Rahasia Tante Muda

·

Published 9/16/2026
2views

Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku akan berubah total hanya karena sebuah pesan teks yang salah kirim. Tapi begitulah cara semuanya dimulai. Pesan itu muncul di ponselku pukul setengah sepuluh malam, saat aku sedang duduk di balkon kosan, menatap lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan. Layar ponselku menyala, dan aku membaca kata-kata itu dengan alis berkerut.

“Sayang, aku sudah sampai. Kamu di mana?”

Aku hampir menghapusnya. Tapi sesuatu dalam diriku, mungkin rasa penasaran atau mungkin kebosanan yang sudah menggerogoti tulang-tulangku selama berminggu-minggu, membuatku membalas.

“Maaf, Mbak. Sepertinya salah kirim.”

Balasan datang dalam hitungan detik.

“Oh, maaf. Aku kira ini nomor suamiku. Hebat, ternyata aku salah nomor.”

Aku tersenyum. Ada sesuatu yang ringan dalam cara dia menulis. Tidak defensif. Tidak marah. Hanya semacam canda yang membuatku ingin tahu lebih banyak. Aku mengetik lagi.

“Tidak apa-apa. Semoga suami Mbak cepat sampai.”

Dia membalas dengan emoji tertawa. “Dia tidak akan sampai. Dia sedang sibuk dengan ‘rapat’ katanya.”

Tanda kutip itu. Aku langsung mengerti. Rapat. Istilah klasik untuk alasan yang tak pernah jujur. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ada celah di sana. Sebuah celah yang mungkin bisa aku masuki. Dan aku memutuskan untuk masuk.

Percakapan itu berlangsung selama dua jam. Kami berbicara tentang segala hal dan tidak ada hal. Dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai konsultan keuangan, tentang betapa lelahnya dia mengurus dua anak, tentang suaminya yang selalu sibuk dan jarang di rumah. Aku bercerita tentang kuliahku yang hampir selesai, tentang mimpiku menjadi arsitek, tentang betapa sepi rasanya hidup di kota besar ini. Ada ritme yang aneh dalam percakapan kami. Seperti dua orang yang sudah saling kenal lama, tapi baru pertama kali bicara.

Dia meminta foto. Aku kirimkan foto wajahku yang agak buram, dengan latar belakang langit malam. Dia membalas dengan foto dirinya. Rambut panjang hitam terurai, kulit putih bersih, mata yang tajam tapi hangat. Dia tersenyum tipis, dan di balik senyum itu aku melihat sesuatu yang membuat dadaku berdebar. Bukan hanya kecantikan. Tapi semacam kekuatan. Semacam keyakinan bahwa dia tahu apa yang dia inginkan.

“Kamu ganteng,” tulisnya. “Tapi jangan sombong.”

Aku tertawa sendirian di balkon. “Aku tidak sombong, Mbak. Hanya penasaran.”

“Penasaran tentang apa?”

“Tentang Mbak. Kenapa Mbak membalas pesan orang asing?”

Diam sejenak. Lalu dia menulis, “Karena aku juga penasaran. Dan karena suamiku tidak akan pernah tahu.”

Itu adalah kalimat yang mengubah segalanya. Bukan karena dia mengkhianati suaminya, tapi karena dia mengakuinya. Tanpa rasa bersalah. Tanpa drama. Hanya fakta. Dan aku, dengan segala kebodohan dan keberanian masa mudaku, memutuskan untuk menggali lebih dalam.

Kami bertemu tiga hari kemudian di sebuah kafe di pusat kota. Aku datang lebih awal, duduk di sudut, memesan kopi hitam yang pahit. Aku gugup. Tanganku sedikit gemetar saat memegang cangkir. Lalu pintu kafe terbuka, dan dia masuk.

Dia lebih cantik dari fotonya. Itu hal pertama yang terlintas di pikiranku. Dia memakai gaun biru navy yang sederhana tapi elegan, rambutnya diikat ekor kuda rendah, dan sepatu hak tingginya membuat langkahnya terdengar pasti di lantai kayu. Dia melihatku, tersenyum, dan berjalan ke arahku tanpa ragu.

