Benturan Desa

·

Published 9/9/2026
5views
cover image

# Bab 1: Kedatangan

Hujan deras mengguyur kota sejak subuh. Ardhan berdiri di jendela ruang kerjanya, memandangi halaman belakang yang basah kuyup. Kopi hitam di tangannya sudah dingin, tapi dia tidak peduli. Pikirannya melayang pada Inem yang sejak semalam terus menangis di dapur.

Musibah itu datang tiba-tiba. Tanah longsor di desa terpencil tempat asal pembantunya. Rumah-rumah hancur. Sawah-sawah terkubur. Dan Inem tidak bisa pulang karena Emilia, istrinya, sedang di luar negeri dan rumah ini butuh diurus.

"Pak, saya mohon." Inem berlutut di hadapannya tadi pagi. Air matanya membasahi lantai keramik. "Suami saya Joko, anak saya Afif. Mereka kehilangan segalanya. Bisa Bapak beri mereka pekerjaan di sini? Apa saja. Saya janji mereka tidak akan merepotkan."

Ardhan menunduk memandangi perempuan paruh baya itu. Tubuhnya kurus kering oleh kerja keras. Tangannya kasar karena membersihkan rumahnya setiap hari selama lima tahun terakhir. Dia mengenakan seragam pembantu yang selalu rapi, rambutnya disanggul sederhana, dan matanya merah sembab.

"Berapa orang?" suaranya datar.

"Dua, Pak. Joko dan Afif. Mereka bisa bantu di kebun, bersih-bersih, apa saja."

Ardhan menghela napas panjang. Rumahnya memang besar. Dua lantai dengan halaman luas, kolam renang di belakang, dan taman yang selama ini dirawat tukang yang datang seminggu sekali. Mungkin ada gunanya tenaga tambahan.

"Suruh mereka datang."

Inem menangis lagi, tapi kali ini karena lega. Dia mencium tangan Ardhan berulang kali sebelum berlari ke dapur untuk menelepon.

Sekarang, Ardhan menunggu. Arga, anaknya, masih di sekolah. Kelas 3 SMA, katanya ada les tambahan sampai sore. Emilia baru akan pulang dua minggu lagi dari konferensi di Singapura. Rumah terasa sepi, seperti biasa.

Dia mendengar suara Inem dari lantai bawah. Teriakan kegirangan bercampur isak tangis. Mereka sudah sampai.

Ardhan meletakkan cangkir kopinya di meja. Dia berjalan menuruni tangga dengan langkah santai. Kemeja hitamnya ketat di dada, lengan digulung hingga siku. Celana bahan gelapnya pas di pinggang. Penampilannya selalu dijaga, karena dia percaya penampilan adalah senjata pertama dalam setiap pertemuan.

Di pintu belakang, Inem memeluk dua laki-laki. Satu tinggi besar dengan kulit coklat terbakar matahari. Bahunya lebar, otot lengannya menonjol di balik kemeja lusuh yang tampaknya sudah bertahun-tahun dipakai. Wajahnya persegi, rahang kokoh, dengan mata yang tampak bingung tapi penuh harap. Itu pasti Joko.

Yang satu lagi lebih muda. Mungkin seusia Arga. Tubuhnya juga kekar, tapi tidak setinggi Joko. Wajahnya bulat, polos, dengan mata besar yang berkedip-kedip melihat sekeliling rumah. Dia memegang tas kain kecil yang isinya nyaris tidak ada. Afif.

"Pak Ardhan." Inem menepi, menarik kedua laki-laki itu ke depan. "Ini Joko, suami saya. Ini Afif, anak kami."

Joko menunduk dalam. "Selamat siang, Pak." Suaranya berat, dalam, dengan logat desa yang kental. Dia tidak berani menatap Ardhan.

Afif ikut menunduk. "Selamat siang, Om." Suaranya lebih tinggi, masih seperti anak-anak meskipun tubuhnya sudah dewasa.

Ardhan mengamati mereka. Joko tingginya sekitar 180 cm, dengan bahu selebar bingkai pintu. Kulitnya gelap merata, kontras dengan kemeja putih lusuhnya yang sudah menguning di ketiak. Otot dadanya terlihat jelas meskipun baju itu longgar. Tangannya besar, penuh kapalan. Kukunya pendek dan kotor.

