jatuh ke punggungnya. Wajahnya berbeda. Hidung lebih kecil, bibir lebih penuh, mata lebih lebar.
Dia tersenyum, dan senyum itu bukan senyum ibuku.
"Bagaimana?" Suaranya juga berbeda. Lebih tinggi, lebih ringan. "Ibu kelihatan seperti siapa?"
"Kamu..." Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.
Dia melangkah mendekat, dan tubuh barunya bergerak dengan cara yang tidak pernah dilakukan tubuh ibuku. Pinggulnya bergoyang. Dadanya naik turun. Dia berhenti tepat di depanku, dan aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Kamu suka?" tanyanya.
Aku tidak menjawab. Dia meraih tanganku dan menempelkannya ke dadanya. Kulit skinsuit itu hangat. Lembut. Lebih halus dari kulit manusia. Puting di bawahnya keras, dan aku bisa merasakannya di telapak tanganku.
"Ini masih Ibu di dalam," katanya pelan. "Tapi di luar, Ibu bisa jadi siapa saja. Siapa yang kamu mau?"
Pertanyaan itu menggantung di udara antara kami. Aku menatap wajah asing di depanku, dan di balik matanya yang baru, aku bisa melihat ibuku menatapku. Menunggu.
Aku menarik tanganku.
"Aku tidak bisa," kataku.
"Kenapa?"
"Karena kamu ibuku."
Dia tertawa. Tawa yang sama seperti tadi, tawa yang aneh, seperti ada yang tersangkut. "Di luar aku bukan ibumu. Di luar aku siapa saja yang kamu mau. Kamu tidak penasaran?"
Aku mundur satu langkah. Dia mengikuti.
"Aldo." Suaranya berubah. Lembut. Rayuan. "Ibu sudah lama memperhatikan kamu. Cara kamu melihat Ibu. Cara kamu menghindar. Kamu pikir Ibu tidak tahu?"
"Ma."
"Jangan panggil Ibu Ma. Bukan sekarang."
Dia meraih tanganku lagi dan menempelkannya ke pipinya. Kulit skinsuit itu dingin sekarang, seperti logam. Matanya menatapku, dan aku tidak bisa membaca apa yang ada di dalamnya.
"Aku cuma mau kamu bahagia," katanya. "Dan Ibu juga."
Aku menatapnya. Gadis pirang dengan mata ibuku. Tubuh yang tidak pernah aku sentuh, tapi sudah aku kenal seumur hidup. Dan di dalam diriku, sesuatu yang gelap mulai bergerak, sesuatu yang tidak punya nama, sesuatu yang tidak boleh ada.
"Kalau aku bilang tidak?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Kamu tidak akan bilang tidak."
Dan dia benar.
Watch this moment
Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.
Disclaimer
This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
Content Removal Policy
- Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
- All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
- Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
- Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
- Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.
To report content, email us at [email protected]