“Kamu pasti Raka,” katanya, duduk di depanku tanpa menunggu jawaban.

“Iya, Mbak. Dan Mbak pasti Vina.”

Dia tertawa. Suaranya rendah, sedikit serak, seperti suara orang yang sudah banyak merokok. Tapi dia tidak merokok. Aku tahu itu dari napasnya yang segar saat dia mendekat.

Kami berbicara selama tiga jam. Tiga jam yang terasa seperti tiga menit. Dia bercerita tentang pernikahannya yang dingin, tentang bagaimana suaminya lebih mencintai pekerjaan daripada dirinya, tentang bagaimana dia merasa seperti hiasan di rumah sendiri. Aku bercerita tentang masa laluku yang biasa-biasa saja, tentang ayahku yang pergi saat aku masih kecil, tentang ibuku yang bekerja keras membesarkanku sendirian. Ada koneksi yang aneh. Seperti dua puzzle yang saling melengkapi.

Saat kami berpisah di depan kafe, dia menatapku lama. Matanya, yang cokelat tua, seperti danau yang dalam. Lalu dia berkata, “Aku ingin bertemu lagi. Tapi lain kali, jangan di kafe.”

Aku mengangguk. “Di mana, Mbak?”

“Di apartemenku. Besok malam. Suamiku akan pergi ke luar kota.”

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Dan aku, dengan segala kerinduan yang tidak bisa aku jelaskan, mengangguk lagi.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di kasur sempitku, menatap langit-langit, memikirkan tentang Vina. Tentang bagaimana dia berbicara. Tentang bagaimana dia tertawa. Tentang bagaimana dia menyentuh tanganku saat pamit, sentuhan yang singkat tapi terasa seperti api. Aku tidak bodoh. Aku tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tidak peduli. Atau mungkin aku terlalu bodoh untuk peduli.

Besok malam tiba. Aku berdiri di depan apartemennya, gedung tinggi di pusat kota, dengan pintu kaca yang mengkilap. Aku menekan bel, dan dia membuka pintu. Dia memakai gaun tidur sutra berwarna merah anggur, tipis, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih kencang meski sudah melahirkan dua anak. Rambutnya terurai, dan dia tidak memakai riasan. Tapi dia tetap cantik. Mungkin lebih cantik.

“Masuk,” katanya, suaranya lembut.

Aku masuk. Apartemennya luas, dengan pemandangan kota yang spektakuler dari jendela besar. Sofa putih, meja marmer, lampu gantung kristal. Semuanya rapi, semuanya mahal. Tapi ada kehampaan di sana. Seperti museum yang indah tapi tidak ada yang tinggal di dalamnya.

Dia menuangkan dua gelas anggur merah. Kami duduk di sofa, saling berhadapan. Aku minum sedikit, mencoba menenangkan sarafku. Tapi dia tidak minum. Dia hanya menatapku.

“Kamu gugup,” katanya.

“Sedikit.”

“Jangan gugup. Aku tidak akan menggigitmu. Kecuali kamu minta.”

Dia tersenyum, dan senyum itu membuatku lupa cara bernapas. Lalu dia meletakkan gelasnya di meja, meraih tanganku, dan menarikku mendekat.

Ciuman pertama itu lembut. Hampir seperti pertanyaan. Tapi kemudian dia menarikku lebih dekat, dan ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih lapar. Tangannya merayap ke rambutku, jari-jarinya menggenggam erat. Aku membalas dengan ciuman yang sama intensnya, tanganku meraih pinggangnya, merasakan kehangatan kulitnya di balik sutra tipis itu.

Dia melepaskan ciuman itu, menatapku dengan mata yang setengah tertutup. “Kamu masih perjaka?”

Aku tertawa gugup. “Bukan. Tapi sudah lama.”

“Berapa lama?”

“Setahun lebih.”

Dia tersenyum, lalu menggigit bibir bawahku pelan. “Bagus. Aku suka yang lapar.”

Dia berdiri, meraih tanganku, dan menuntunku ke kamar tidur. Kamar itu gelap, hanya diterangi lampu kecil di samping tempat tidur. Tempat tidurnya besar, dengan seprai putih yang bersih. Dia melepaskan gaun tidurnya dalam satu gerakan, dan dia berdiri di depanku telanjang.