Afif lebih pendek beberapa senti, mungkin 170 cm. Tapi tubuhnya juga padat berisi. Pekerjaan di desa membuatnya kuat. Wajahnya masih muda, polos, belum terkikis oleh kerasnya hidup.

"Kalian akan tinggal di sini," kata Ardhan. Suaranya tegas, otoriter. "Inem akan menunjukkan kamar kalian. Mulai besok, kalian bekerja. Joko urus kebun dan perbaikan rumah. Afif bantu Inem di dapur dan bersih-bersih."

"Terima kasih, Pak." Joko mengangkat kepala, matanya bertemu dengan Ardhan untuk pertama kalinya.

Ada sesuatu di mata Joko. Sesuatu yang murni, tanpa curiga. Mata itu tidak mencari celah, tidak menghitung keuntungan. Hanya rasa syukur yang tulus.

Ardhan tersenyum tipis. Dia suka orang yang mudah dibaca.

"Inem, antar mereka ke kamar belakang. Beri mereka pakaian kerja dan jelaskan peraturan rumah."

"Ini, Bu." Inem menggandeng suami dan anaknya menuju lorong belakang.

Ardhan memandangi punggung lebar Joko yang berjalan pergi. Kemeja lusuh itu menempel di kulit basah karena hujan. Otot punggungnya bergerak seirama langkah. Pekerja kasar sejati, pikir Ardhan. Belum terkontaminasi.

Dia tersenyum lagi.

---

Hari pertama berlalu tanpa insiden. Joko dan Afif bekerja keras. Joko membersihkan selokan yang mampet, memotong rumput liar di taman, dan memperbaiki pagar kayu yang mulai lapuk. Afif mengepel lantai, mencuci piring, dan belajar cara menggunakan mesin cuci.

Mereka makan di dapur bersama Inem, tidak berani duduk di meja makan utama. Mereka tidur di kamar pembantu yang sempit, bercat putih polos, hanya berisi dua dipan tipis dan satu lemari kecil.

Malam harinya, Ardhan duduk di ruang kerjanya. Arga sudah pulang dan mengunci diri di kamar seperti biasa. Emilia menelepon sebentar, bertanya tentang rumah, lalu menutup telepon karena ada rapat.

Ardhan membuka laptop, tapi matanya terus melayang ke jendela. Dari sini dia bisa melihat taman belakang yang remang-remang diterangi lampu taman. Dan di sana, duduk di bangku batu dekat kolam, Joko sedang memandangi bintang.

Hujan sudah reda. Langit bersih, bulan sabit menggantung rendah.

Ardhan turun. Langkahnya sengaja dibuat pelan. Dia keluar melalui pintu belakang, menyusuri jalan setapak berbatu. Joko tidak mendengar kedatangannya sampai Ardhan berdiri tepat di sampingnya.

"Tidak bisa tidur?"

Joko tersentak. Dia menoleh, matanya melebar. "Pak Ardhan. Maaf, saya hanya..."

"Tidak apa-apa." Ardhan duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya setengah meter. "Pertama kali di kota?"

Joko mengangguk. "Kampung saya hancur, Pak. Semua hilang." Suaranya bergetar. "Saya tidak tahu harus bagaimana."

Ardhan menatap profil Joko. Hidung mancung, bibir agak tebal, bulu mata panjang. Wajah yang kasar tapi punya daya tarik tertentu. Mungkin karena kejujurannya.

"Kalian bisa tinggal di sini selama yang kalian butuh," kata Ardhan. "Kamu dan Afif. Inem sudah seperti keluarga."

"Terima kasih, Pak." Joko menunduk. "Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."

"Kamu bisa bekerja keras. Itu sudah cukup."

Joko mengangguk. Tapi matanya masih kosong, memandangi kolam yang airnya berkilau diterangi lampu.

Ardhan mengamati tangan Joko yang bertumpu di lutut. Besar, kuat, dengan urat yang menonjol. Tangan yang terbiasa mencangkul, memikul, membangun. Tangan yang tidak pernah mengenal krim atau sarung tangan.

"Kamu punya istri yang baik, Joko. Inem perempuan setia."

