Sacred Sins

·

Published 11/6/2026
7views
cover image

Aku selalu bangun sebelum azan Subuh, tapi pagi itu aku sudah terjaga sejak pukul tiga. Bukan karena alarm. Bukan karena mimpi buruk. Hanya karena tubuhku terasa panas, dan aku tidak tahu kenapa.

Aku berbaring di kasur yang terlalu lebar untuk seorang perempuan yang tidur sendiri. Suamiku, Fikri, sudah dua minggu di luar kota untuk proyek jembatan di Kalimantan. Dia insinyur. Pekerjaannya memang sering membawanya pergi, dan aku sudah terbiasa. Setidaknya itu yang selalu aku bilang pada diri sendiri.

Langit-langit kamar berwarna putih tulang. Ada retakan halus di sudut kanan, dekat lampu. Aku menatap retakan itu setiap malam sebelum tidur, seperti membaca ayat yang tidak pernah selesai. Malam ini retakan itu terlihat berbeda. Atau mungkin mataku yang berbeda.

Aku memutar tubuh ke kanan. Ponsel di meja samping menyala. Ada notifikasi dari grup WhatsApp pengajian. Ustadzah Nurul mengirim jadwal kajian mingguan. Aku tidak membukanya. Jari-jariku malah membuka aplikasi lain, yang bahkan tidak aku sadari masih terpasang di ponselku.

Instagram.

Aku jarang membukanya. Akunku hanya berisi foto-foto kegiatan pengajian, resep kue kering, dan sesekali foto bersama Fikri saat kami menghadiri undangan pernikahan. Tapi malam itu, entah kenapa, aku membuka fitur jelajah. Jempolku bergerak sendiri, menggulir layar tanpa tujuan.

Foto demi foto. Makanan. Pantai. Kucing. Perempuan berjilbab sedang tersenyum di kafe. Laki-laki berotot sedang angkat beban.

Aku berhenti.

Bukan karena laki-laki itu. Tapi karena komentar di bawah fotonya. Seorang perempuan menulis, *"Mas Dede kapan ke Solo lagi? Kangen."*

Aku tidak tahu kenapa komentar itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Mungkin karena kata "kangen" ditulis tanpa malu. Mungkin karena aku belum pernah mengucapkan kata itu pada siapa pun selama lima tahun pernikahanku.

Aku mengunci ponsel dan meletakkannya kembali di meja. Tanganku gemetar. Bukan gemetar takut. Lebih seperti gemetar setelah berlari jauh. Aku menutup mata, mencoba mengembalikan ketenangan, tapi yang muncul justru bayangan wajah laki-laki di foto itu. Rahang tegas. Senyum miring. Tatapan yang seolah menembus layar.

Aku bangkit, berwudhu, dan salat Subuh. Dalam sujud, aku berdoa agar Allah menjauhkan bisikan itu. Bisikan yang bahkan belum berbentuk apa-apa. Tapi aku tahu, kadang bisikan paling berbahaya adalah yang belum punya nama.

---

Siangnya, aku mengajar di majelis taklim Al-Hikmah. Tiga puluh perempuan duduk bersila di lantai keramik, mendengarkan aku menjelaskan bab tentang sabar. Aku hafal materi ini di luar kepala. Aku sudah mengajarkannya selama tujuh tahun. Tapi hari itu, kata "sabar" terasa asing di mulutku.

"Ustadzah, sabar itu ada batasnya nggak?" tanya seorang ibu bernama Rina. Dia baru bercerai. Matanya masih bengkak.

Aku tersenyum. "Sabar itu tidak ada batasnya, Bu Rina. Tapi manusia yang punya batas. Kalau sudah lelah, istirahat. Kalau sudah menangis, berhenti. Sabar bukan berarti diam saja saat disakiti."

Aku mendengar suaraku sendiri dan merasa seperti orang asing. Nasihat itu keluar dari mulutku dengan lancar, tapi ada bagian dari diriku yang bertanya, apakah aku sedang menasihati diriku sendiri?

Setelah kajian, aku biasanya pulang langsung. Tapi hari itu aku mampir ke kafe dekat pasar. Sebuah kafe kecil yang jarang aku kunjungi karena Fikri tidak suka aku nongkrong di tempat seperti itu. Katanya, "Nggak pantas untuk seorang ustadzah."