Tubuhnya luar biasa. Kulitnya putih mulus, payudaranya masih kencang dengan puting yang gelap, pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang lebar membuatnya terlihat seperti patung Yunani kuno. Dia tidak malu. Dia berdiri dengan percaya diri, menatapku dengan tatapan yang penuh tantangan.

“Sekarang giliranmu,” katanya.

Aku melepas bajuku, celanaku, semuanya. Aku berdiri di depannya, dan dia memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu dia mengangguk, seolah menyetujui sesuatu.

“Kamu lebih baik dari yang aku bayangkan,” katanya.

Dia mendekat, meraih tanganku, dan membawaku ke tempat tidur. Kami berbaring, tubuh kami saling bersentuhan, dan aku merasakan panasnya. Dia membimbing tanganku ke dadanya, dan aku merasakan detak jantungnya yang cepat. Aku membelai kulitnya, dari leher ke perut, dari perut ke paha. Dia menghela napas, dan suara itu membuatku ingin memberikan segalanya.

Dia membalikkan posisi, duduk di atasku, mengendalikan segalanya. Dia bergerak dengan ritme yang lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi. Matanya tertutup, bibirnya terbuka sedikit, dan dia mengerang dengan suara yang rendah dan dalam. Aku meraih pinggulnya, membantunya bergerak, dan aku merasakan diriku tenggelam dalam sensasi yang tidak bisa aku jelaskan.

Kami bercinta selama berjam-jam. Sampai tubuh kami basah oleh keringat, sampai napas kami tersengal, sampai kami kehabisan tenaga. Lalu kami berbaring berdampingan, menatap langit-langit yang gelap, dan tidak ada yang berkata apa-apa.

Dia memecah keheningan. “Kamu hebat.”

Aku tertawa. “Kamu juga.”

Dia menoleh, menatapku. “Aku tidak ingin ini hanya sekali.”

Aku menatapnya kembali. “Aku juga tidak.”

Dia tersenyum, lalu mencium keningku. “Kalau begitu, ini awal dari sesuatu.”

Dan itu benar. Itu adalah awal. Awal dari hubungan yang aneh, yang rumit, yang penuh dengan rahasia dan kebohongan. Awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupku selamanya.

Tapi saat itu, aku tidak memikirkannya. Aku hanya menikmati kehangatan tubuhnya di sampingku, dan berharap malam itu tidak akan pernah berakhir.

Kami jatuh ke dalam rutinitas yang aneh. Vina akan mengirimiku pesan setiap hari, kadang hanya untuk bertanya kabar, kadang untuk mengatur pertemuan. Kami bertemu dua kali seminggu, selalu di apartemennya, selalu saat suaminya pergi. Aku mulai mengenal tubuhnya lebih baik daripada milikku sendiri. Aku tahu di mana dia suka disentuh, bagaimana dia suka dicium, apa yang membuat dia mengerang keras dan apa yang membuat dia terdiam.

Tapi di luar ranjang, dia berbeda. Dia cerewet, perhatian, kadang seperti ibu yang terlalu khawatir. Dia selalu bertanya apakah aku sudah makan, apakah aku sudah tidur cukup, apakah aku stres dengan skripsiku. Kadang dia memarahiku karena begadang atau karena lupa minum vitamin. Aku merasa aneh, tapi juga nyaman. Seperti memiliki seseorang yang peduli, meski dengan cara yang salah.

Suatu sore, saat kami berbaring di tempat tidur setelah bercinta, dia tiba-tiba bertanya, “Kamu punya pacar?”

Aku terkejut. “Tidak. Kenapa tanya?”

Dia mengangkat bahu. “Hanya penasaran. Kamu ganteng, baik, dan cukup pintar. Pasti banyak yang suka.”

Aku tersenyum. “Tapi aku lebih suka tante-tante.”

Dia tertawa, memukul lenganku pelan. “Dasar kurang ajar.”

Tapi aku serius. Ada sesuatu tentang Vina yang membuatku ketagihan. Bukan hanya seksnya, tapi cara dia memperlakukanku. Dia membuatku merasa dewasa, diinginkan, penting. Di matanya, aku bukan hanya mahasiswa miskin yang tinggal di kosan sempit. Aku adalah seseorang yang layak diperhatikan.