"Ya, Pak. Saya beruntung." Joko tersenyum, tapi senyumnya hambar. "Dia yang menghidupi kami selama ini. Saya hanya petani, tidak punya apa-apa."

"Tapi kamu kuat. Kamu bisa bekerja."

"Betul, Pak. Saya bisa kerja apa saja."

Ardhan menyandarkan punggung di bangku. Matanya menyipit. "Apa saja?"

Joko menoleh. Tatapannya polos. "Apa saja, Pak. Saya tidak takut kotor, tidak takut capek. Yang penting halal."

Ardhan tersenyum. "Bagus."

Mereka duduk diam beberapa saat. Angin malam berhembus, membawa bau tanah basah dan rumput. Joko menggigil sedikit. Bajunya masih tipis, tidak cukup hangat untuk malam kota yang dingin.

"Kamu kedinginan."

"Tidak, Pak. Saya biasa."

Tapi Ardhan sudah berdiri. "Tunggu di sini."

Dia masuk ke rumah, naik ke lantai dua, mengambil jaket tebal dari lemari. Jaket itu mahal, bahan wol impor. Dia turun lagi, melemparkan jaket itu ke pangkuan Joko.

"Pakai."

Joko menatap jaket itu, lalu menatap Ardhan. Matanya berkaca-kaca. "Pak, ini terlalu..."

"Pakai. Atau kamu mau masuk angin dan tidak bisa bekerja besok?"

Joko menurut. Dia mengenakan jaket itu, dan tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Tapi dia tersenyum. Senyum tulus yang membuat Ardhan merasakan sesuatu di dadanya. Sesuatu yang hangat, tapi juga berbahaya.

"Terima kasih, Pak."

"Panggil saya Ardhan. Tidak perlu formal."

Joko mengerjap. "Tapi, Pak..."

"Kita sama-sama laki-laki dewasa. Tidak perlu sungkan."

Joko diam. Dia tidak mengerti. Di desanya, majikan adalah majikan. Tidak ada yang namanya panggil nama.

Tapi dia mengangguk. "Baik, Pak... Ardhan."

Ardhan tersenyum. Dia duduk lagi, kali ini lebih dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan.

"Apa yang kamu pikirkan, Joko?"

"Tentang masa depan, Pak. Tentang Afif. Dia masih muda, harus sekolah. Tapi saya tidak punya biaya."

"Afif bisa sekolah di sini. Ada SMA swasta dekat sini. Saya bisa atur."

Joko menoleh cepat. "Pak, sungguh?"

"Sungguh. Tapi ada syaratnya."

"Apa saja, Pak. Saya akan lakukan apa saja."

Ardhan menatap mata Joko. Mata yang jujur, polos, tanpa curiga. Mata yang mudah dimanipulasi.

"Kamu harus percaya padaku. Sepenuhnya."

Joko mengangguk tanpa ragu. "Saya percaya, Pak. Bapak sudah baik pada kami."

Ardhan tersenyum. Tangannya bergerak, menyentuh bahu Joko. Sentuhan ringan, hampir tidak berarti. Tapi Joko menegang.

"Tenang," bisik Ardhan. "Kamu aman di sini."

Joko bernapas lebih cepat. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi tubuhnya merespons dengan cara yang aneh. Jantungnya berdetak lebih kencang. Kulitnya merinding.

"Pak Ardhan..."

"Sst." Ardhan mendekatkan wajahnya. Hampir menempel di telinga Joko. "Kamu bau keringat. Kamu harus mandi."

Joko tersipu. "Maaf, Pak. Saya belum sempat."

"Tidak apa-apa. Bau itu alami." Ardhan menarik napas dalam. "Bahkan, saya suka."

Joko tidak mengerti maksudnya. Tapi dia tidak berani bertanya.

Ardhan berdiri. "Sudah malam. Kamu harus istirahat. Besok kerja lagi."

"Ya, Pak." Joko berdiri, jaket masih melilit di tubuhnya. "Selamat malam."

"Selamat malam, Joko."

Ardhan memandangi Joko berjalan ke kamar pembantu. Punggung lebar itu bergerak perlahan, jaket mahal berkibar ditiup angin.