Aku memesan kopi susu dan duduk di sudut. Ada buku di tas saya, kitab tafsir yang sedang aku pelajari. Tapi aku tidak membukanya. Aku hanya menatap jalanan di luar jendela. Motor lewat. Mobil lewat. Orang-orang berjalan tanpa mengenalku.

Dan kemudian aku melihatnya.

Laki-laki itu. Yang ada di foto Instagram semalam. Dia duduk di meja seberang, bersama dua temannya. Dia memakai kemeja putih lengan panjang, digulung sampai siku. Rambutnya sedikit panjang, tidak rapi. Dia tertawa. Tawanya lepas, tanpa beban, seperti orang yang tidak pernah mengenal dosa.

Aku menunduk cepat. Jantungku berdebar kencang. Ini kebetulan yang terlalu aneh. Aku bahkan tidak tahu namanya. Aku hanya tahu dia dipanggil "Mas Dede" oleh seseorang di kolom komentar.

Aku mencoba mengalihkan perhatian ke buku tafsir. Membuka halaman satu. Membaca satu baris. Tidak masuk. Aku membaca lagi. Masih tidak masuk.

"Apa kursi ini kosong?"

Suaranya berat, tapi lembut. Aku mendongak. Dia berdiri di depanku, memegang cangkir kopi. Senyum miring yang sama seperti di foto. Tapi kali ini, senyum itu nyata. Hidup. Dan diarahkan padaku.

"Eh, iya. Kosong," jawabku. Suaraku serak. Aku berdehem.

Dia duduk. Tidak di seberang meja, tapi di kursi sebelahku. Terlalu dekat. Aku bisa mencium wangi parfumnya. Kayu manis dan tembakau. Wangi yang tidak pantas aku kenali.

"Maaf ganggu. Saya Dede." Dia mengulurkan tangan.

Aku ragu. Sebagai ustadzah, aku tidak biasa bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahram. Tapi tangannya tetap terulur. Dan entah kenapa, aku menyambutnya. Kulitnya hangat. Genggamannya mantap, tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat.

"Tiara," jawabku.

"Tiara," ulangnya, seolah mencicipi namaku. "Cantik."

Aku menarik tanganku. "Saya sedang membaca."

Dia melirik buku di mejaku. "Tafsir Al-Misbah. Berat."

"Kamu tahu?"

"Saya pernah kuliah di Al-Azhar. Dulu."

Aku menatapnya. Laki-laki dengan kemeja digulung, wangi tembakau, dan tawa lepas, ternyata pernah belajar di Al-Azhar. Dunia memang tidak pernah masuk akal.

"Kenapa berhenti?" tanyaku.

Dia mengangkat bahu. "Banyak hal. Hidup tidak selalu sesuai rencana."

Kami bicara selama hampir satu jam. Tentang kitab. Tentang Mesir. Tentang kopi yang terlalu manis. Dia tidak pernah bertanya statusku. Aku tidak pernah menyebut Fikri. Dan itu terasa seperti kejahatan kecil yang aku lakukan pada diriku sendiri.

Ketika aku bangkit untuk pulang, dia berkata, "Semoga kita ketemu lagi, Ustadzah."

Aku terkejut. "Kamu tahu saya ustadzah?"

Dia tersenyum. "Semua orang di kota ini tahu Ustadzah Tiara. Tapi saya tidak menyangka akan sesantai ini ngobrol sama kamu."

Aku tidak menjawab. Aku hanya berjalan keluar, menyalakan motor, dan pulang. Tapi sepanjang jalan, aku merasa ada yang berubah. Bukan pada dunia. Pada diriku.

---

Malam itu, aku membuka Instagram lagi. Aku mencari namanya. Dede Pratama. Fotonya banyak. Ada dia di pantai. Di gunung. Di depan masjid. Di bar. Semua dalam satu akun. Seperti orang yang tidak takut pada penilaian siapa pun.

Aku menekan tombol follow. Lalu cepat-cepat membatalkannya.

Tanganku menutup mulut. Apa yang sedang aku lakukan?

Aku meletakkan ponsel dan menatap retakan di langit-langit. Retakan itu masih sama. Tapi malam ini, aku melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Bukan kerusakan. Tapi pintu.

Dan pintu itu, aku takut untuk membukanya. Tapi aku juga takut untuk membiarkannya tertutup selamanya.



7views

Watch this moment

Turn the current scene into a cinematic Live Chapter — what you watch becomes the story's next part.

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]