Tapi aku juga tahu bahwa ini tidak akan bertahan lama. Ada bayangan suaminya di setiap sudut apartemen itu. Foto pernikahan di ruang tamu, jas pria di lemari, sikat gigi di kamar mandi. Aku hanya tamu, dan suatu hari tamu harus pergi.

Hari itu tiba lebih cepat dari yang aku kira.

Suatu malam, saat aku sedang mengerjakan skripsi di kosan, ponselku berdering. Itu Vina. Tapi suaranya berbeda. Panik.

“Raka, kamu harus datang sekarang.”

“Ada apa?”

“Suamiku pulang lebih awal. Dia di ruang tamu. Aku di kamar mandi. Aku tidak bisa keluar.”

Jantungku berdegup kencang. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Diam saja. Jangan kirim pesan apa pun. Aku akan mencari cara.”

Aku menunggu. Satu jam. Dua jam. Tidak ada kabar. Aku hampir gila. Lalu pukul satu pagi, dia mengirimiku pesan.

“Dia sudah tidur. Aku selamat.”

Aku menghela napas lega. Tapi ada sesuatu dalam pesan itu yang membuatku merasa tidak nyaman. Kata “selamat” seperti dia baru lolos dari bahaya. Dan itu benar. Kami bermain dengan api, dan suatu hari kami akan terbakar.

Pertemuan setelah itu berbeda. Vina lebih pendiam, lebih sering melamun. Suatu kali, saat kami duduk di sofa, dia berkata, “Aku takut, Raka.”

“Takut sama apa?”

“Takut ketahuan. Takut semuanya hancur. Takut kehilangan anak-anakku.”

Aku meraih tangannya. “Kalau kamu mau berhenti, aku mengerti.”

Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mau berhenti. Tapi aku juga tidak mau terus begini.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa memeluknya, merasakan tubuhnya yang gemetar di pelukanku.

Malam itu kami tidak bercinta. Kami hanya berbaring, saling berpelukan, dan tidak berkata apa-apa. Aku merasakan napasnya yang perlahan teratur, dan aku tahu dia tertidur. Aku menatap wajahnya yang tenang, dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri: apa yang sebenarnya aku lakukan?

Aku mencintainya? Atau aku hanya terjebak dalam kebiasaan? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku tidak ingin meninggalkannya. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara bertahan.

Keesokan paginya, dia bangun lebih dulu. Dia membuatkan sarapan, telur dadar dan roti bakar, dan kami makan bersama di dapur. Suasananya canggung. Seperti ada yang berubah, tapi tidak ada yang mau mengakuinya.

Saat aku bersiap pulang, dia memegang tanganku. “Raka, aku serius. Aku tidak mau kehilangan kamu.”

Aku mencium keningnya. “Kamu tidak akan kehilangan aku.”

Tapi aku tidak yakin dengan kata-kataku sendiri. Dan dari tatapan matanya, aku tahu dia juga tidak yakin.

Hubungan kami memasuki fase baru. Lebih intens, lebih emosional, lebih rentan. Vina mulai memperkenalkanku pada sisi lain dari hidupnya. Suatu hari, dia mengajakku ke galeri seni, tempat dia menjadi sponsor pameran. Aku berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja yang dia belikan untukku, dan aku merasa seperti orang asing di dunianya. Orang-orang di sana berbicara tentang investasi, tentang properti, tentang liburan di Eropa. Aku hanya diam, mencoba tersenyum, dan berharap tidak ada yang bertanya apa pekerjaanku.

“Ini Raka, keponakanku,” kata Vina pada seorang pria tua berjas mahal.

“Keponakan?” pria itu bertanya, matanya menyipit curiga.

“Iya, dari kampung. Dia sedang kuliah di sini.”

Aku tersenyum kaku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa seperti rahasia yang memalukan. Bukan kekasih, bukan pasangan, hanya “keponakan” yang harus disembunyikan.

Di malam hari, di apartemennya, aku meluapkan kekesalanku. “Kenapa kamu bilang aku keponakan?”