Dia tersenyum. Senyum predator.

---

Tiga hari berlalu. Joko dan Afif mulai terbiasa dengan rutinitas. Mereka bangun jam lima pagi, bekerja sampai malam, tidur di kamar sempit. Inem senang karena suami dan anaknya ada di dekatnya.

Tapi Ardhan mulai sering mencari Joko. Kadang di taman, kadang di bengkel belakang, kadang di dapur. Dia selalu punya alasan. Ingin diskusi tentang perbaikan rumah. Ingin minta tolong angkat barang berat. Ingin teman bicara.

Joko selalu menurut. Dia tidak curiga. Baginya, Ardhan adalah majikan yang baik. Memberi pekerjaan, tempat tinggal, bahkan jaket mahal.

Suatu sore, Ardhan memanggil Joko ke ruang kerjanya. Ini pertama kalinya Joko masuk ke ruangan itu. Meja besar dari kayu jati, rak buku penuh, karpet tebal, dan AC yang dingin.

"Tutup pintunya."

Joko menutup pintu. Dia berdiri di depan meja, tangan di samping, seperti prajurit.

"Duduk."

Joko duduk di kursi tamu. Kaku, tidak nyaman.

Ardhan berjalan ke belakang meja, duduk di kursi kerjanya yang besar. Matanya menatap Joko dari atas ke bawah. Laki-laki desa itu masih mengenakan kemeja lusuh, tapi kali ini sudah dicuci. Celana kerjanya masih kotor di lutut karena baru saja membersihkan selokan.

"Kamu bekerja keras, Joko. Saya suka."

"Terima kasih, Pak."

"Tapi ada satu hal yang harus kita bicarakan."

Joko menegang. "Ada masalah, Pak?"

"Bukan masalah. Hanya... peraturan rumah." Ardhan menyandarkan punggung. "Di rumah ini, ada aturan yang harus diikuti. Salah satunya, semua karyawan harus bersih. Mandi setiap hari. Ganti baju bersih."

Joko mengangguk. "Saya sudah mandi, Pak."

"Tapi bajumu masih kotor."

Joko menunduk, melihat lutut celananya. "Maaf, Pak. Saya baru selesai bersihkan selokan."

"Tidak apa-apa. Tapi mulai besok, kamu harus ganti baju setiap habis kerja. Ada baju kerja yang disediakan."

"Baik, Pak."

Ardhan berdiri. Dia berjalan mengelilingi meja, berhenti di samping Joko. Tangannya menyentuh bahu Joko, meraba otot yang keras.

"Kamu kuat, Joko."

Joko menegang lagi. Sentuhan itu aneh. Tidak seperti sentuhan laki-laki biasanya.

"Saya hanya pekerja biasa, Pak."

"Tidak. Kamu istimewa." Ardhan menarik tangannya, berjalan ke jendela. "Kamu tahu, saya butuh seseorang yang bisa dipercaya. Bukan hanya untuk kerja kasar. Tapi untuk hal-hal lain."

"Apa itu, Pak?"

Ardhan berbalik. Matanya tajam. "Kamu akan tahu nanti. Tapi untuk sekarang, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya."

"Apa saja, Pak."

"Buka bajumu."

Joko terkejut. "Pak?"

"Buka bajumu. Saya ingin melihat tubuhmu."

Joko bingung. Di desanya, tidak ada majikan yang minta lihat tubuh karyawan. Tapi Ardhan adalah majikannya. Dia yang memberi pekerjaan, tempat tinggal, harapan.

Joko menurut.

Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing kemejanya. Satu per satu. Kemeja itu jatuh ke lantai. Tubuhnya terbuka. Kulit coklat gelap, otot dada yang bidang, perut berotot dengan garis rambut tipis dari pusar ke bawah. Bekas luka di sana-sini, kenangan kerja keras di desa.

Ardhan menatap. Matanya menyala.

"Kamu punya tubuh yang indah, Joko."

Joko tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya berdiri, setengah telanjang, di depan majikannya.

Ardhan mendekat. Jarak mereka hanya beberapa senti. Dia bisa mencium bau sabun murahan di kulit Joko. Tapi di bawahnya, ada bau alami yang membuatnya tergoda.

"Saya ingin kamu melakukan sesuatu yang lain."

"Apa, Pak?"

Ardhan mengangkat tangan, menyentuh dada Joko. Jari-jarinya meraba otot yang keras. Joko menggigil.

"Kamu akan menjadi milik saya, Joko."

Joko tidak mengerti. Tapi tubuhnya merespons. Putingnya mengeras. Kulitnya merinding. Dan di bawah celananya, sesuatu mulai bangkit.

"Tapi, Pak... saya punya istri."

"Kamu juga punya majikan. Dan majikanmu membutuhkanmu."

Joko diam. Pikirannya kacau. Ini salah. Ini dosa. Tapi mulutnya tidak bisa berkata tidak.

Ardhan tersenyum. Dia tahu dia sudah menang.

"Kamu akan melakukan apa yang saya suruh. Dan sebagai imbalannya, Afif akan sekolah. Kamu akan dapat gaji lebih. Kalian bisa hidup layak."

Joko menelan ludah. Air matanya hampir jatuh.

"Baik, Pak."

---

Malam itu, di kamar pembantu, Joko tidak bisa tidur. Afif sudah terlelap di dipan sebelah, mendengkur pelan.

Joko memandangi langit-langit. Pikirannya penuh dengan apa yang terjadi di ruang kerja. Sentuhan Ardhan. Perintahnya. Dan bagaimana tubuhnya merespons.

Ini salah. Ini dosa. Tapi kenapa dia merasa... ingin lagi?

Tangannya bergerak ke bawah. Menyentuh dirinya sendiri. Membayangkan tangan Ardhan yang halus, wangi parfum mahal, suara berat yang berbisik di telinga.

Dia mengerang pelan.

Di dipan sebelah, Afif bergerak.

"Yah? Kenapa?"

Joko kaget. Dia menarik tangannya cepat. "Tidak apa-apa. Tidur lagi."

Tapi Afif sudah bangun. Matanya mengantuk, tapi dia melihat sesuatu di wajah ayahnya.

"Yah, Bapak kenapa? Dari tadi gelisah."

Joko diam. Dia tidak bisa bilang. Bagaimana mungkin dia bilang pada anaknya bahwa dia baru saja menjadi mainan seks majikannya?

"Tidak apa-apa, Fif. Bapak cuma... kepikiran masa depan."

Afif duduk. Wajahnya masih polos. "Aku juga, Yah. Tapi Om Ardhan baik, kan? Dia kasih kita kerja, tempat tinggal."

"Ya. Dia baik."

Tapi di dalam hati, Joko tahu. Kebaikan Ardhan tidak gratis.

---

Dua minggu berlalu. Ardhan semakin sering memanggil Joko. Setiap kali, ada perintah baru. Buka baju. Berlutut. Biarkan aku menyentuhmu.

Joko menurut. Setiap kali, dia merasa bersalah. Tapi setiap kali, dia juga merasa ketagihan.

Sentuhan Ardhan. Wanginya. Suaranya. Cara dia memuji tubuh Joko. Cara dia membuat Joko merasa diinginkan.

Ini dosa. Tapi dosa yang manis.

Suatu malam, Ardhan memanggil Joko ke kamar tidurnya. Kamar utama di lantai dua. Tempat tidur besar, sprei sutra hitam, lampu temaram.

"Kamu tahu apa yang saya mau."

Joko mengangguk. Dia melepas bajunya. Celananya. Hanya menyisakan celana dalam.

Ardhan duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap Joko dengan lapar.

"Kemari."

Joko berjalan mendekat. Lututnya gemetar.

Ardhan meraih tangannya, menarik Joko ke pangkuannya. Joko duduk di atas paha Ardhan, tubuh mereka berdekatan.

"Kamu belajar cepat," bisik Ardhan. "Saya suka."

Joko tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata, merasakan tangan Ardhan merayap di punggungnya.

"Tapi saya ingin lebih."

Joko membuka mata. "Lebih, Pak?"

"Ya. Saya ingin kamu milik saya sepenuhnya."

Ardhan mendorong Joko ke tempat tidur. Tubuh Joko jatuh, punggung menyentuh sprei sutra yang dingin. Ardhan di atasnya, menatapnya dari atas.