Dia menatapku dengan tenang. “Karena itu yang paling aman. Kamu tidak akan mengerti.”

“Aku tidak bodoh, Vin. Aku tahu ini berbahaya. Tapi setidaknya jangan membuatku merasa seperti barang yang harus disembunyikan.”

Dia mendekat, meraih wajahku. “Kamu bukan barang. Kamu segalanya buat aku. Tapi dunia ini tidak seindah yang kamu kira. Orang-orang akan menghakimi. Aku akan kehilangan segalanya.”

Aku menarik napas panjang. “Lalu kenapa kita masih melakukan ini?”

Dia tersenyum sedih. “Karena aku tidak bisa berhenti.”

Dan itu jawabannya. Sama seperti aku. Kami tidak bisa berhenti. Meski tahu ini salah, meski tahu ini akan berakhir buruk, kami terus berjalan.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur kota, Vina datang ke kosanku. Ini pertama kalinya dia datang ke sini. Dia berdiri di depan pintu, basah kuyup, dengan gaun yang menempel di tubuhnya. Aku segera menariknya masuk.

“Ada apa?” tanyaku, memberinya handuk.

Dia tidak menjawab. Dia hanya memelukku erat, dan aku merasakan tubuhnya gemetar. Bukan karena kedinginan. Tapi karena dia menangis.

“Suamiku tahu,” katanya, suaranya teredam di bahuku.

Jantungku berhenti berdetak. “Apa?”

“Dia menemukan pesan kita. Dia marah. Dia bilang dia akan mengambil anak-anak. Dia bilang dia akan menghancurkan hidupku.”

Aku memeluknya lebih erat. “Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”

Tapi kata-kataku terasa hampa. Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya mahasiswa miskin dengan kosan sempit. Dia adalah wanita kaya dengan hidup yang rumit. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.

Dia tinggal di kosanku malam itu. Kami berbaring di kasur sempitku, dan dia tidur dengan kepala di dadaku. Aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit yang bocor, mendengar suara hujan, dan berpikir tentang apa yang akan terjadi besok.

Pagi harinya, dia bangun lebih dulu. Dia duduk di tepi kasur, menatapku dengan mata yang merah.

“Aku harus pulang,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi.”

“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu.”

Dia menciumku. Ciuman yang panjang, dalam, penuh dengan kesedihan. Lalu dia pergi, dan aku ditinggal sendirian di kosan yang sunyi.

Seminggu berlalu tanpa kabar. Aku mengiriminya pesan, tapi tidak ada balasan. Aku menelepon, tapi tidak diangkat. Aku mulai putus asa. Apakah semuanya berakhir? Apakah dia sudah memilih untuk meninggalkanku?

Lalu suatu malam, pukul sebelas, ponselku berdering. Itu dia.

“Raka, aku di lobi kosanmu. Turun.”

Aku berlari turun tanpa memakai sandal. Dia berdiri di lobi, dengan koper kecil di tangannya. Wajahnya lelah, tapi matanya tegas.

“Aku pergi dari rumah,” katanya.

“Apa?”

“Aku meninggalkan suamiku. Aku meninggalkan semuanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Aku terdiam. Kata-kata itu terlalu besar untuk dicerna. Tapi dia berdiri di depanku, nyata, dan aku tahu ini bukan mimpi.

Aku meraih tangannya. “Ayo naik.”

Kami naik ke kosanku, dan dia duduk di kasur, meletakkan kopernya di lantai. Aku duduk di sampingnya, dan kami saling menatap.

“Kamu yakin?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi aku tidak punya pilihan lain.”

Aku meraih wajahnya, menciumnya. Ciuman yang berbeda. Bukan ciuman nafsu, tapi ciuman janji. Janji bahwa apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya bersama.

Tapi di dalam hatiku, ada suara kecil yang bertanya: apakah ini cinta? Atau hanya pelarian? Dan apakah aku siap untuk konsekuensinya?

Aku tidak tahu jawabannya. Tapi saat dia berbaring di pelukanku, dengan napas yang perlahan teratur, aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Setidaknya untuk malam ini.