"Kamu takut?"

Joko menggeleng. Tapi nyatanya, dia takut. Takut pada apa yang dia rasakan. Takut pada seberapa jauh dia akan pergi.

"Bagus."

Ardhan menunduk, bibirnya menyentuh leher Joko. Joko menggigil. Tangan Ardhan meraba dadanya, memilin puting yang sudah mengeras.

Joko mengerang.

"Keras," bisik Ardhan. "Kamu suka, kan?"

Joko tidak bisa menjawab. Tapi tubuhnya sudah menjawab. Ereksinya keras, menekan celana dalam.

Ardhan turun. Bibirnya menyusuri dada Joko, perutnya, sampai ke pinggang. Jari-jarinya mengait celana dalam Joko, menariknya turun.

Joko menahan napas.

Ardhan menatap kemaluan Joko yang sudah tegang. Ujungnya sudah basah.

"Cantik," bisiknya. Lalu dia menunduk, dan Joko merasa kehangatan di sekitar dirinya.

Dia mengerang keras. Tangannya meraih rambut Ardhan, tapi tidak berani menarik. Dia hanya diam, merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Ini dosa. Ini salah. Tapi kenapa terasa begitu baik?

---

Sementara itu, di kamar lain, Afif juga tidak bisa tidur. Dia mendengar suara dari kamar utama. Suara erangan. Suara desahan. Dia tidak mengerti apa itu.

Tapi tubuhnya merespons dengan cara yang aneh.

Dia memejamkan mata, membayangkan sesuatu. Sesuatu yang tidak dia mengerti. Tapi membuatnya merasa panas.

Di sekolah, dia mulai dekat dengan Arga. Anak majikan yang seusianya. Arga baik padanya. Mengajarinya cara pakai komputer, cara pakai ponsel, cara bicara yang sopan.

Tapi ada sesuatu di mata Arga. Sesuatu yang mirip dengan mata ayahnya.

Suatu hari, Arga mengajak Afif ke kamarnya. Kamar yang luas, penuh poster dan perangkat elektronik.

"Duduklah."

Afif duduk di kursi. Arga duduk di tempat tidur, menghadapnya.

"Kamu suka di sini?"

"Ya, Mas. Om Ardhan baik."

Arga tersenyum. "Ayahku memang baik. Tapi dia juga punya... kebutuhan."

Afif bingung. "Kebutuhan, Mas?"

"Ya. Kebutuhan yang harus dipenuhi." Arga berdiri, berjalan mendekat. "Kamu mau bantu aku?"

"Apa saja, Mas."

Arga tersenyum. Senyum yang sama dengan ayahnya.

"Buka bajumu."

Afif terkejut. "Mas?"

"Buka. Aku ingin lihat tubuhmu."

Afif bingung. Tapi Arga adalah anak majikan. Anak majikan yang baik padanya.

Dia menurut.

Kemejanya jatuh. Tubuh mudanya terbuka. Kulit coklat, otot yang mulai terbentuk, dada bidang khas pekerja desa.

Arga menatap. Matanya menyala.

"Kamu cantik, Fif."

Afif tersipu. "Mas, ini aneh."

"Tidak aneh. Ini... perintah."

Afif diam. Perintah. Kata itu membuatnya menurut.

Arga mendekat. Tangannya menyentuh dada Afif. Afif menggigil.

"Kamu suka?"

Afif tidak tahu. Tapi sentuhan itu membuatnya merasa aneh. Jantungnya berdetak kencang. Kulitnya merinding.

"Aku... tidak tahu, Mas."

"Kamu akan tahu."

Arga mendorong Afif ke tempat tidur. Tubuh mereka berdekatan. Nafas Arga hangat di leher Afif.

"Kamu percaya padaku?"

Afif mengangguk.

"Bagus. Karena mulai sekarang, kamu milikku."

Afif memejamkan mata. Air matanya mengalir. Tapi di suatu tempat di dalam dirinya, ada sesuatu yang bangkit. Sesuatu yang membuatnya ingin lebih.

---

Minggu-minggu berlalu. Joko dan Afif berubah.

Mereka tidak lagi polos. Mata mereka tidak lagi bersih. Mereka telah melihat sisi gelap dunia yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tapi mereka juga ketagihan.