Malam itu, kami tidak banyak bicara. Kami hanya berbaring, saling merasakan kehangatan, dan membiarkan waktu berlalu. Di luar, hujan mulai turun lagi, dan suara tetesan air di atap seng seperti musik pengantar tidur.

Vina tertidur lebih dulu. Aku menatap wajahnya yang tenang, dan aku menyadari bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku tidak lagi hanya mahasiswa yang tinggal di kosan. Aku adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih rumit, dan lebih berbahaya.

Dan aku tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.

Yang aku tahu, aku tidak bisa mundur sekarang.

Keesokan paginya, aku bangun dan menemukan Vina sudah duduk di meja belajar, memakai kacamata baca, menatap laptopnya. Rambutnya masih acak-acakan, dan dia memakai kaos oblongku yang kebesaran di tubuhnya. Dia terlihat seperti wanita biasa, bukan tante kaya yang punya apartemen mewah.

“Selamat pagi,” kataku, menggosok mata.

Dia tersenyum. “Selamat pagi. Aku sudah pesan sarapan. Roti dan kopi. Semoga kamu suka.”

Aku duduk di sampingnya. “Kamu sudah kerja sejak kapan?”

“Sejak jam enam. Aku harus membereskan beberapa hal. Rekeningku, surat-surat, dan lain-lain. Aku tidak bisa bergantung pada suamiku lagi.”

Aku mengangguk. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dia terlihat lebih kuat, lebih mandiri. Mungkin meninggalkan suaminya adalah keputusan yang tepat. Atau mungkin dia hanya bersembunyi di balik keberanian palsu.

Tapi aku tidak mau menghakimi. Aku hanya mau mendukung.

“Vin, aku mau bilang sesuatu.”

Dia menatapku, matanya penuh perhatian.

“Aku tidak punya banyak uang. Kosan ini kecil. Hidupku sederhana. Tapi aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu nyaman.”

Dia tertawa pelan. “Raka, aku tidak butuh uangmu. Aku butuh dirimu. Itu saja.”

Dia meraih tanganku, dan untuk sesaat, semuanya terasa baik-baik saja.

Tapi aku tahu ini baru awal. Masih ada suaminya yang marah, masih ada anak-anaknya yang ditinggalkan, masih ada masa depan yang tidak pasti. Tapi saat dia menatapku dengan mata itu, aku lupa semua ketakutan.

Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi. Vina tinggal di kosanku, dan kami menjalani hidup yang sederhana. Dia bangun pagi, bekerja dari laptopnya, sementara aku pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi. Sore harinya, kami memasak bersama, menonton film, atau hanya bercanda di kasur. Malam harinya, kami bercinta dengan penuh gairah, dan aku merasakan cinta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Tapi bayangan masa lalu selalu menghantui. Suatu sore, saat aku pulang dari kampus, aku melihat Vina duduk di tangga kosan, menangis.

“Ada apa?” tanyaku, duduk di sampingnya.

“Anak-anakku,” katanya, suaranya pecah. “Mereka meneleponku. Mereka bilang mereka merindukanku. Aku tidak tahu harus bilang apa.”

Aku memeluknya. “Kamu bisa pulang, Vin. Aku tidak akan marah.”

Dia menggeleng keras. “Tidak. Aku tidak bisa. Jika aku pulang, semuanya akan kembali seperti dulu. Aku akan menjadi boneka lagi.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa memeluknya, berharap pelukanku bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.

Malam itu, kami tidak bercinta. Kami hanya berbaring, dan dia menangis di dadaku sampai tertidur. Aku menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa cinta tidak selalu indah. Kadang cinta adalah pilihan yang menyakitkan.

Tapi aku tidak menyesal. Meski tahu ini akan sulit, meski tahu ini mungkin akan berakhir buruk, aku tetap di sini. Bersamanya.

Dan itu sudah cukup.

Sampai suatu hari, saat aku sedang di kampus, ponselku berdering. Nomor tidak dikenal. Aku mengangkatnya, dan suara pria berat di seberang membuat darahku berhenti mengalir.

“Kamu Raka?”

“Iya. Siapa ini?”

“Ini suami Vina. Aku ingin bertemu denganmu.”



2views

Watch this moment

Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]