Setiap malam, Joko dipanggil ke kamar Ardhan. Setiap siang, Afif dipanggil ke kamar Arga. Mereka belajar. Mereka mempraktikkan. Dan perlahan, mereka mulai menikmati.

Suatu malam, Joko kembali ke kamar setelah "sesi" dengan Ardhan. Afif sudah di sana, duduk di dipan, menatap kosong.

"Yah."

"Fif."

Mereka saling memandang. Ada rasa malu. Ada rasa bersalah. Tapi ada juga sesuatu yang lain.

"Yah, aku..." Afif berhenti. "Aku merasa aneh."

Joko duduk di samping anaknya. "Ayah juga."

"Mereka... menyentuh kita."

"Iya."

"Dan aku... suka."

Joko memejamkan mata. Kata-kata itu menusuk hatinya. Tapi dia juga merasakan hal yang sama.

"Ayah juga."

Afif menangis. Joko memeluknya. Mereka berdua menangis, berpelukan di kamar sempit itu.

Tapi di dalam, mereka tahu. Mereka sudah berubah. Dan tidak ada jalan kembali.

---

Malam semakin larut. Joko dan Afif masih terjaga. Mereka duduk berdua di dipan, tubuh saling bersandar.

"Yah, apa yang kita lakukan salah?"

Joko diam. Pertanyaan itu sulit. Di desa, mereka diajarkan bahwa hubungan laki-laki dengan laki-laki adalah dosa. Tapi di sini, di kota, semuanya terasa berbeda.

"Ayah tidak tahu, Fif."

"Tapi kenapa rasanya... enak?"

Joko tidak bisa menjawab. Karena dia juga merasakan hal yang sama.

Mereka diam. Angin malam berhembus melalui jendela yang retak. Dingin, tapi tidak lebih dingin dari hati mereka.

"Yah, aku mau tidur."

"Tidurlah."

Afif berbaring. Joko tetap duduk, memandangi anaknya yang mulai terlelap.

Dia memikirkan Ardhan. Sentuhannya. Wanginya. Cara dia membuat Joko merasa diinginkan.

Dia memikirkan Emilia, istrinya, yang tidak tahu apa-apa.

Dia memikirkan Inem, yang bekerja keras untuk mereka.

Dia memikirkan Afif, yang sekarang juga terlibat.

Air matanya jatuh.

Tapi di bawah semua rasa bersalah, ada rasa lain. Rasa yang membuatnya ingin kembali ke kamar Ardhan. Rasa yang membuatnya ingin merasakan lagi.

Dia mengutuk dirinya sendiri. Tapi dia tahu, besok malam, dia akan kembali.

---

Di kamar utama, Ardhan duduk di tepi tempat tidur. Dia tersenyum, memikirkan Joko. Laki-laki desa itu begitu polos, begitu mudah dibentuk.

Ponselnya berdering. Emilia.

"Sayang, aku pulang besok."

Ardhan mengerutkan dahi. "Besok? Bukannya dua minggu lagi?"

"Acara selesai lebih cepat. Aku rindu kamu."

Ardhan diam. Kedatangan Emilia akan mengacaukan rencananya.

"Sayang? Kamu di sana?"

"Aku di sini. Baiklah, aku jemput kamu di bandara."

"Terima kasih. Aku cinta kamu."

"Aku juga."

Ardhan menutup telepon. Dia memandangi langit-langit.

Emilia pulang. Ini akan rumit.

Tapi dia sudah punya rencana. Dia selalu punya rencana.



5views

Comments

Sign in to join the conversation.

No comments yet. Be the first to share your thoughts.

Disclaimer

This is a work of fiction, assisted by artificial intelligence. Any names or characters, businesses or places, events or incidents, are fictitious. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Content Removal Policy

  • Users may report content that may be illegal or violates our Standards.
  • All reported complaints will be reviewed and resolved within seven business days.
  • Review Process: Our team will assess the reported content against our guidelines.
  • Appeals: If you disagree with a decision, you may appeal within 14 days of notification.
  • Potential outcomes include: content removal, account warning, or no action if no violation is found.

To report content, email us at [email protected]